Unlimited Love

Unlimited Love
32. "Aku ada tugas untuk kamu."


Kabar Nehra saat ini, ia memilih untuk mengurus perusahaan papanya karena sekarang posisinya sudah tidak lagi sebagai sekertaris Kai.


Ia menempati ruangan yang sudah lama ia tinggalkan. Menghirup udara AC di dalam ruangan tersebut sembari duduk di kursinya. Namun, seseorang datang dan membuatnya merasa langsung hilang kenyamanan dan kesegaran secara tiba-tiba.


"Untuk apa Papa datang ke mari?" tanyanya bingung.


Papa Nehra yang dikenal sebagai Berlin, adalah pemimpin dari perusahaan M, di bawah naungan perusahaan X. Berkontribusi sebagai perusahaan pemasaran lokal.


"Bisakah kau tidak terus-menerus menggoda wanita di luaran sana. Lebih baik carilah wanita yang benar-benar kamu cintai. Mengapa kamu terus bertindak demikian? Lihat, Kai saja sudah menikah."


"Ayah, aku tidak mau. Aku masih ingin menikmati hidupku. Lebih baik aku ke cafe. Sangat tidak betah aku di sini saat ada papa."


Nehra langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangannya dan menuju tempat yang ia katakan sebelumnya.


Ayah Nehra hanya menepuk jidatnya pasrah dengan kelakuan sang anak satu-satunya.


"Kapan dia akan berubah?" pikir ayah Nehra.


...*****...


Di cafe Bright sendiri, Steffa yang sedang menyajikan minuman terperanjat kaget melihat Nehra yang tiba-tiba membuka pintu cafe dengan kasar.


"Steffa, buatkan aku kopi hitam sekarang juga."


Steffa mengedikan bahunya sejenak dan dengan santai membuatkan kopi untuk Nehra yang sedang mengatur nafasnya yang naik turun.


Ia pun menyajikan kopi tersebut di depan Nehra. Langsung Nehra, minum dengan terburu-buru dan membuatnya menyemburkan air tersebut.


"Kenapa pahit begini?!" keluhnya dengan marah.


"Ups.. sepertinya hari ini hidupmu sedang pahit, sehingga tidak ada rasa manis yang kamu telan. Hanya sebuah kepahitan." jawab Steffa yang langsung meninggalkan dirinya.


Tak terima Nehra di acuhkan, ia pun menarik tangan Steffa.


"Beraninya kamu berkata seperti itu?"


"Lihat, bisakah kau mencicipinya dengan baik? Dan bisakah kau menelan dengan baik air kopi tersebut. Aku sudah menambahkan gula ke dalamnya. Biar aku cicipi."


Steffa dengan tenang mencicipi kopi tersebut. Dan meminumnya dengan perlahan dan mengecap-ecap dengan bibir mungil dan manisnya.


"Lihat, ini manis. Cobalah."


Nehra menaikkan salah satu alisnya dan mencoba kopi tersebut dengan perlahan dan benar, ia baru merasakan manis di dalam kopi tersebut.


"Benar kan? Dasar pria .." keluh Steffa yang langsung pergi dari hadapannya.


Nehra pun kembali duduk dengan tenang di kursinya sembari menyesap kopi tersebut dengan perlahan. Steffa hanya meliriknya malas sembari meletakkan nampan yang tadi di pegangnya.


"Ccciiee... Apa itu tadi kak? Sungguh hal yang tidak terduga."


"Diam kamu Maudi. Dia pria itu angkuh dan sangat egois, memang pantas dia tidak dapat merasakan minuman yang manis yang aku buat."


"Uuuuuu.. memangnya minuman yang kamu buat manis kak? Aku penasaran." ucap Maudi sembari memegang dagunya.


"Mau aku buatkan? Sepertinya aku akan mendapatkan bonus hari ini."


"Hm.. baiklah. Aku cappucino saja ya kak."


Steffa pun membuat kopi untuk dirinya sendiri dan juga Maudi. Langsung di berikan kepadanya setelah selesai membuat kopinya.


"Eumm.. benar. Kopi yang kakak buat memang benar-benar berbeda. Sering-sering buatkan aku kopi ya kak." pinta Maudi.


"Tidak gratis ya ..."


Maudi langsung menekuk bibirnya cemberut. Steffa hanya tertawa kecil melihat tingkahnya.


"Aku bercanda. Ayo cepat, kita harus berkerja lagi."


