[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 150 ~ Turnamen Beladiri


Di Arena Tarung yang mirip dengan koloseum, Zero dan sekelompok petarung mulai memasuki arena.


"Woaaaah!" Sorak sorai dari bangku penonton bergema dari seluruh arah.


Banyak petarung menjadi gugup dan bersemangat.


Sebelumnya, Zero sudah membaca peraturan Turnamen Tarung kali ini.


Pertama, Peserta diizinkan untuk menggunakan senjata dalam pertarungan, tetapi dengan ketentuan senjata itu berasal dari Arena Tarung.


Kedua, Peserta diperbolehkan saling membunuh.


Ketiga, Peserta diperbolehkan menggunakan skill dan sihir.


Keempat, Peserta dilarang bertarung di luar arena. Jika ketahuan, Peserta akan didiskualifikasi.


.....


Di Turnamen kali ini, terdapat 10 kelompok yang terdiri dari 100 orang. Setiap kelompok akan melakukan battle royal.


Ketika kelompok sudah tersisa 10 orang, maka battle royal dihentikan. Selanjutnya, peserta yang lolos tahap battle royal akan berhadapan 1 vs 1 hingga akhir final.


Setelah kelompok ke-3 memasuki arena, semua orang menghentikan langkahnya.


Kemudian, suara dari komentator terdengar menyebar ke seluruh penjuru, "Baiklah, para hadirin. Tahap penyisihan battle royal dari kelompok ke-3 akan dimulai!"


"Nah, mari kita saksikan para Petarung ini bertahan! Ikuti aku! Satu!"


"Satu!" Para penonton menyaut.


"Dua!"


"... Tiga!"


Di detik terakhir, para petarung mulai menggila. Mereka berlarian dengan ganas menuju pusat arena.


"Waaaaaaah!"


Zero hanya berdiri diam dan menguap, "Hoam~, biar kulihat kemampuan kalian. Barangkali aku mendapatkan sesuatu yang bagus."


Di pusat arena, terdapat berbagai senjata yang tersebar. Jumlahnya terbatas, jadi masing-masing petarung bergegas mengambil senjata incaran mereka.


Tapi, kualitas senjata ini sangat rendah. Jelas, mereka tidak terawat dengan baik.


Beberapa retak, hampir patah dan berkarat.


Saat arena menjadi kacau, Zero yang selesai menguap mulai menyeringai. Dia berlari dengan kecepatan manusia normal ke arah kerumunan petarung.


"Majulah!"


Di antara kerumunan, seorang pria kekar baru saja mengambil pedang berkarat. Ketika dia melihat Zero mendatanginya, dia tidak bisa membantu tetapi mencibir di dalam hatinya.


Bagi orang itu, Zero terlihat seperti orang kurus yang lemah. Jadi, dia meremehkan Zero.


"Nak, kemarilah!"


Zero menghampiri pria kekar itu dan jarak di antara mereka mulai menyempit. Pria kekar menampilkan senyum garang di wajahnya dengan mengayunkan pedang ke arah Zero.


Bagi orang normal, tidak mungkin untuk bertahan ataupun menghindari serangan ini tanpa terluka. Tapi, detik berikutnya membuat dirinya tercengang.


'Apa!?'


Zero hanya menggeser tubuhnya sedikit dan menghindari lintasan pedang dengan gerakan minimal. Melihat ke wajah Zero, dia melihat seringai penuh arti di wajah tampannya.


Pria kekar itu merasakan hawa yang tidak enak di hatinya. Saat berikutnya, Zero melompat dan meraih kepala pria kekar.


Pria kekar itu belum sempat bereaksi setelah mengayunkan pedang, jadi dia tidak bisa menghindari tangkapan Zero.


"Istirahatlah!" kata Zero.


Lalu, Zero mengangkat dengkulnya dan menarik kepala pria itu, kemudian menendang wajahnya.


"Khack!" Wajahnya diserang dan tulang hidungnya patah. Darah mengalir keluar dari hidungnya dan dia jatuh pingsan ke tanah.


Zero mengangkat kepalanya melihat orang lain dan mengibaskan tangan kanannya. "Berikutnya …"


Hanya dalam waktu singkat, Zero sudah mengalahkan 10 peserta.


Setelah beberapa menit pertarungan berlangsung, sekitar 30 menit-an, peserta yang tersisa sudah mencapai 10 orang.


Sementara semua peserta yang lain jatuh dan gugur, 10 peserta yang tersisa, termasuk Zero, berdiri dengan penuh kemenangan.


Setelah pertempuran kelompok ke-3 ini, tahap penyisihan berlanjut ke kelompok yang lain. Di ruang tunggu, Zero memakan anggur lagi seperti biasa.


Seorang peserta yang berjalan terkena biji anggur yang diludahkan Zero. Langkahnya terhenti dan urat nadi menonjol di dahinya.


Dia menengok ke arah biji itu berasal dan berteriak dengan marah, "Brengs*k! Siapa yang melakukannya?!"


Seketika, orang-orang mulai tertarik dengan keributan ini. Para peserta di dekat Zero mulai menjauh dan memandang Zero dengan tatapan rumit.


Orang ini sangat santai sampai-sampai masih makan di situasi seperti ini. Tidak ada yang tahu buah apa yang Zero makan, tapi mereka fokus dengan masalah Zero. Jadi, mereka tidak peduli dengan anggur yang Zero makan.


Pria besar yang diludahi Zero jelas memperhatikan Zero yang satu-satunya orang yang sedang makan. Dia mengambil langkah dan berkata sambil menahan amarah, "Kamu yang melakukannya, kan?"


