
Rumah sakit
Louise langsung di bawa ke rumah sakit terdekat, begitu juga dengan putri nya yang terdiam walaupun sebelum nya sempat menjerit.
Bianca tak bertanya apapun kecuali terus menerus menyebut sang ayah. Mencari pria yang membesarkan nya selama ini terus menerus.
Saudara kembar gadis itu langsung datang, ia melihat luka lecet di seluruh tubuh adik nya serta kepala yang terbentur aspal karna melompat saat mobil melaju tak terkendali.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya nya yang menatap dengan khawatir.
"Hum?" Bianca menoleh, ia baru kedua kali nya bertemu lagi dengan paman nya itu.
"Lagi pula aku tidak luka berat," jawab Louise lirih sembari membuang wajah nya dari mata sang kakak.
"Tapi ini bukan masalah kecil," ucap nya pada sang adik.
Louise mengernyit, ia menatap sang kakak yang tampak gelisah.
"Salah satu penjaga yang berada di dekat mobil mu pingsan," ucap nya pada saudari kembar nya.
"Pingsan?" Louise mengulang pertanyaan sang kakak.
"Hm, seperti nya ada menembak nya dengan bius." ucap nya pada sang adik.
"Terus yang lain?" tanya nya mengernyit.
"Yang satu lagi masih di ruang operasi, leher nya di tikam." jawab Louis sembari membuang napas nya lirih.
Louise diam tak mengatakan apapun lagi, berarti yang menelpon nya untuk keluar saat ia masih mengemudi bukan dari pengawal yang di berikan sang kakak melainkan pengawal dari ayah gadis kecil yang terlihat terluka itu.
"Selain aku apa ada kecelakaan lain?" tanya nya pada sang kakak.
Louis mengangguk atas pertanyaan tersebut, "Ada satu mobil lagi yang kecelakaan, seperti nya tabrak lari." ucap Louis lirih.
"Jangan beri tau Zayn," Louise menatap sang kakak dengan harapan pria itu akan menuruti nya.
"Kenapa? Dia harus tau kan?" tanya Louis yang tentu mempunyai pendapat yang berbeda.
"Dia sekarang masih di L.A kau mau dia kembali ke sini berulang kali?!" tanya gadis itu yang tau tunangan nya ke luar negeri untuk beberapa hari.
"Tapi kau juga harus memb-"
Brak!
"Daddy!"
Bianca langsung memanggil sang ayah begitu pintu ruangan itu terbuka, ia tak mengerti perdebatan ibu dan paman nya namun ia yang ia tau ia senang karna sudah melihat sang ayah.
James langsung menggendong tubuh mungil itu dalam dekapan nya dan melihat ke arah wanita yang penuh dengan luka di tubuh nya itu walau sudah mendapatkan pengobatan.
"Siapa yang memanggil nya ke sini?" Louis menatap tajam ke arah sang adik.
"Dia tanya ayah nya terus," jawab Louise sembari membuang wajah nya tak melihat ke arah saudara kembar nya.
Louis membuang napas nya dengan kasar seperti tak menyukai kehadiran pria itu.
"Kalau urusan mu sudah selesai silahkan keluar," ucap nya yang tak menerima kehadiran ayah dari keponakan nya itu.
James diam, ia masih tak mengeluarkan kata apapun namun terlihat jika keringat menetes di dahi nya karna berlari datang ke tempat itu.
"Bian sama Mommy dulu ya?" ucap nya yang menurunkan putri kecil nya dan menatap ke arah Louis.
"Bicara dengan ku, kau tidak mau anak kecil mendengar kata-kata yang buruk kan?" ucap nya dengan suara yang pelan agar putri nya tak mendengar.
Louise diam tak mengatakan apapun kecuali merasakan udara yang berbeda dari sang kakak dan pria yang merupakan cinta pertama nya itu.
"Myy? Sakit Myy?" tanya Bianca yang langsung memecah konsentrasi Louise dan menatap ke arah wajah yang bulat dan polos itu.
Louis menoleh ke arah anak kecil yang tengah menatap seseorang yang di balut perban.
Ia tak menjawab namun ia beranjak keluar dan membuat pria yang berada di belakang nya mengikuti nya.
"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya nya menatap ke arah pria itu.
"Akan ada yang mengincar dia jadi-"
"Siapa? Louise? Mengincar? Dari mana kau tau?" potong Louis dengan sinis.
Tak ada jawaban, tentu ia tak bisa menjawab jika mungkin apa yang baru saja terjadi adalah peringatan untuk nya.
"Dia hanya menemui hal buruk saat bersama mu, kalau memang ada yang mengincar nya aku harap itu tidak ada hubungan nya dengan mu." ucap Louis pada pria itu.
James masih diam tak bisa memberikan penjelasan apapun, "Kau tau? Kau itu seperti membawa sial di hidup adik ku."
"Dia memberi mu flasdisk nya?" tanya James yang sangat berbeda dari inti pembicaraan mereka saat ini.
