
Part 71
_______
Arista duduk di tepian ranjang William, menatap sendu William yang tak kunjung bangun dari tidur panjang. Tangan kanan meraih tangan kanan William yang berada di samping tubuh kekar milik William.
“Paman. Apa kamu sudah tidak merindukan aku lagi?” Arista meletakkan punggung tangan kanan di pipi mulus miliknya, kedua mata terpejam saat kulit William menyentuh pipinya. “Paman. Kamu sudah tidur terlalu lama, aku sangat ingin mendengar omelan kamu yang terus memarahiku.”
Dahi William mengerut, jari-jemari tangan kiri perlahan bergerak. Tubuh William miring ke arah di mana Arista sedang duduk menggenggam tangan kanannya. “Kamu bising sekali bocah tengik. Apa aku tidak bisa istirahat sebentar saja.”
Arista melepaskan tangan William, memiringkan kepalanya menatap wajah, mata William yang masih terpejam. Tangan kanan mengulur membuka paksa kelopak mata yang masih terpejam. “Berarti Paman mendengar semua ucapanku.”
Tangan William mengambil tangan jahil Arista yang membuka paksa kelopak matanya. William menatap datar wajah Arista yang masing memiringkan tubuhnya dalam posisi duduk.
“Tidak. Aku baru saja bangun, karena kamu terus mengoceh saat memegang tanganku yang membuat aku tidak nyaman.”
Arista spontan duduk, memalingkan wajah canggung yang sedikit memerah. “Baiklah, jika Paman tidak ingin mendengarkan aku berbicara lagi. Maka aku akan diam untuk selamanya, agar Paman tidak bisa mendengar ucapan aku lagi.”
William menarik tangan Arista, membuat Arista jatuh tepat di samping tubuhnya. Mata Arista membulat menatap wajah yang masih terlihat kurang segar, wajah tampan yang terlihat pucat.
Arista menurunkan pandangannya menatap bibir merah muda William yang seksi. Beralih pandang menatap wajah tampan William, menatap kedua bola mata yang menatap wajahnya. Membuat kedua mata saling bertemu satu sama lain.
Kedua pipi William dan Arista berubah menjadi pink, jantung berdegup kencang. William berusaha tenang, agar tidak terlihat Arista. William menarik tubuh Arista, memeluk tubuh mungil dan memendam wajah mungil Arista di dada kekar yang masih berbalut perban. “Terimakasih.” Ucap William, tangan kanan membelai lembut rambut yang tercium wangi. Tangan kiri memeluk tubuh mungil Arista.
Deg!
Deg!
Deg!
Terdengar suara detak jantung William di pipi yang mungil yang menempel di tubuh kekar milik William. Tubuh merasa nyaman saat di peluk oleh orang yang kita sayangi. Arista memejamkan kedua bola matanya.
Suara detak jantung Paman terdengar cukup jelas, seperti suara detak jantung yang aku alami.
Tapi kenapa Paman begitu tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Sudahlah tidak perlu di bahas, mendengar suara jantan yang Paman keluarkan sudah membuat aku tenang.
Tapi perasaan apa ini ya?
Apakah ini perasaan cinta?
Tidak mungkin. Mana mungkin seorang pria yang terlampau beda jauh usianya jatuh cinta kepada gadis yang masih berusia 17 tahun jalan 18 minggu ini.
Gumam Arista di dalam hati, berharap rasa itu hanya sekedar rasa yang terlintas seperti rasa cinta monyet saat puber pertama dan tak mungkin untuk di ungkapkan secara langsung takut tidak berbalas.
Arista tertidur di dalam dekapan William. William menundukkan pandangannya menatap wajah yang terlihat polos tertidur lelap.
William tersenyum, melihat bibir Arista yang perlahan terbuka. Terdengar suara dengkuran yang keluar dari bibir mungil yang masih murni. “Pasti sangat lelah.” Gumam William pelan, jari telunjuk menaikkan dagu Arista. Kini bibir mungil kembali tertutup. William mengeratkan pelukan, membenamkan wajah Arista di dada kekar yang masih terbalut perban.
