[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 64 ~ Pemilik Martial Arts Shack, Para Keroco (?) dan Putra Ares


Catatan: Sekarang, 'Pondok/gubuk Seni Beladiri' diganti menjadi 'Martial Arts Shack' dan 'Kebenaran Dunia' diganti 'The World Truth'.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Martial Arts Shack — sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal Ahli Beladiri. Martial Arts Shack biasanya berada di tempat yang jauh dari keramaian dan dikelilingi oleh bentangan alam. Para Ahli Beladiri tinggal di sana hanya untuk berlatih menjadi kuat dan kuat hingga mencapai tujuan mereka masing-masing.


Mengasah teknik beladiri, memperkuat tubuh, memperkuat mental dan memperoleh pencerahan. Itu adalah tujuan dasar dari pengasingan Ahli Beladiri yang tinggal di Martial Arts Shack.


Setelah mereka menjadi kuat seperti yang diinginkan, mereka akan meninggalkan Martial Arts Shack dengan meninggalkan beberapa harta sebagai tanda syukur.


Karena itulah, Mizan Noura sang Transenden tampak bersemangat untuk pergi ke Martial Arts Shack itu.


Dalam sekejap, Noura telah sampai di puncak bukit, tempat Martial Arts Shack berada. Sedangkan Zero masih butuh beberapa milidetik untuk sampai.


Zero yang tidak tahu alasan Noura sangat bersemangat bertanya, "Noura, kenapa kau tampak sangat bersemangat? Apa ada sesuatu di tempat ini?"


Noura dengan mata berbinar menjawab, "Ya, mungkin ada harta yang berharga di dalamnya. Ayo kita masuk!"


Noura berbalik dan berjalan menuju Martial Arts Shack dengan bersemangat.


"Hei, tunggu!"


Zero hanya bisa mengikuti kemauan Noura untuk sekarang ini. Dia tidak bisa tinggal sendirian di dunia dewa yang penuh dengan bahaya. Layaknya sebuah rumah sederhana dari kayu, Martial Arts Shack tampak masih kokoh.


Namun, Zero menyadari ada hal yang aneh.


'Kenapa tidak ada debu atau tanda-tanda tempat ini ditinggalkan?'


'Apa Martial Arts Shack ini baru ditinggalkan?'


'Lagipula, apa ahli beladiri itu dewa atau bukan, aku tidak tahu. Mungkin, bukan dewa. Itu karena pondok itu berukuran untuk manusia.'


'Yah, percuma saja aku berasumsi. Aku hanya perlu melihatnya saja.'


Di saat Zero berpikir, Noura membuka pintu Martial Arts Shack.


"Harta berharga, aku datang~"


Pintu kayu yang kokoh terbuka dengan perlahan. Namun, tidak ada debu ataupun benang laba-laba yang terlihat.


Itu adalah tempat sederhana dengan kasur, meja dan lentera sihir. Sebuah ruangan sempit yang sederhana tanpa adanya hal berharga.


"Apa-apaan ini!?" seru Noura.


Zero yang masih di luar bergegas masuk mengikuti Noura.


"Ada apa?" tanya Zero.


Noura melirik ke arah Zero dengan ekspresi kesal.


"Ini, lho~ Masa di sini tidak ada harta berharga sama sekali!"


"Memangnya selalu ada harta berharga gitu?"


"Ya, iyalah. Dasar, kau ini tidak tahu apapun, ya."


"Ya, maaf."


"Hadeh, dengar, ya. Martial Arts Shack itu pasti memiliki sesuatu yang berharga sebagai rasa syukur atau terimakasih karena tujuan latihannya tercapai."


"Lalu?"


"Hishh, kau ini bodoh atau bagaimana, sih. Dengan kata lain, harta yang bernilai setingkat dengan mitos atau dewa pasti ada. Yah, itu kriteria minimalnya, sih."


"Jadi, begitu."


Noura masih menggerutu lagi, sedangkan Zero berpikir.


'Lalu, alasan tidak ada hartanya berarti ...'


