Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Kendra Marah?


Kendra menghampiri mereka, auranya cukup gelap sehingga membuat ketiganya tidak bisa bergerak. Pandangan mata Kendra menyelidik satu persatu pada mereka, dia menemukan Stella tampak gemetar, Kesya seperti ketakutan dan kesadarannya masih belum pulih, sementara Vivian gadis ini tampak terlihat bodoh, dia mengernyit dan menatap tepat ke arahnya.


Dasar gadis bodoh! Bisakah dia menggunakan ekspresi lain di saat situasi seperti ini? Kemudian Kendra berkata; “Katakan apa yang sudah terjadi disini?”


Tidak ada dari mereka yang menjawab, jadi Kendra memandang Stella dengan jengah dan bertanya secara pribadi; “Apa yang kau lakukan disini? Dan mengapa kau menampar Vivian?”


Tubuh Stella gemetar, dia tidak berani untuk menatap mata Kendra. Kemudian Stella menggigit bibirnya, rasa sakit dari gigitan itu membuat Stella meneteskan air matanya dan berkata; “Aku...Hiks...tidak sengaja, aku marah karena Kesya mengejek keluarga ku...Aku...”


“Katakan yang sebenarnya, apa kau pikir aku akan percaya? Aku melihat semuanya dengan mataku.”


“Ken, aku serius. Kesya mengejek aku, mengatakan bahwa Omega dalam keluarga Alisher tidak akan di hormati, dia juga mengatakan bahwa kakek akan membuang aku dan menjadikan Vivian sebagai prioritas utamanya.”


“Kau belum menjawab pertanyaan ku! Sekali lagi aku bertanya mengapa kau disini? Dan mengapa kau menampar adikmu sendiri!”


Stella menjadi diam, pikirannya menjadi linglung. Apakah Kendra sama sekali tidak peduli padanya lagi? Di masa lalu, ketika dirinya menangis Kendra akan luluh dan tidak akan banyak bertanya, pemuda ini akan langsung mengalah padanya.


Lalu mengapa sekarang tampak berbeda? Mengapa Ken marah dan bertanya tentang kondisi Vivian? dan Bukannya bertanya tentang kondisinya yang sudah menangis?


“Ken, Aku...”


“Cukup Stella, jangan pernah bertindak seolah-olah semua yang kau inginkan akan kau dapatkan. Dunia ini luas, kau bukan seorang putri raja dalam buku dongeng. Aku tidak ingin melihat kejadian ini terulang lagi.”


Vivian memperhatikan Kendra, lalu memperhatikan Stella lagi. Apa-apaan mata anak anjing itu? Apakah antagonis cerita sedang memohon padanya? Kemudian Vivian melirik Chihuahua dan berkata; “Mengapa situasinnya tampak aneh? Aku memiliki perasaan yang buruk.”


[Aku juga merasakan yang sama, Tuan rumah. Seperti akan ada perang.]


Stella mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya, kepalanya yang menunduk sekarang menatap kearah Kendra dengan mata yang merah. Vivian kemudian berpikir bagaimana gadis ini melakukannya?


Lalu Vivian mendengar Stella berkata; “Tidak ingin melihat kejadian ini terulang lagi? Kalau begitu berikan aku sebuah penjelasan! Mengapa kau berubah! Mengapa kau mengabaikan aku! Mengapa kau tidak pernah mengabari aku! Hiks... Mengapa kau seperti menjauh dariku!”


Vivian melihat Kendra dan menunggu seperti apa respon yang akan dia berikan, tetapi Vivian tidak pernah berpikir Kendra hanya akan berkata; “Apakah kau memiliki kualifikasi untuk mengetahui apa yang aku lakukan?”


Vivian, Stella, & Kesya; “...”


Apa-apaan ini! Vivian bengong, memikirkan tentang tindakan Kendra. Kemudian dia melihat ke Stella, wajahnya menjadi jelek. Karena tidak ingin masalah semakin membesar, Vivian akhirnya berkata; “Kak, sebaiknya kita pulang. Tidak baik jika membuat keributan di rumah sakit.”


Stella tidak merespon, kemudian Vivian memandang ke Kesya. Tampaknya gadis ini sudah kembali ke kenyataan, pandangan Kesya tampak sedih jadi Vivian tersenyum padanya seperti mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


Mario dan Liam mendekati mereka, karena merasa bahwa situasinya sudah cukup membaik. Kendra kemudian mengernyit dan berpikir mengapa kedua orang ini juga ada disini? Apa yang sebenarnya sudah terjadi?


