
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 48 "Rencana Azrael"
POV 3
"Sial, bagaimana kita bisa kehilangan jejaknya!?"
Lelaki yang barusan mengumpat adalah Azrael. Dirinya kesal lantaran kehilangan jejak Zef dan adiknya. Dia menjadi tambah kesal setelah Eilaria juga berhasil kabur, sehingga Azrael tidak bisa mengorek informasi darinya.
'BRAKK'
Karena emosi, di pukulnya meja bundar yang ada di depannya sehingga membuat raut wajah anak buahnya menjadi pucat. Suasana rapat evaluasi pun menjadi suram.
"Ko-ko-mandan, saya punya usulan!" kata seorang perwira.
"Apa itu, aku harap itu usulan yang tepat. Karena jika tidak, maka nasib mu akan sama dengan prajurit barusan." kata Azrael dengan ketus.
"Saya tidak berani komandan!" ucap Perwira itu ketakutan.
"Cepat bicara saja!"
"Usulan saya adalah meminta para mata-mata melacak kembali keberadaan mereka komandan!" usul Perwira itu.
"Cih! Kita tidak bisa menggunakan mereka sekarang, bukankah mereka sedang di ibukota?"
"Tidak juga Komandan! Lima dari mereka juga ada disini!"
Azrael, berfikir jika para mata-mata memang sedang berada di Ibukota. Dia tidak menyadari bahwa Ayahnya juga telah mengirim satu regu Assassin dalam misinya.
Para Assassin ini memang ahli dalam hal intelejen dan mengumpulkan informasi dengan cepat. Satuan ini terdiri dari unit kesatria dan petualang yang dipekerjakan oleh Kerajaan secara rahasia.
Karena kerahasiaannya, unit ini hanya diketahui oleh beberapa petinggi militer dan raja saja. Bahkan Sanaya selaku Putri Kerajaan sekaligus petinggi militer pun tidak mengetahuinya.
Jumlah mereka terdiri dari seribu orang dan tersebar hampir di seluruh wilayah kerajaan Elceria. Hal itulah yang membuat informasi sekecil apapun akan dapat diketahui dengan mudah oleh raja.
"Jadi, ayah juga mengirimkan regu mata-mata! Kalau begitu cepat panggil mereka!"
"Saya akan lakukan!" kata Perwira itu sembari menundukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian, lima orang mata-mata pun mendatangi ruangan Azrael. Mereka terdiri dari empat orang pria dan satu orang wanita.
Penampilan mereka tampak seperti prajurit biasa dan tidak menunjukkan ciri sebagai seorang mata-mata. Mengira bahwa mereka hanyalah keroco membuat Azrael mengerutkan dahinya.
"Kenapa kau malah memanggil para keroco ini? Bukankah aku menyuruh mu untuk memanggil para mata-mata!?" amuk Azrael.
"Ampunilah saya komandan! Merekalah mata-mata itu!" jawab Perwira itu ketakutan.
"Itu benar sekali komandan! Izinkan kami memberi hormat." tambah mata-mata wanita, sembari berbarengan memberikan hormat dengan empat anak buahnya kepada Azrael.
Dirinya menatap sinis para Assassin, meskipun mereka telah memberikan hormat.
"Baiklah kenalkan diri kalian!"
"Nama saya Era Collie, selaku ketua dari regu ini. Kami jugalah yang memberikan kabar tentang keberadaan mereka di sini."
"Kalau begitu, apa kalian mengetahui keberadaan Si Perisai Iblis itu sekarang?"
"Kami tak tahu pasti, tapi kami rasa Pahlawan Perisai. Eh, Perisai Iblis sepertinya sedang menuju T'hearus dengan melintasi gurun Hera." jawab Era.
"Apa aku tidak salah dengar? Mereka ke T'hearus! Ha ha ha ha! Jika hal itu benar, maka kita hanya menunggu mereka mati saja. Tidak akan ada orang bodoh yang akan mencoba untuk menyebrangi gurun yang sangat berbahaya itu. Ha ha ha ha! sepertinya misi kita sudah tak perlu lagi untuk dilanjutkan. Kalau begitu misi ini telah selesai."
"Tapi Komandan, mereka kesana melalui jalur udara dengan menunggangi seekor Naga Langit."
Azrael, mengerutkan dahinya mendengar hal tersebut. Dia tidak menyangka bahwa Zef melewati gurun Hera dengan menaiki seekor Naga Langit melalui jalur udara.
"Apa!? Tidak mungkin, bukankah Naga Langit adalah Monster yang tidak bersahabat dengan manusia! Bagaimana mungkin mereka mau membantu Si Perisai Iblis itu?"
Era pun menjelaskan kejadian tentang seekor Naga Langit raksasa yang beberapa waktu lalu sempat mengamuk. Dirinya lantas mengaitkannya dengan Naga Langit yang ditunggangi Zef.
"Cih, kalau begitu ada kemungkinan dia bisa kesana!"
"Itu benar Komandan!" jawab Era.
"Apa kau punya cara lain agar dapat menghabisi dia sebelum tiba di Kerajaan itu?"
"Mohon maafkan Saya! Tapi sepertinya cara satu-satunya adalah membiarkan Si Perisai Iblis itu tiba disana."
Mendengar Era memberikan usul yang tidak masuk akal membuat Azrael mengerutkan dahinya.
"Apa!? Itu sama saja menggagalkan rencana kita." bentak Azrael.
"Tidak komandan! Saya dan regu akan kesana dan menyamar untuk membunuh mereka." jawab Era dengan tenang.