Maudi mengangguk dan kembali menyesap kopinya. Dari kejauhan, Nehra terus melihat Maudi dan Steffa dengan tatapan tajamnya yang sedang bercanda riang.


"Mereka pasti membicarakanku." pikirnya.


Sedang asik menyesap kopinya, cafenya kedatangan tamu spesial yang tak lain adalah Kai dan Flova beserta dengan Alena yang baru saja pulang sekolah.


"Kak Steffa .. " panggil Alena sembari berlari kecil ke depan meja kasir.


Steffa senang dengan kedatangannya, dan dengan segera ia keluar dari daerahnya untuk membopong tubuh Alena.


"Alena, kamu apa kabar?" tanya Steffa sembari mencium pipinya gemas.


"Alena baik, kakak?"


"Tentu saja baik."


Alena pun turun dari gendongan Steffa. Dan pandangannya kini menatap wajah Flova.


"Aku kangen kamu .. sudah dua hari kamu tidak ada di rumah rasanya sangat sepi." keluh Steffa.


"Aku akan kembali 98 hari lagi." bisik Flova.


Steffa tersenyum dan membentuk tangannya OK sebagai tanda setuju dan mengerti.


"Oiya, buatkan aku pancake. Bungkuskan pula aku cupcake ini ya." ucap Flova sembari menunjuk cupcake dengan toping warna warni.


"Bunda, aku juga mau eskrim." pinta Alena.


"Untuk eskrim tidak ya hari ini."


"Bunda.."


"Tidak ya sayang.. Eskrimnya lain kali saja, nanti Alena bisa sakit gigi kalau terlalu sering makan eskrim.. hm.." jelas Flova yang di angguki oleh Alena.


"Benar yang di katakan bunda. Jangan murung ya, lebih baik ikut kakak saja ke dapur. Kita buat pancake sama-sama yuk."


Alena langsung mendongak dengan senang dan menggandeng tangan Flova untuk menariknya masuk ke dapur mengikuti Steffa.


Kai hanya duduk bersama dengan Nehra. Nehra yang sedang menatapnya dengan bingung melihat Kai sedang mencermati istri dan anaknya.


"Brother, apa yang kamu pikirkan?" tanya Nehra penasaran.


Secara tiba-tiba, perkataan Kai membuat Nehra hampir tersedak minumannya sendiri.


"Memangnya, apa yang harus aku lakukan?" tanya Nehra dengan penasaran.


"Cari informasi mengenai Alena dan Flova. Aku penasaran siapa mereka sebenarnya?"


"Maksud kamu?"


"5 tahun yang lalu, aku pernah menyelamatkan seorang anak kecil dan memberikan boneka Pororo kecil yang ada di dalam mobilku. Kamu juga ingat dia kan waktu aku menggendongnya di rumah sakit."


Nehra berfikir sembari mengingat kejadian 5 tahun yang lalu.


FLASH BACK ON


"Hosh... hosh.. hosh.. Bos, kamu tidak apa?" tanya Nehra khawatir.


"Aku tidak apa?"


Terlihat anak kecil di gendongan Kai sembari memainkan boneka Pororo di tangannya.


"Jaga dia sebentar. Tidak ada nomor keluarganya yang bisa di hubungi. Aku akan menangani korban di dalam."


Nehra menerima anak kecil tersebut dan bermain bersamanya.


FLASH BACK OFF


"Hm..aku sangat ingat. Aku bahkan bermain dengannya. Aku juga sempat khawatir karena bajunya berdarah, tapi ternyata itu tanganmu yang terluka."


Kai melihat kedua tangannya sembari menghela nafas.


"Tapi, apa iya itu sangat mirip? Sekarang, sudah banyak boneka yang di buat dengan sangat mirip." pikir Nehra.


"Aku juga tidak yakin, tetapi ku rasa, boneka itu sudah sangat lama dan sedikit usang. Aku juga tidak terlalu yakin itu hadiah dariku atau bukan." ucap Kai tidak yakin.


"Kira-kira, anak itu sudah seperti apa ya sekarang? Dan kenapa mereka menghilang secara tiba-tiba?"


Kai tak bergeming dan hanyut dalam pikirannya sendiri mengenai kejadian 5 tahun lalu.


"Aku juga tidak tau, tetapi kamu harus cari tahu latar belakang asli mereka, bagaimanapun caranya." ucap Kai.


"Siapa yang di maksud mereka ayah?" tanya Alena penasaran dan sudah ada di sampingnya.


