TERUNGKAP : The Story Of Jimmy Don

TERUNGKAP : The Story Of Jimmy Don
#Akhir (3)


Dari awal, Jimmy sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang dan benar-benar terperinci. Tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya, kecuali Jimmy sendiri. Perlu diingat kembali, Jimmy adalah orang sangat berpengalaman dalam banyak hal. Dia juga menyukai hal-hal klenik.


Sebenarnya, Jimmy sama sekali tak pernah masuk ke dalam perangkap para sekte itu. Jimmy yang mereka lihat bukanlah Jimmy yang asli. Yang mereka siksa memanglah seorang pria, tapi sekali lagi, itu sama sekali bukan Jimmy. Dia adalah seorang pemilik toko yang keluarganya menjadi korban dari kebiadaban sekte Bloody Grass.


Mereka berdua diam-diam telah melakukan berbagai ritual khusus untuk merubah penglihatan orang-orang kepada pria pemilik toko itu. Sehingga dalam penglihatan setiap orang, pemilik toko itu adalah Jimmy. Si pemilik toko sudah berlatih cara berbicara, berjalan, dan bersikap selayaknya Jimmy yang asli.


Namun padahal, Jimmy yang asli sudah


masuk ke dalam markas para sekte Bloody Grass dua hari sebelum semua ini dimulai. Sang Ratu yang dianggap sebagai sosok paling kuat dan legendaris itu ternyata sama sekali tidak memiliki kekuatan apa pun dalam


dirinya. Dia hanyalah manusia biasa. Hanya saja, dia memang seorang kanibal.


Jimmy menggunakan kemampuan hipnotisnya untuk mengatur semua pikiran Sang Ratu. Jimmy membuat Sang Ratu merencanakan kedatangannya ke pertemuan ini dan membuat Sang Ratu masuk ke dalam perangkapnya. Setelah masuk, barulah Jimmy dan beberapa tentara bayaran kepercayannya langsung menyergap mereka di markas


mereka sendiri.


Tak butuh waktu lama, semua orang yang ada di tempat itu langsung ditembaki. Kecuali Sang Ratu dan juga Bapak Presiden.


"Bagaimana dengan rencanaku? Bapak Presiden?"


"Lihatlah para pecundang ini. Mereka semua mati karena ulah kalian semua."


Wajah Sang Ratu berubah menjadi pucat. Tubuhnya juga bergetar. Dia sangat ketakutan setelah melihat musuh besarnya ada di tempat ini. la sama sekali tidak mengira kalau semuanya akan kacau. Padahal Sang Ratu selalu berhati-hati dalam bertindak.


"Agar kalian berdua tidak kebingungan, akan aku bocorkan semuanya dengan jelas disini." Ucap Jimmy sembari duduk di salah satu kursi di ruangan itu.


"Orang yang sedang dihajar habis-habisan itu bukanlah aku yang asli. Dia adalah satu korban dari kebiadaban kalian. Dia sama sekali tidak bersalah. Dia hanya hidup dengan bekerja keras, sama seperti warga sipil yang


lainnya. Dengan kejamnya, kalian semua menghancurkan kehidupannya. Dialah orang yang berperan besar untuk menentukan keberhasilan dari semua rencana yang aku buat."


"Awalnya aku ingin melakukan serangan brutal dan besar-besaran ke istana Presiden. Tapi semua itu aku urungkan setelah aku bertemu dengan pria pemilik toko itu. Setelah panjang lebar kami mengobrol, dia memutuskan untuk mengorbankan dirinya dalam misi gila ini. Tentu saja aku tidak menerimanya mentah-mentah, karena dia masih memiliki harapan untuk melanjutkan kehidupannya."


"Namun sepertinya, dia sudah tidak lagi memiliki semangat setelah ditinggal oleh keluarganya. Dengan terpaksa, aku menerimanya. Dan ketika semua persiapan kami sudah matang, aku berangkat terlebih dahulu ke Kota Bloody Grass, dengan menyamar menjadi pengawal Sang Ratu. Aku sudah bertahun-tahun mempelajari sepak terjang mereka. Jadi aku mengetahui secara persis seperti apa kekuatan mereka."