Lalu Liam mendekat ke arah Kesya dan berkata; “Bagaimana keadaan punggungmu?”


Stella kembali menunduk dia merasa bahwa sekarang ini dirinya berada di tengah-tengah Alpha yang akan meledak. Dia tidak berpikir bahwa Liam, manusia menyeramkan ini juga akan hadir. Dia tentu saja masih mengingat ancaman yang pernah dia dapatkan.


Liam sumringah dan berkata, “Kau ingin kabur? Minta maaf pada mereka dulu!”


Mario yang mendengar perkataan Liam kemudian menepuk jidatnya, dan berpikir bahwa tidak seharusnya Liam ikut bersama dengan mereka,


Alpha satu ini cuma bisa memperkeruh suasana saja.


“Tunggu sebentar! Apa yang sebenernya terjadi disini?”


“Kau tidak usah bertanya! Ini semua sejak awal adalah karena mu! Stella kembali menggertak Kesya dan Vivian berusaha untuk melindungi Stella.”


Chihuahua; “Guk...Guk”


[Itu benar, itu benar Tuan ku adalah korbannya sekarang.]


Vivian; “...”


Kendra menatap Stella, memang gelagat gadis ini cukup mencurigakan. Dia juga berbohong tadi, bukannya ingin mempercayai perkataan Liam akan tetapi melihat pipi Vivian yang memerah itu cukup masuk di akalnya.


Vivian berusaha untuk melindungi Kesya sehingga dia dengan bodohnya melompat ke arah Kesya dan menjadi tameng untuk gadis itu. Memikirkan ini Kendra sudah menduga bahwa Vivian benar-benar adalah gadis yang bodoh.


Sehingga Kendra kali ini bertanya pada Vivian; “Apa itu benar?”


Vivian yang di tatap tanpa sadar  mengerucutkan bibirnya dan berkata dalam hatinya mengapa kau bertanya padaku? Kau membuang waktuku saja. Situasinya tampak membingungkan sehingga Vivian tidak memiliki rencana lain, selain pergi dari sini.


Sikap Kendra sama sekali tidak terlihat membelah protagonis wanita, ini lebih seperti Kendra menahan tanduk miliknya agar tidak lepas demi diri Vivian.


Sial! Adalah satu kata yang terlintas dalam pikiran Kendra saat ini. Jika saja di dunia ini tidak di ikat oleh aturan dan norma kesopanan dia pasti sudah akan memakan buah delima milik gadis Alpha satu ini,  dan melahapnya hingga habis.


“Aku, tadi... Oh, tidak! Mario ayo pulang, aku baru ingat kakek mencari ku tadi.”


Sejak kapan kakek mencari mu? Aku sama sekali tidak mendapatkan pemberitahuan sejak pagi tadi, pikir Mario. Lalu dia menemukan mata Vivian berkelap-kelip, dia kemudian mengernyit apa yang ingin kau katakan? Aku tidak mengerti bahasa tubuh.


Vivian menghela napasnya dan mencoba untuk kabur dari pandangan Kendra. Tetapi itu tentu semakin membuat Kendra tidak akan melepaskannya, tentu di tahu kalau kucing liar ini pasti akan mencoba untuk lari darinya.


Sehingga Kendra dengan cepat menyentuh pundaknya dengan sedikit tekanan, dan matanya memaksa Vivian untuk menatap mata elang miliknya. Pada akhirnya itu mempertemukan kedua mata mereka, mata elang milik Kendra akhirnya bisa memandang dekat mata bunga persik Vivian.


Itu indah, mata bunga persik milik Vivian membulat tepat di depannya, kemudian pandanganya turun pada bibir merah delima Vivian yang menggembung. Menatapnya sebentar sebelum telinganya mendengar Vivian berkata; “Apa yang kau lakukan! Lepaskan, aku mau pulang.”


“Jadilah anak baik, dan ikut denganku,” mendengar ini Vivian menjadi tersentak, keduanya tidak menyadari bahwa sejak tadi mereka sudah menjadi pusat perhatian. Stella memandang mereka dengan tatapan bertanya, Ada apa ini?