Azrael, mengangkat alisnya mendengar pernyataan Era yang menurutnya sangat mustahil dilakukan. Era dan regunya sendiri adalah para petualang peringkat Pejuang atau bisa dibilang petualang tier emas. Era yakin dengan seluruh pengalamannya sebagai petualang tier emas, dia dan regunya akan dapat membunuh Zef.
"Apa kau yakin? Ingat beberapa waktu lalu, dia berhasil membantai habis satu peleton pasukan kita. Bagaimana mungkin regu mu bisa membunuhnya? Lagipula dengan apa kalian kesana?"
"Saya yakin bisa! Kami berencana akan menyerang mereka ketika terlelap. Untuk pergi kesana kami memiliki sebuah artefak langka untuk berpindah tempat. Kami pastikan akan membawa kepalanya kemari."
"Ha ha ha ha! Bagus, bagus sekali! Kalau begitu berapa lama misi kalian?"
"Hem, waktu yang singkat! Baiklah cepat pergi dan bawa dia kemari hidup atau mati!"
"Laksanakan Komandan!"
Malam itu rencana Azrael telah terbuat sedemikian rupa, sehingga ia hanya akan menantikan para Assassin tersebut membawa berita gembira sepulang dari T'hearus.
****
POV Zef
"Sepertinya kota ini telah lama tak berpenghuni." kata ku.
"KAU BENAR ZEF-KUN!" Edna-san, berbicara sembari merubah dirinya ke bentuk manusia.
"Mungkin kita bisa menemukan sesuatu di kota ini, kak!" ucap Faisya.
"Iya kau benar!"
Biar ku jelaskan situasinya. Kami saat ini tengah berada di sebuah alun-alun kota yang terdapat sebuah patung besar ditengahnya. Patung itu terlihat seperti sebuah patung manusia yang hanya tersisa kakinya saja.
Bangunan-bangun kota disini tampak kuno dan terlihat futuristik. Aku sama sekali belum pernah melihat bangunan seperti ini. Aku berspekulasi, bahwasanya kota ini dulunya pernah berpenghuni sebelum akhirnya sebuah bencana besar menimpa kota ini.
Aku tak tahu pasti bencana apa yang menimpanya. Kemungkinan di akibatkan oleh bencana kelaparan dan kekeringan, sehingga membuat para penduduknya bermigrasi ke wilayah lain.
Jikalau karena sebuah bencana lain seperti gempa bumi ataupun gunung berapi itu tidaklah mungkin, karena aku tidak menemukan apapun yang menjerumuskan ke hal itu.
Kami sudah berkeliling cukup lama di kota ini dan bahkan tidak menemukan apapun seperti tengkorak manusia. Hal itulah yang memperkuat argumen ku tentang tempat ini.
"Hari sudah sore! Ayo kita cari bangunan yang lebih nyaman untuk kita!"kata ku.
"Emh! Ayo!" jawab Faisya.
"Aku ngikut saja tampan!" kata Edna-san.
"Terserahlah"
Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah bangunan besar dan tampak megah. Aku berspekulasi bahwa tempat ini dulunya adalah sebuah penginapan megah, karena banyak sekali barang mewah dan kamar-kamar.
Kamipun berpisah kamar tidur agar tidak terjadi kesalahpahaman. Aku membiarkan Faisya tidur satu ruangan bersama Edna-san, sedangkan aku akan tidur sendirian.
Awalnya Edna-san, ingin kami tidur dalam satu kamar, tapi jelas aku menolaknya. Untuk apa tidur dalam satu kamar sedangkan kamar lainya dibiarkan kosong.
****
'DUMM BRAK'
Malam pun tiba, sesaat setelah kami makan malam. Kami dikejutkan dengan sebuah suara keras dari kejauhan. Suara itu cukup keras sehingga kamipun dapat mendengar suara tersebut meskipun dari jarak jauh.
Karena penasaran kamipun mengintip keluar jendela agar mengetahui situasi di luar.
"Apa itu kak!?" tanya Faisya kebingungan.
"Entahlah, tapi sepertinya aku punya firasat buruk. Apa kau merasakan sesuatu Edna-san?"
"Oho ho ho ho tenanglah! jangan khawatir ancaman itu bukanlah apa-apa. Jika terjadi sesuatu-"
"Lihat apa itu!? mereka banyak dan besar sekali!"
Belum sempat Edna-san mengakhiri kalimatnya, Faisya melihat segerombolan kalajengking merah seukuran domba menaiki dinding bangunan yang kami diami sekarang.
"Apa apaan ini!? Aku bahkan tak bisa mendeteksi mereka." kata Edna-san mengerutkan keningnya.
Sepertinya ini masalah serius. Edna-san saja menjadi serius setelah dirinya tak bisa mendeteksi keberadaan gerombolan Monster Kalajengking itu.
"Apa itu pertanda buruk?" tanya ku.
"Mereka bukan Monster Kalajengking biasa! Jika mereka menyerang secara berkerubut, setidaknya mereka mampu dengan mudah mengalahkan Petualang tingkat Bergelar. Cepat kita cari tempat aman dulu! Ayo cepat tinggalkan tempat ini!"
"Tapi kau kan bisa mengalahkan mereka dengan mudah?" aku menyangkal.
"Bukannya aku tidak mampu mengalahkannya, akan tetapi aku butuh tempat yang leluasa Zef-kun! Terlebih lagi level kekuatan tameng mu tidak sekuat waktu itu untuk melindungi adikmu sekarang. Ayo!
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Reruntuhan")
Note :
Mampir juga ke Audiobook terbaru Senpai Ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.
- My Free Life In Another World
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.
- The Rising Of The Lord Hero (1)
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author