
Mendengar pernyataan ku Sanaya malah tertawa terbahak-bahak. Kesatria yang melihat hanya tersenyum.
"Ups, Ha ha ha ha! Mana mungkin itu dapat meningkatkan statistik, jangan bercanda Yudha-kun!"
"Ah sudahlah!" sambil ku memejamkan mata dan melipat kedua tangan ku.
Semua yang dijelaskan Sanaya tampak masuk akal dan sangat realistis. Memang kemampuan akan meningkat jika kita terus berlatih dan mengatur pola hidup sehat agar kebugaran jasmani terjaga.
Semua itu tergantung pada proses kita menjalaninya, proses itu tidaklah instan dan perlu yang namanya usaha yang keras untuk menjadi seseorang yang kuat. Tidak dengan membunuh monster atau menggunakan item untuk meningkatkan level, seperti yang ada didalam game.
"Apakah level kemampuan ini ada batasnya?" tanyaku.
"Itu tergantung limiter kita Yudha-kun! Jika kita bisa melewati limiter maka level kita bisa semakin tinggi!"
"Limiter? Apa maksudnya itu batas kemampuan manusia biasa?"
"Kurang lebih seperti itu, manusia biasanya memiliki batasan limiter hingga level 50 saja. Bahkan mencapai level tersebut tidaklah mudah, kita harus terus berlatih agar level kita naik secara signifikan. Tapi dirimu bahkan melewati limiter ku, apakah kau sering latihan?" kata Sanaya.
Sekarang aku mengerti tentang batasan limiter ini. Memang pada dasarnya manusia biasa memiliki batasan kemampuan, yang dimana hal itu sudah menjadi batasan manusia biasa.
Sanaya dan Kesatria itu bingung kenapa aku punya level yang amat tinggi. Tentu saja itu mudah sekali aku jawab, hal itu karena aku seorang prajurit elit yang memang dilatih keras agar bisa melewati batas limiter manusia biasa.
"Tentu saja aku sering berlatih, itu sebabnya aku melewati batas limiter ku." jawabku.
"Padahal aku juga sering melakukan latihan tapi level ku hanya naik sedikit. Pola latihan apa yang sering kau lakukan?" kata Sanaya.
"Hegh, latihan ku terbilang bukan latihan yang biasa-biasa saja. Aku... emh tidak, tapi kami dilatih dengan sangat keras oleh pelatih kami di dunia ku. Hal itu dilakukan agar kami menjadi prajurit elit yang hebat." kataku sambil menyeringai.
"Wah bagaimana latihannya... ajari aku Yudha-kun!"
"Haaa? Aku meragukan apa kau sanggup menjalani latihan itu?"
"Ya aku pasti sanggup!"
"Ini bukan latihan biasa mengerti.. Kau akan seperti disiksa dalam latihan itu."
"Aku tidak masalah!"
Ya ampun merepotkan sekali, padahal tujuan ku di dunia ini hanya untuk mengumpulkan para Pahlawan Bintang, bukan untuk melatih. Tapi mungkin itu bisa aku terapkan, tidak mungkin aku membawa para pahlawan yang lemah, itu justru akan merepotkan ku dalam pertarungan nanti
"Baiklah, tapi sebelum itu aku harus mengatasi Si Brengsek itu."
"Ah, Azrael ya! Aku percaya kau pasti bisa mengalahkannya. Level dia berada di bawahku, aku yakin dia pasti akan kalah dengan mudah."
"Memangnya seperti apa level kemampuan yang dia miliki?"
"Aku kurang tahu, tapi setiap kali dia berlatih dengan ku. Aku selalu mengalahkan dia dengan mudah."
"Ya mungkin itu karena dia hanya mengalah untuk mu, karena kau seorang yang dia cintainya kan!?"
Setelah aku bicara seperti itu Sanaya lalu menyangkal ku.
"Tidak seperti itu tahu, dia itu hanyalah seorang bajingan. Aku sudah sering memergoki dia tidur dengan wanita lain. Bahkan dia selalu menekan keinginan ku sama seperti Ayah."
Sanaya tiba-tiba marah setelah aku berkata tentang Si Brengsek padanya.
