Unlimited Love

Unlimited Love
79. "Begitu rupanya."


Esok harinya..


Usai meletakkan abu kremasi jenazah besan dan anaknya, Nelson pun ke perusahaannya yang terbilang sudah ambruk. Perusahaan Amar sudah di ambil oleh adiknya dan memutuskan kerjasama sepihak dengan perusahaan BNF.


Dengan terpaksa ia pun melelang hasil kerja kerasnya itu dan berhasil di jual dengan kisaran harga 3 triliun. Itu pun langsung di pegang oleh Amar.


Dengan berat hati, ia pun memberikan aset perusahaan kepadanya. Ia bermodal 3 triliun untuk membungkam semua tentang keluarganya sendiri.


FLASHBACK OFF


"Lalu, bagaimana ayah bisa menutupi semua itu dengan rapi?"


Nelson hanya tersenyum dan memandangnya.


"Ingatkah kamu dengan tragedi kecelakaan sebuah pesawat 5 tahun yang lalu beberapa hari usai kecelakaan itu? Itu hanya settingan belaka agar nama keluarga kami benar-benar bersih pada saat itu. Itulah mengapa, internet media sosial dan lainnya tidak dapat lagi menemukan nama kami."


Kai mengangguk dan terus mendengarkan cerita ayah Flova.


"Andaikan Flova tidak di terima di universitas negara K, kami juga tidak akan pernah berniat untuk kembali ke negara dimana kami pernah terpuruk untuk dalam waktu yang singkat. Namun, apabila terus di hindari, Flova akan terus bertanya. Akhirnya kami kembali dan menjadi rakyat biasa. Kami membeli tanah dengan sisa uang kami dan mengatakan kepadanya bahwa itu tanah warisan yang sebenarnya itu adalah hasil sisa keringat kami."


"Begitu rupanya." jawabnya sembari mengangguk.


Nelson tersenyum dan berusaha untuk duduk. Kai menyadari hal tersebut dan membantunya untuk duduk.


"Nak, jaga selalu Flova dan Alena. Nuan saat ini sangat tidak terkalahkan dan kau pasti mengetahui hal itu. Apabila identitas asli Flova dan Alena terungkap oleh keluarga Nuan, yang ada nanti nyawa mereka akan kembali terancam."


"Memangnya, apa yang membuat ayah berfikir seperti itu?" tanya Kai.


"Aku sudah menyelidiki kasus itu. Dan itu memang perbuatan Nuan, tetapi kami tidak memiliki bukti untuk membungkamnya, sehingga kami memilih untuk diam karena kami pasti tidak bisa melakukan apa-apa."


Kai menghela nafas panjang dan memegang pundak Nelson.


"Aku akan berusaha membantu ayah."


Nelson memegang pundak Kai balik sembari menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu lagi. Tugasmu sekarang hanyalah menjaga Alena dan Flova. Dan pastinya mereka tidak akan bisa diam begitu saja jika ingin mendapatkan sesuatu yang mereka mau. Kau harus janji menjaga mereka, seperti yang kau lakukan 14 dan 5 tahun yang lalu."


Nelson memegang tangan Kai penuh dengan harapan. Kai pun mengangguki perkataannya.


"Tetapi, bagaimana ayah tau tentang aku?"


"Berita tentang mu dan keluargamu selalu muncul di halaman koran dan televisi. Melihat rekanku masih baik-baik saja, aku sangat teramat bahagia. Ku pikir, ucapan sahabatku Amar, tidak menjadi kenyataan. Tetapi, takdir memang sudah mengikat namamu dan Flova. Seiring berjalannya waktu kalian selalu di pertemukan secara tidak sadar yang diam-diam membawa kalian menuju jalan yang sepadan."


Kai memikirkan hal itu sembari membayangkan momen-momen dimana ia selalu bertemu dengan Flova hingga mereka terikat dengan sebuah kontrak.


...*****...


Alena datang ke rumah sakit di antarkan oleh Kevin. Steffa, Nehra dan ibu Flova yang berada di luar ruangan pun langsung menghampiri mereka.


"Dimana Bunda? Bunda baik-baik saja bukan?"


Steffa berjongkok di depan Alena dan mengelus rambutnya yang sedikit berantakan.


"Bunda kamu baik-baik saja. Dia sedang beristirahat di dalam."


"Aku ingin melihat bunda." rengek Alena.


"Sayang, duduklah dulu. Bunda kamu sedang tidur. Apa Alena mau bunda bertambah sakit?" ucap ibu Flova yang turut mengambil tindakan.


Alena pun menggelengkan kepalanya dan menunduk.


"Baguslah. Sekarang duduk bersama nenek di sini."


Tiba-tiba, Kai keluar dari ruangan ayah Flova. Ibu Flova penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh mereka, tetapi Kai hanya menggelengkan kepalanya.