Di luar pintu kamar William yang tidak terkunci, berdiri wanita yang menjadi pelayan William. Wanita yang berulang kali di usir oleh William untuk meninggalkan kediaman rumahnya.
Tangan kanan memegang gagang pintu kamar William, wajah di tekuk, bibir menaik. “Aku yang membawa tuan William kembali ke dalam rumah, kenapa gadis ini yang mendapatkan pelukan hangat dari tubuh kekar tuan William.” wanita tersebut menutup pintu kamar William pelan.
Wanita tersebut berbalik badan, kedua tangan di genggam menjadi satu. “Awas saja kamu bocah ingusan.” Wanita tersebut melangkah pergi meninggalkan pintu kamar William.
...2 jam berlalu....
...💃💃...
Arista terbangun membuka perlahan kedua matanya. “Hem.” Tangan kanan mengucek kelopak mata. “Apa tadi aku tertidur.” Gumamnya pelan membuka perlahan tangan William yang melingkar di tubuh mungilnya. “Kenapa Paman memelukku. Apa takut aku jatuh kebawah ranjang.”
Arista duduk, melihat William yang masih tertidur lelap ia bangkit namun tangannya tertahan tangan kekar yang memegang pergelangan tangan kirinya.
“Kamu mau ke mana?” terdengar suara William yang bertanya kepadanya.
Arista menolehkan wajahnya menatap William yang masih terpejam. Kedua mata turun menatap tangan kekar yang menggenggam erat pergelangan tangannya.
Kenapa Paman manja sekali, tidak seperti biasanya.
Apa Paman hilang ingatan berubah menjadi pria manja seperti ini.
Batin Arista.
Arista kembali duduk. “Aku ingin pergi ke kamar mandi, apa Paman juga mau ikut.” Gurau Arista menatap wajah William yang masih terpejam.
William membuka kedua matanya, duduk menyingkap selimut yang menutupi tubuh kekarnya. “Mari aku temani, kamu ke kamar mandi.” William menapakkan kedua kakinya di atas lantai.
Arista tertegun menatap William berdiri di hadapannya memegang tangannya. Arista sadar jika ada hal yang tidak beres dengan sikap William yang terlihat cemas seperti tidak ingin jauh dari dirinya.
Arista menarik tangan William. Membuat William duduk di sebelahnya, kedua tangan Arista memegang tangan William. “Sepertinya Paman terlalu berlebihan, dan kenapa Paman berubah menjadi sedikit cemas seperti ini.”
William membuang wajahnya.
Ia. Kenapa aku seperti ini, aku seperti pria romantis yang berada di dalam kisah novel saja.
Apa mungkin gara-gara aku terbawa suasana ucapan Martinus.
Lemah.
Batin William.
William menolehkan wajahnya, tersenyum canggung menatap Arista. melepaskan tangan dari genggaman tangan Arista. Meletakkan di belakang rambut dan menggaruk pelan rambut yang terlihat panjang. “Sangking rindunya Paman terhadap kamu, jadi sikap Paman aneh. Maaf membuat kamu tidak nyaman.”
“Paman. Wanita itu siapa?” tanya Arista mengingat wanita yang berada di dalam kediaman mereka.
“Wanita mana? Tidak ada wanita di rumah ini selain kamu Arista.” sahut William yang tidak ingat sama sekali dengan wanita yang masih tinggal di dalam rumahnya.
“Wanita itu loh! Wanita yang seumuran dengan Paman, semalam ia duduk di samping ranjang Paman. Siapa wanita itu.” tanya Arista dengan nada tinggi, kedua bola mata yang hendak lepas dari tempatnya.
William menggelengkan kepalanya. “Tidak ada wanita lain selain kamu di rumah ini Arista. Vampire kecilku dan hanya kamu wanitaku dan hanya kamu yang berhak tinggal di sini.” Sahut William yang tidak mengerti akan pertanyaan Arista.
William mengerutkan dahi mengingat wanita yang ia tolong yang memaksa tinggal di rumahnya meski berulang kali telah di usir paksa dan kasar oleh William. William sangat ingat jelas, jika wanita tersebut telah di usir dari rumahnya dan tak mungkin bisa kembali lagi.
...Bersambung........