"Saat aku berlatih dengannya, aku tidak segan untuk membunuhnya. Tapi karena status Pahlawan ini yang membuat ku tidak bisa melakukan itu." kata Sanaya.
Membahas perkara hubungan dia dengan Si Brengsek hanya akan menambah rumit masalah yang ada.
"Baiklah kembali ke awal! Level ku memang tinggi, apa ini bisa naik hingga level 100 ke atas?"
"Tentu saja Yudha-kun, tidak ada batasan level untuk itu."
"Begitu itu rupanya!" sambil ku memegang dagu.
"Level mu sudah sangat tinggi. Tapi dalam pertarungan nanti, kau harus memilih senjata yang cocok dengan mu!"
Senjata jarak dekat satu-satunya yang aku miliki hanya pisau sangkur milikku. Aku lalu menunjukkan pisau itu pada Sanaya.
"Hem bagaimana dengan Pisau ini?"
"Itu ya? Wah Pisau itu bentuknya keren sekali! Tapi bagaimana levelnya?"
"Ha apa? Jadi ada levelnya juga?"
"Tentu saja Yudha-kun, setiap senjata ada levelnya!"
"Oh begitu ya! Bagaimana cara ku mengetahui levelnya?"
"Kau bisa melihatnya dengan kemampuan mata mu itu!"
"Benarkah?"
Aku lalu mencoba untuk melihat Pisau Sangkur itu dengan kemampuan mata statistik. Lalu muncullah sebuah keterangan pada Pisau itu.
Tipe Senjata : Pisau Sangkur.
Material : Baja Karbon Stainless, Plastik.
Panjang : 30cm.
Level 4
STR.Lv1 AGI.Lv1 ATK.Lv.2
Ternyata setelah aku amati, aku menyimpulkan kalau kemampuan pisau ini tidaklah mampu menandingi senjata milik Si Brengsek itu.
"Senjata ini hanya level 4, sepertinya tidak akan bisa menandingi senjata milik Si Brengsek itu!" ucapku.
"Itu benar, setidaknya kau harus memiliki senjata berlevel tinggi."
"Lalu dimana aku bisa mendapatkannya?"
Memesan rupanya, tapi aku tidak yakin akan selesai dalam waktu singkat. Membuat senjata berlevel tinggi pasti memerlukan waktu yang lama, mungkin bisa berbulan-bulan.
"Bukankah itu pasti akan lama. Tapi pasti ada senjata yang sudah jadi bukan?"
"Itu benar, untuk senjata yang sudah jadi, aku tidak yakin akan dapat mengalahkan senjata milik Azrael."
"Lagi-lagi seperti itu! Memangnya sekuat apa senjata yang ia miliki itu?" tanya ku.
"Sangat kuat! Kira-kira materialnya terbuat dari logam baja Wolfram terlangka, yang bahkan mampu memotong baja biasa sekali pun."
Wolfram : Dikenal juga sebagai Tungsten, adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang W dan nomor atom 74. Tungsten sendiri dinobatkan sebagai logam terkuat dan paling tahan panas di dunia. Titik leburnya mencapai 3.442°C.
"Tungsten maksudnya?" kata ku
"Apa itu Tungsten?" Sanaya jadi bingung.
"Ya itu Wolfram yang kau maksud!"
"Oh! Iya!"
Tak ayal kalau pedang milik Si Brengsek begitu kuat. Ternyata terbuat dari bahan logam terkuat, pantas saja. Tapi sepertinya tidak sekuat pedang milik Sanaya.
"Lupakan soal senjata, kita fokus saja untuk menguji kemampuan mu!" ujar Sanaya.
Sanaya sepertinya penasaran dengan kemampuan yang aku kuasai. Tak masalah bagi ku untuk di uji kemampuan.
"Ah begitu yah!"
"Aku akan menguji kemampuan bertarung mu! Bagaimana kau mau latih tanding dengan ku?"
Sanaya mengajak ku latih tanding, sepertinya akan menarik. Kebetulan aku juga penasaran dengan kemampuannya jadi aku menerima tantangannya.