"Ya," jawab Louis singkat dan menarik napas nya, "Aku memang tidak melakukan pekerjaan yang bersih tapi juga tidak sekotor yang kau lakukan." sambung nya yang sudah tau apa yang di lakukan pria itu.
James tak menyangkal hal itu sama sekali, "Jadi karna kau sudah memegang nya seharusnya kau tidak perlu terlalu mewaspadai ku kan?" tanya pria itu menatap ke arah saudara kembar gadis nya.
"Jangan mendekati dia lagi, kau juga pasti tau kalau dia mau menikah." ucap nya yang tau maksud terselubung dari 'tidak perlu mewaspadai' terlalu banyak.
Tak ada jawaban, tidak mendekat lagi?
Mana mungkin ia bisa sedangkan ia mencoba menarik hati gadis itu lagi.
"Dan tentang Bianca, aku akan-"
"Jangan mengusik nya," potong James langsung.
Ia tau pria itu sangat ingin mengambil alih hak asuh putri nya.
"Dia tidak akan aman hidup dengan orang tua seperti mu," Louis mengernyit dan mengatakan hal yang tidak salah.
"Lalu kau mau memisahkan dia dari ku? Kau mau anak itu membenci mu?" walaupun ia tak tau bisa mengambil hati gadis nya lagi atau tidak namun ia sangat tau kalau putri kecil nua adakah harga mati yang tak boleh di ambil dari nya.
"Anak kecil cenderung mudah melupakan sesuatu," ucap Louis yang juga sudah memikirkan hal tersebut.
"Walaupun dia masih kecil bukan berarti dia tidak akan ingat apapun," ucap nya yang ingin memberi tau jika diri nya sangat penting bagi gadis kecil itu.
Louis tak mengatakan apapun lagi, ia berbalik dan meninggalkan pria yang tentu tak akan mendengar kan apapun yang ia katakan.
Sedangkan Louise yang masih berada di kamar nya terdiam, ia tau sang kakak setelah ini tak akan membiarkan nya keluar lagi dan entah kapan lagi ia akan keluar rumah.
Bianca melihat ke arah perban sang ibu dah sesekali menyentuh nya.
Iris hijau itu menoleh ke arah anak berumur tuga tahun yang tampak sangat menggemaskan itu.
"Benar kan?" gumam nya lirih.
Baru saja ia ingin mencoba memberikan kasih sayang nya namun lagi-lagi ia hampir kehilangan seperti sebelum nya.
"Benel apa Myy?" tanya Bianca menatap sang ibu.
"Seharusnya aku tidak melihat mu," jawab nya takut jika gadis kecil itu akan sama seperti putra pertama nya.
"Mommy sedih?" tanya Bianca yang melihat urus hijau yang berkaca itu.
Muach!
"Mommy jangan sedih, cup... cup..." ucap nya yang memeluk setelah mencium sang ibu. Ia hanya melakukan hal yang sering di lakukan oleh ayah nya.
Louise membeku, pelukan dari tangan kecil yang menyelimuti tubuh nya. Ia merasa takut dan gelisah namun kenapa tangan kecil itu bisa membuat nya tenang?
"Kalau aku sedih kau bisa apa?" tanya nya tertawa walaupun ia hampir menangis.
"Bisa cium Mommy!" jawab Bianca yang memegang wajah sang ibu dan menciumi nya seperti yang biasa ia lakukan pada sang ayah atau yang biasa di lakukan oleh ayah nya pada dirinya.
"Kau tidak boleh dekat dengan ku terlalu banyak kau mungkin akan seperti kakak mu..." ucap nya pada putri nya yang tak mengerti apapun itu.
"Kak Al?" tanya nya dengan bingung karena memang itu kakak yang ia kenal.
Louise menggeleng, "Bukan..." jawab nya lirih.
"Telus kakak yang mana? Bian kok gak tau?" tanya nya dengan bingung dan mata yang menatap polos.
"Dia pergi jauh sekali..." jawab nya lirih pada gadis kecil dengan mata coklat itu.
"Kau juga mungkin akan pergi yang jauh seperti itu, jadi jangan..." ucap nya lirih, ia tau kecelakaan yang terjadi saat ini di luar kehendak nya namun masalah nya ia kecelakaan bersama dengan putri nya.
Sewaktu ia mulai menyayangi anak itu seperti anak pertama nya ia malah mengalami sesuatu yang hampir membuat nya kehilangan dua kali dan membuat nya merasa takut lagi.
"Myy?"
"Mommy? Tapi Bian di sini Myy, Bian gak pelgi tuh!" celoteh nya pada sang ibu.
Tes...
Makhluk kecil yang masih bernapas dan hidup serta menatap nya, memang sangat sederhana namun seperti mengeluarkan kabut di dada nya.
"Mommy nangis? Sakit yah Myy? Cup.. cup..."
Ucap nya yang kembali memeluk sang ibu walaupun infus di tangan ibu nya hampir tertarik karna ulah nya.
"Nanti Bian kasih Mommy coklat deh bial gak nangis lagi..." ucap nya yang memberikan bujukan seperti sang ayah membujuk nya agar tak menangis lagi.