Ketika Zero hendak menyelesaikan kalimat dalam benaknya, Zero terkejut.


"...!"


Itu karena dia mendengar suara pria yang tampak garang.


""Siapa kalian?""


Bahkan, Mizan Noura sang Transenden sendiri terkejut ketika mendengar suara itu. Mereka tidak menyadari hawa keberadaan pria itu. Indera Transenden dan deteksi milik Zero sama sekali tidak mendeteksi adanya keberadaan selain mereka berdua.


Namun, apa- apaan dengan suara ini?!


Noura dan Zero segera mengalihkan pandangannya ke arah suara. Aura membunuh terpancar dengan hebat tanpa disadari.


'Apa-apaan ini!?' teriak Zero dalam hati.


Zero berdiri dan kesulitan bergerak, sedangkan Noura bersiap menarik pedangnya.


Sesosok bayangan pria berambut panjang dengan mata merah menyala, terlihat mengintimidasi. Rambutnya tampak gondrong dengan telinga hewan yang terlihat dalam bayangan.


Suara mengintimidasi itu terdengar lagi.


""Siapa kalian!!??""


Tanpa disadari Zero, bulu kuduknya berdiri kaku dengan sendirinya. Atmosfer menjadi berat dan bernafas menjadi lebih sulit.


Ketika Zero berdiri kaku, mata Noura terbelalak.


"Leonidas!" seru Noura tiba-tiba.


""...?""


Sosok yang disebut Leonidas oleh Noura itu, mengalihkan pandangannya dari Zero ke arah Noura.


"Noura!"


Setelah mengkonfirmasi identitas masing-masing, niat membunuh mereka hilang dan keakraban dapat dirasakan. Sosok yang seperti bayangan menghilang dan wujud Leonidas terlihat.


Seorang pria berambut jingga panjang yang sama seperti milik Zero. Penampilannya tampak seorang paruh baya dengan brewok dan janggut juga panjang seperti rambutnya.


Leonidas tampak tersenyum tipis, karena bertemu Noura.


"Sudah lama, ya ... Noura!" kata Leonidas dengan senyum tipis.


"..."


Namun, entah kenapa, Noura hanya terdiam dan tubuhnya bergetar hebat. Zero melihat hal itu.


'Mungkin ada hal yang pernah terjadi di antara mereka,' pikir Zero.


Noura diam-diam bergumam dengan pelan, "Kenapa ... kenapa ... kenapa ... kenapa ..."


Di tengah-tengah gumaman Noura, Zero merasakan kehadiran yang kuat dengan . Namun, Noura dan Leonidas tampak tidak tahu atau mungkin tidak peduli.


Leonidas yang tadi tersenyum tipis, mulai tersenyum pahit.


"..." Zero hanya bisa terdiam mengamati suasana.


Kemudian, ledakan terdengar dari luar. Namun, Noura dan Leonidas tidak peduli. Suara ledakan terdengar, namun Zero dan yang lainnya tidak merasakan getaran apapun.


Suara ledakan disusul dengan suara keras seseorang.


"Keluar kau! Penghuni Ilegal!"


Tapi, mereka semua tidak ada yang bergeming. Tidak ada yang peduli dan hanya suasana yang mencekam dan hening.


Zero buru-buru membuka mulut, "Sampai kapan ini akan berlangsung?"


Noura dan Leonidas mulai mengalihkan pandangan mereka kepada Zero tanpa berkata.


"..."


Zero mengeluh, "Haiish, Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi ... siapa mereka itu?"


Zero bertanya kepada Leonidas dengan tidak sopan.


Leonidas mengalihkan pandangannya ke sekumpulan raksasa yang diyakini sebagai ras dewa, sedang melayang di atas halaman Martial Arts Shack.


"Cih, para keroco datang lagi."


Leonidas tampak kesal dan keluar menuju ke para dewa. Dari penampilannya, para dewa itu memiliki ukuran tubuh seperti Kyrga sang kepala pelayan Keluarga Furry.