"Baiklah! Tapi dengan apa aku bertarung?" tanya ku.
"Kau gunakan saja pedang biasa. Aku akan mengubah Pedang ku menjadi pedang biasa. Maka dengan itu kemampuannya akan setara dengan pedang biasa."
"Menarik, dimana kita akan bertarung?"
"Hem bagaimana di tempat latihan Akademi ini?"
"Boleh juga, aku ngikut saja!" pungkas ku.
Sanaya kemudian berpamitan kepada Kesatria itu dan kamipun meninggalkan lokasi.
"Baiklah Pak kami akan pergi, terimakasih atas bantuannya!"
"Ah tidak masalah Tuan Putri!" sembari menunduk memberi hormat.
****
Kami pun tiba di lokasi yang dimaksud Sanaya. Tempat latihan ini seperti sebuah lapangan arena bertarung dan terdapat kursi penonton disekitarnya. Terdapat pula sekitar beberapa puluh perwira wanita cantik yang menyaksikan kami latih tanding untuk mendukung Sanaya.
Para prajurit wanita ini semuanya adalah bawahan Sanaya. Pasukannya di kenal sebagai pasukan Valkyrie sebagai devisi resimen Kesatriaan Wanita yang dipimpin langsung oleh Ratu.
"Ayo Tuan Putri kau pasti bisa menang!!!" teriak salah satu dari mereka.
"Tuan Yudha ambil ini!"
Seorang prajurit wanita meminjamkan pedangnya padaku dan dia juga yang menjadi wasit dalam latih tanding ini.
"Bagaimana Yudha-kun kau siap?" kata Sanaya.
Posisi Sanaya sudah sangat siap untuk bertarung. Mengingat level kemampuan ku diatas dirinya, sepertinya Sanaya tidak akan segan untuk benar-benar menyerang.
Sanaya mengubah Pedang miliknya menjadi pedang yang serupa dengan milikku. Bentuk transformasi perubahannya sangat unik, mirip sekali dengan perubahan robot pada film Transformer. Aku pikir itu keren sekali.
"Baiklah aku siap! Seranglah aku terlebih dahulu." kata ku.
"Baiklah, aku tidak akan segan!"
Sebelum memulai bertandingan Wasit menjelaskan peraturannya. Kami akan bertarung dua ronde, maksimal setiap ronde, petarung harus meraih tiga poin.
Petarung yang berhasil menjatuhkan lawannya hingga tersungkur dia akan meraih satu poin. Jika pedang yang kami gunakan terlepas dari genggaman maka satu poin untuk lawan.
Petarung yang pingsan dan tak sadarkan diri selama sepuluh detik, maka dia dianggap kalah. Pada pertarungan kali ini dilarang menggunakan sihir dan skill, hanya murni teknik berpedang dan dilarang menggunakan serangan fisik seperti memukul dan mendorong.
Jika ada petarung yang melanggar maka poinnya akan berkurang. Menurut ku peraturan yang di buat cukup biasa saja. Seperti halnya ajang olahraga beladiri tinju dan UFC.
""Mengerti!!"" ucapku dan Sanaya.
"Mulai!!" Wasit berteriak dan menurunkan tangannya dan pertarungan dimulai.
"Haaaaahiak" teriak Sanaya.
Aku bersiap dengan kuda-kuda ku dengan menggenggam pedang menggunakan satu tangan. Sanaya kemudian menerobos dengan cepat ke arah ku sembari menghunuskan pedangnya. Aku berhasil menahan pedangnya didepan dadaku, kemudian mendorongnya.
'Stringg klek klek klek klek.....swingg'
Gesekan antara kedua pedang menimbulkan efek bunga api. Dengan cepat Sanaya mengarahkan pedangnya ke atas ku, namun kembali aku tangkis.
'Stringg'
Melihat ada celah sedikit, aku dengan teknik silat yang aku kuasai, kemudian menghunuskan pedang ku kearah pedangnya, kemudian mencungkil dengan teknik memutar badan hingga pedang itu terlepas dari genggamannya. Pedang itupun berputar-putar di udara kemudian tertancap ke tanah.
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Pengujian")
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author