"Tidak ada Alena, ini tentang pekerjaan ayah." jawab Kai dengan tenang.


"Ya sudah Steffa, aku dan Alena harus pergi sekarang."


"Hm.. pergilah. Terimakasih ya.."


Flova pun menghampiri Kai yang juga berdiri dari tempat duduknya.


"Kau sudah membayarnya?" tanya Flova.


"Aku sudah membayarnya langsung kepada pemiliknya. Sekarang, ayo kita ke kantor."


Flova mengangguk. Alena yang menggandeng tangan Flova melambaikan tangannya kepada Nehra dan Steffa.


Kini Steffa dan Nehra saling bertatapan. Steffa menatapnya tajam, sedangkan Nehra menatapnya dengan penuh pertanyaan. Steffa yang hendak pergi, langsung di pegang oleh Nehra.


"Tunggu sebentar, aku ingin bertanya sesuatu."


"Aku sibuk!"


"Akan aku kasih bonus lebih jika kamu berbicara sebentar denganku. Dan ini hanya sebentar." ucap Nehra.


Steffa memutar bola matanya malas dan duduk di kursi yang ada di depannya.


"Cepat katakan!"


"Aku pernah lihat boneka Alena. Itu dari orang tuanya kah, atau hadiah dari siapa?" tanya Nehra.


"Boneka Alena banyak." jawab Steffa masih cuek.


"Maksudku boneka yang sudah usang itu. Itu terlihat sudah lama dan sedikit rusak, tetapi mengapa Alena masih menyimpannya? Biasanya seorang anak kecil membuang mainan yang sudah rusak dan membeli yang baru." ucap Nehra.


"Ah.. yang itu. Aku juga tidak tau sepenuhnya, mendengar cerita dari Flova, itu adalah hadiah dari dokter yang merawatnya di rumah sakit 5 tahun yang lalu. Kamu ingat kan, aku pernah bercerita mengenai kecelakaan yang terjadi kepada kakak Flova." Nehra mengangguk sembari mendengarkan dengan teliti.


"Pada saat itu, orang tua Flova ada di luar negeri, dan sempat menunda pesawat karena perusahaan di sana ikut anjlok. Dan saat mereka di rawat, sang dokter memberikan boneka tersebut kepadanya, Alena menjadi sedikit tenang. Itulah mengapa Alena gemar dengan kartun yang berhubungan dengan Pororo." lanjut Steffa panjang lebar.


Nehra mengangguk paham.


"Jadi, orang tua Flova dan Alena memiliki perusahaan?" tanya Nehra bingung.


"Iya punya, mereka baru saja memiliki 2 cabang, di negara I dan K, kalau tidak salah. Namun, sepertinya orang-orang yang dengki dengan keluarga Flova mengatur rencana untuk membangkrutkan perusahaan mereka." ucap Steffa.


"Jadi, kematian orang tua Alena di rencanakan?"


"Itu hanya pendapatku saja. Tapi, bagaimana tidak bukan? Namanya juga sebuah usaha, pasti ada yang iri dan teringin untuk saling menjatuhkan." pikir Steffa diangguki oleh Nehra yang setuju dengan pola pikirnya.


"Tapi, kenapa kamu tiba-tiba bertanya hal itu? Apa ini penting bagimu?" tanya Steffa bingung.


"Aku hanya penasaran saja. Tidak ada masalah lain, pasalnya sepertinya cerita mereka itu unik." jawab Nehra.


"Kamu pikir ini novel. Tetapi, aku harap kamu jangan terus bertanya hal seperti ini lagi. Ini akan kembali menyakiti perasaan Flova jika ia mendengar dan membuatnya syok. Sebaiknya, jangan bahas ini lagi denganku. Lagipula juga, aku tidak tau persis bagaimana ceritanya."


Nehra mengangguk setuju. Dan ia pun mengeluarkan ponselnya. Handphone Steffa seketika bergetar dan terlihat notifikasi tentang rekening senilai 10 juta tertera jelas di sana.


"Aku harus pergi. Terimakasih informasinya."


Nehra langsung meninggalkan Steffa yang menganga di tempat duduknya dengan bingung sembari menatap handphonenya.


"Aku pikir dia bercanda... wah.. yes... Selama datang uang ... Muach.."


Steffa mencium handphonenya gemas dan orang-orang di sekelilingnya hanya melihat sembari keheranan.


//**//