'Apakah mereka Dewa tingkat tinggi?' tanya Zero dalam benaknya.


Meski begitu, kali ini Zero tidak merasakan adanya bahaya ataupun ancaman dari Dewa tingkat tinggi. Entah karena Zero menjadi lebih kuat atau para dewa tidak memusuhi Zero atau mungkin karena dia bersama sang Transenden, Noura.


Leonidas membuka mulutnya dan membentak ke arah Dewa tingkat tinggi.


"Sialan! Jangan banyak omong! Aku tidak akan pergi dari sini! Kalau bisa, cobalah saja!" seru Leonidas.


Para Dewa tingkat tinggi mendengus, "Huh!? Kau pikir karena kau telah mengalahkan anak buah kami, kau dapat menjadi sombong, hah!? Jangan bercanda!?"


Dewa tingkat tinggi lain menambah, "Benar! Kami adalah Dewa tingkat tinggi! Mana mungkin kami akan kalah dengan kucing gondrong kecil!"


'Lalu, kenapa mereka datang ramai-ramai?' pikir Zero.


"Sigh, tidak usah banyak omong! Kalian saja tidak dapat menghancurkan barrier milikku!" balas Leonidas.


Kemudian, Leonidas dan pada Dewa tingkat tinggi mulai geram. Leonidas melompat keluar dengan sangat cepat.


"Apa!?" teriak salah satu Dewa.


Leonidas sampai di depan wajah salah satu Dewa.


"Rasakanlah ... ini!" seru Leonidas. Dia menarik kaki kanannya ke belakang dan menendang hidung Dewa itu.


Bam!


Tekanan yang dihasilkan sangat kuat. Tulang tengkorak dan hidung milik Dewa itu hancur.


"Kuack!"


Kemudian, efeknya disusul dengan terhempasnya kepala Dewa itu. Leonidas yang melayang di udara melirik ke Dewa lain yang terkejut.


Ada ilusi mata merah dan tubuh Leonidas tampak gelap. Itu mungkin karena niat membunuhnya.


"Eeek!"


Para Dewa tingkat tinggi terkejut karena hal itu dan ketakutan. Mereka mundur sedikit karena adanya ancaman.


"Ka-kabur!"


Dengan ketakutan, salah satu Dewa hendak terbang mundur.


"Hei! Kemana kau-!"


Dewa lain hendak menghentikan Dewa yang kabur. Namun, kepala Dewa yang hendak kabur terbang ke langit.


Tubuh Dewa itu jatuh dan sosok Leonidas yang dalam pose kaki kanan di atas terlihat. Dia baru saja menendang kepala Dewa tingkat tinggi hingga copot.


"Mana lagi?" tanya Leonidas.


"E-eeek!"


Akhirnya, Dewa tingkat tinggi yang tersisa berniat untuk kabur juga. Namun, akhirnya mereka berhasil dibantai.


Zero mengalihkan pandangannya dari pembantaian yang membosankan ke arah Noura yang masih bergumam tidak jelas.


"Kenapa ... kenapa ... kenapa ... bukankah dia seharusnya sudah- ...!"


"Noura!"


Gumaman Noura terhenti ketika Zero memanggilnya.


"Ada apa denganmu? Apa semua Transenden selemah ini?" tanya Zero dengan nada meremehkan.


Namun, Noura hanya melihat Zero sebentar sebelum akhirnya menatap udara kosong.


Akhirnya, pembantaian Dewa telah selesai dan Leonidas kembali masuk ke Martial Arts Shock.


Leonidas berbicara, "Noura, aku minta maaf jika kau tersakiti. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Salah satu di antara kita telah berkhianat."


Noura mengangkat kepalanya dan bertanya, "Apakah itu benar?"


"Ya."


"Siapa orang itu?"


"Itu ..."


Leonidas tampak ragu saat menjawab. Namun, Noura segera berhenti bertanya dan mengganti topik.


"Sudahlah, lagipula ... kau pasti akan memberitahuku. Sekarang, kenapa kau tinggal di tempat ini?"