"Dan ternyata, aku sangat beruntung, karena bisa sangat dekat dengan Sang Ratu. Dia sama sekali menyadari hal itu. Sama sekali tidak."


"Bagaimana mungkin kau mampu melakukannya?!" Ucap Sang Ratu dengan nada gemetar.


"Karena kau berurusan dengan orang yang salah. Kau tidak mengenali musuhmu dengan baik. Kau bodoh. Dekil. Renta, dan juga payah. Kau seharusnya mengetahui semuanya dari awal. Ah Ya! Aku lupa satu hal!" Kata Jimmy dengan menunjukkan sebuah kalung dengan liontin perak yang menggantung di lehernya.


Sekarang barulah terbukti, kalau selama ini Sang Ratu mampu melakukan segala hal karena ada sesuatu yang menyokongnya dari belakang. Sedangkan sekarang, dia hanya


menggunakan kalung palsu yang dibuat oleh Jimmy. Entah bagaimana lagi Jimmy bisa mendapatkan kalung itu. Padahal kalung itu selalu berada di dekat Sang Ratu yang terkenal sangat ditakuti itu.


"Baiklah. Kita berdamai saja. Aku akan memberikanmu kekuasaan. Dan kalau kau mau, aku akan memberikan keabadian." Ucap Sang Ratu.


Jimmy hanya tertawa, dia sama sekali tidak peduli dengan ucapan Sang Ratu yang kini sudah menjadi orang biasa. Jimmy kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu, kalau dia telah menemukan fakta baru. Sang


Ratu yang asli sebenarnya sudah mati. Jimmy menemukan sebuah lorong rahasia yang tidak lain adalah jalan menuju makam Sang Ratu.


Sedangkan orang tua renta ini adalah orang biasa yang diberi kewenangan untuk memakai kalung dari Sang Ratu sebagai jimat untuk melindungi dirinya. Karena Sang Ratu yang asli tidak mau semua hal yang sudah ia bangun ditinggalkan begitu saja, tanpa seorang penerus. Jadi, orang tua renta yang


sekarang disebut-sebut sebagai Sang Ratu hanyalah manusia biasa.


Hanya saja dia memiliki sesuatu yang membuat dirinya jauh lebih kuat dari pada orang tua pada umumnya.


"Sekarang, pilihan ada pada anda sendiri Pak Presiden. Lihatlah, dan bertindaklah selayaknya seorang pemimpin." Ucap Jimmy kepada Bapak Presiden.


Wajah pria itu nampak penuh dengan amarah, karena selama ini dengan terpaksa dia sudah mengorbankan segalanya hanya untuk kepentingan segelintir orang, yang justru kini menghancurkan bangsanya. Bapak Presiden lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Sahabatku, kini aku sudah menyadari semuanya. Maafkan aku karena tidak pernah mempercayaimu."


"Jadi? Kau dipihak siapa sekarang?" tanya orang dalam panggilan itu.


"Aku sudah memutuskan untuk memihak kepadamu. Aku akan menghentikan penyerangan kepada kelompokmu. Kau akan mengambil kembali jabatanmu sebagai Panglima tertinggi."


Orang dalam panggilan itu adalah mantan Panglima tertinggi seluruh pasukan yang ada di negara ini. la adalah Jendral Sean. Dia yang selama ini menentang perbudakan kelompok satanisme kepada pemerintah. Dia sama sekali tidak setuju dengan aturan presiden yang selama ini secara rahasia telah membekukan hukuman untuk para kelompok satanisme, yang telah menguasai negara ini sejak dulu kala.


"Baiklah. Tarik mundur seluruh pasukan yang ada di kota, baik kepolisian atau pun para tentara."


"Baik. Setelah itu, serang Kota Bloody Grass. Mereka adalah aib untuk negara kita. Aku sudah mendapatkan Sang Ratu. Dia akan menerima hukuman yang setimpal."


"Aku setuju."


Jendral menutup panggilannya. Dalam waktu lima belas menit, Jendral Sean kembali menjabat sebagai Panglima Tertinggi.