"Tadi ayah hanya memintaku untuk memijat bahunya." ucap Kai berbohong.


"Ayah? Maksud ayah Kakek?" ucap Alena.


"Iya, kakek kamu hanya perlu beristirahat. Alena tidak perlu khawatir." jawab Nehra.


"Benar, aku sangat lelah. Sebaiknya ayo kita pulang." ajak Nehra.


Steffa memukul bahunya. Nehra langsung memegang bahu kanannya dan bingung saat melihat Steffa.


"Benar Bu, sebaiknya kita pulang terlebih dahulu. Alena juga, dia harus mengganti bajunya."


"Tidak, aku ingin di sini bersama ayah." elak Alena.


"Kai harus membiarkan ayah dan bunda lebih dekat. Ingat bukan, mereka sedang marah?"Bisik Steffa di telinga Alena.


Alena mengangguk dan tersenyum senang. Steffa menghadapkan tangannya di depan Alena dan di balas dengan tos oleh Alena.


"Baiklah, Alena akan pulang. Ayah, jaga bunda baik-baik. Ayo nenek, sebaiknya kita pulang saja. Percayalah pada ayah, semua akan baik-baik saja."


"Tetapi..."


Alena terus menggeret sang nenek. Steffa melihat ke belakang dan membentuk tangan Ok untuk Kai. Kai hanya membalas dengan anggukan sekilas.


Ketika semua pergi, Kevin masih memilih untuk diam. Dia melihat ke arah Kai dengan penuh rasa kecewa.


"Biarkan aku menjenguk Flova untuk melihat apa benar dia baik-baik saja." ucap Kevin.


Kai melihatnya dengan jengah. Lantas ia mendekati Kevin dan menatapnya tajam.


"Kau bukan siapa-siapa bagi Flova. Di sini, aku yang berhak siapa yang akan menjenguknya dan tentu saja itu bukan kamu."


"Dasar posesif. Aku hanya ingin melihatnya saja. Hanya itu."


"Lihat kondisinya, kau bisa menjenguknya lain kali. Dia sedang beristirahat. Tidak seorangpun boleh menganggunya termasuk kamu."


Kai menunjuk ke arah Kevin. Lekas saja ia meninggalkan Kevin di tempat dan masuk ke ruangan Flova. Kevin hanya bisa pasrah dan memilih pergi dari rumah sakit tersebut.


...******...


Kevin memilih pergi ke tempat penampungan hewan. Di sana, ia melihat Rosan tengah bermain dengan kucing yang di rawat di sana. Kucing tersebut berwarna putih dan memiliki mata yang biru. Sangat cantik dan cocok dengan baju yang tengah Rosan pakai.


Kevin pun menghampirinya, Rosan tersenyum ke arahnya sembari membopong kucing tersebut. Kevin pun turut tersenyum dan mengelus kucing tersebut.


"Kenapa kau baru ke sini?" tanya Rosan.


Seketika Kevin kembali murung dan duduk di sebuah kursi. Rosan mengikuti ia duduk di depannya dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Kau pasti sudah mendengar kabar tentang Flova bukan?"


Rosan mengangguk dan langsung menyadarinya. "Ah iya benar. Kau dari rumah sakit, dan bagaimana keadaannya?"


Kevin hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menekuk wajahnya. Rosan di buat kebingungan olehnya.


"Sepertinya di baik-baik saja. Aku tidak di perbolehkan masuk oleh Kai. Jadi, aku tidak melihatnya."


Rosan tersenyum kecut mendengar hal tersebut. Ia memilih bermain-main dengan kucing yang ia gendong.


"Benar, rasa cinta Kai sudah tergambar jelas dan dalam untuk Flova. Aku tidak akan melakukan apapun lagi sekarang. Mereka tidak bisa terpisahkan. Rasa cinta yang tidak pernah mereka ungkapkan tetapi membentuk sebuah rasa cinta yang tidak terbatas. Wah.. sungguh sangat mengesankan."


Kevin hanya bisa menganggukkan kepalanya. Rasa sakit jelas ada di dalam benaknya, namun melihat ke akraban Rosan terhadap kucing tersebut membuatnya sedikit menghilangkan rasa tersebut.


"Jika di lihat-lihat kau sangat menyukai kucing itu. Apa kau mau mengadopsinya?" tanya Kevin mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sungguh, apa ini boleh?" tanya Rosan.


Kevin mengangguk dan tersenyum lebar. Rosan yang mendengarnya pun cukup di buat senang.


"Kalau begitu, kucing ini milikku, dan akan aku beri nama Sweety."


Rosan memeluk kucing tersebut. Kevin pun cukup di buat tersenyum oleh tingkah Rosan terhadap kucing yang telah di beri nama olehnya. Dan perlahan, hati Kevin pun sedikit merasa terobati.


//**//