"Ah, itu ..."


...


Leonidas memberitahukan alasan dia berada di sini. Sedangkan Zero hanya mendengarkan dengan cermat sambil menutup mata dan bersender di bingkai pintu.


Sesaat kemudian ...


"Ohhh, jadi begitu. Pantas saja aku tidak merasakan apapun dengan 'Trancendent Senses' milikku. Ternyata kau telah mempelajari teknik baru!" kata Noura dengan kagum.


"Hehehe, hebat, 'kan?"


Leonidas terkekeh sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.


Zero membuka mulut, "Jadi, kapan kita-!"


Zero menutup mulutnya kembali. Noura dan Leonidas yang sedang bersantai juga bangkit dan bersiaga.


Mereka merasakan kehadiran yang sangat kuat datang. Memang tidak sekuat Noura dan Leonidas. Namun, itu melebihi semua Dewa yang pernah Zero temui.


Di sisi lain, Noura dan Leonidas merasa tidak asing dengan hawa kehadiran ini.


"Deimos!?" seru Noura dan Leonidas dengan serentak.


Akhirnya, mereka keluar dari Martial Arts Shack.


Kumpulan awan abu-abu menutupi langit hingga ke ujung cakrawala. Suara petir menggelegar tidak karuan. Kegelapan datang meski seharusnya siang hari.


Itu adalah cikal bakal dari munculnya sang Teror, Deimos. Putra dari God Of War Ares dan Goddess of Love/Beauty Aphrodite. Dia adalah pengawal sekaligus anak dari God of War Ares yang perkasa nan Agung.


""Ketemu, kau ... Noura!""


Suara yang sedalam bumi mendominasi dan mendistorsi ruang. Tanah-tanah berguncang dan petir menyambar lebih cepat, seolah berteriak.


Zero hanya bisa menyaksikan adegan itu. Tubuhnya masih belum dapat beradaptasi dengan baik karena distorsi ruang.


Kemudian, notifikasi System terdengar.


[Keberadaan yang kuat telah datang.]


[Keberadaan tidak menekan kehadiran dan kekuatannya.]


[Ruang di sekitar Anda telah terdistorsi karena Keberadaan yang kuat.]


[Anda mengalami kelumpuhan, ketakutan dan pelemahan statistik.]


[Efek debuff yang melemahkan mental tidak akan pernah berguna, karena ■■■.]


[Anda telah menolak efek debuff kelumpuhan, ketakutan dan pelemahan statistik.]


[Namun, Anda akan kesulitan untuk untuk bernafas, menggerakkan tubuh dan menggunakan skill akibat Distorsi Ruang tingkat 8.]


[Extra skill: Infinite perfect growth menunjukkan salah satu opsi utamanya.]


[Anda akan beradaptasi dengan Distorsi Ruang tingkat 8.]


[Akumulasi adaptasi Anda saat ini adalah 0,79%.]


[1521 detik lagi hingga Anda beradaptasi hingga 100%.]


"Keuck!"


'Sial! Ternyata selama ini, Noura menekan hawa kehadirannya! Pantas saja aku dapat menahan niat membunuhnya!' pikir Zero sambil berlutut.


Zero menatap hawa kehadiran yang kuat itu. Deimos dengan sombong, memamerkan gigi taringnya sambil menyilangkan tangan.


"Baiklah, apa yang harus aku lakukan, ya~?" ucap Deimos dengan nada mengejek sambil menjilat bibirnya.


Zero sekarang memerlukan waktu untuk bergerak dengan bebas di sini. Namun, Zero tidak bisa mengukur kekuatan Noura, Leonidas dan juga Deimos. Sehingga, dia tidak tahu siapa yang akan menang.


Meski Noura dan Leonidas itu kuat dan memiliki peluang untuk mengalahkan 12 Dewa Olympus, lawan mereka saat ini adalah Deimos, putra sekaligus pengawal God of War Ares. Kekuatannya tidak bisa diremehkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terimakasih telah membaca karyaku🙏