Mendengar hal ini, Zero meludahkan biji anggur ke samping dan berkata, "Benar, itu aku. Memangnya kenapa?"


"Sialan! 'Memangnya kenapa?', katamu? Yang benar saja! Aku akan mengajarimu sopan santun sekarang!" Dia menjadi marah dengan respon Zero.


Sebelumnya, dia menilai situasi terlebih dahulu. Melihat Zero yang tampak lemah, dia tidak perlu takut untuk melawan Zero. Jadi, dia mendekati Zero dan berniat menyerangnya.


Tiba-tiba, Zero berkata, "Peraturan keempat, 'Peserta dilarang bertarung di luar arena'. Apa kau tahu apa artinya aturan ini?"


Tiba-tiba, semua orang tersadar. Pada awalnya, mereka bersemangat oleh situasi saat ini. Tapi, ketika mereka mengingat aturan yang Zero sebutkan, tentunya keributan kemungkinan besar tidak akan terjadi.


Jika Turnamen Tarung belum selesai, mereka tidak diperbolehkan bertarung sebagai sesama Peserta. Oleh karena itu, aturan yang Zero sebutkan mulai menjadi perbincangan orang-orang.


Pria yang diludahi Zero juga tersadar, amarah yang dia pendam seketika mulai bergejolak karena tekanan psikologi yang diberikan oleh aturan. Sebagai seorang Petarung, dia tentunya memiliki harga diri.


Jika diludahi Zero di tempat umum seperti ini, bagaimana bisa dia memiliki harga diri lagi?


Tapi, jika dia melanggar aturan, bukan hanya didiskualifikasi, dirinya pasti harus membayar sanksi atas permasalahan yang akan terjadi selanjutnya.


Menyadari hal ini, hatinya menjadi terasa pahit.


Menekan amarah di hatinya, dia menarik nafas dalam-dalam dan berkata dengan nada mengancam, "Bagus, bagus sekali, nak. Penghinaan ini akan aku kembalikan ratusan kali. Aku akan menunggumu di arena nanti. Saat itu, kuharap kau tidak langsung menyerah."


Zero dengan santai sambil memakan anggur lagi, berkata, "Oh, iya baiklah. Tunggu saja, kita mungkin akan bertemu di arena."


Zero tidak tahu identitas pria ini, tetapi dia telah melihat statusnya dan menyimpulkan bahwa dia termasuk orang-orang yang kuat di antara peserta yang ikut kali ini. Kemudian, Zero melirik ke samping dan tersenyum ramah.


Di arah yang Zero lirik, terdapat tiga orang pria.


Satu orang berpenampilan kharismatik, satu yang tampak lesu dan satu tampak biasa-biasa saja.


Zero mengenali mereka. Ketiganya adalah para Pahlawan!


Kecuali satu wanita, semua Pahlawan ada di sini mengikuti turnamen. Sepertinya, Kekaisaran berniat untuk memamerkan kemampuan Pahlawan supaya moral masyarakat meningkat dan tidak khawatir dengan invasi iblis.


Pada saat ini, ketiga orang itu memandang Zero dengan tatapan terkejut sekaligus heran. Penampilan Zero saat ini terbilang unik di dunia ini. Tapi, bagi ketiga orang tersebut, pakaian Zero memiliki desain seperti dunia mereka sebelumnya.


Di antara ketiganya, satu Pahlawan muda yang tampan dengan aura kharismatik sedang berdiri dan menanggapi Zero yang tersenyum dengan senyuman canggung. Si Pahlawan itu tidak mengenal Zero, tetapi Zero mengenalnya.


Pahlawan itu sebenarnya berniat membantu Zero menyelesaikan masalah, tetapi dia tidak berharap masalahnya akan selesai secepat ini.


Meski begitu, Zero tahu bahwa perilakunya itu hanyalah sebuah topeng yang digunakan untuk mengelabui orang lain.


Memahami hal ini, tentu saja Zero tidak memercayai orang ini. Dia kemudian memakan anggur lagi.


Setelah beberapa saat istirahat, seseorang datang masuk ke ruang tunggu dan mulai berbicara, "Istirahat telah selesai, babak kedua akan dimulai! Kalian, 100 Peserta yang berhasil lolos tahap pertama akan saling berhadapan satu lawan satu."


"Untuk pertandingannya, kalian akan dipanggil secara acak. Kali ini, pertandingan pertama akan dimulai dari Peserta Makishima melawan Peserta Cocka!"


Segera, pemuda kharismatik yang merupakan Pahlawan berdiri dan tidak jauh, seorang pria paruh baya berpenampilan usang juga berdiri.


Ada aroma alkohol yang kuat di pria paruh baya itu, bajunya lusuh dan compang-camping. Tapi, Zero tahu kalau orang ini tidak sederhana.


Pria paruh baya itu tiba-tiba berkata dan sedikit membungkuk hormat, "Sungguh kehormatan untuk menjadi lawan dari Pahlawan."


Berkata seperti itu, Makishima tersenyum haha ramah dan berkata, "Tidak, tidak, saya juga belum berpengalaman. Karena itu, mohon bantuannya juga."


Selesai dengan basa-basi, keduanya dibimbing oleh panitia menuju arena. Meski Zero berada di ruang tunggu, dia masih bisa menyaksikan pertandingan dengan persepsinya yang tinggi.


***


Tekan like jika kamu suka cerita ini.


Tekan love jika kamu suka novel ini.


Dukung author dengan vote dan hadiah.


Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.


Terimakasih