TERUNGKAP : The Story Of Jimmy Don

TERUNGKAP : The Story Of Jimmy Don
#Akhir (2)


"Kau hanya menggertak kami Jimmy. Kami tidak akan percaya dengan semua omong kosongmu itu."


"Aku tidak butuh kepercayaan kalian. Tapi permainan sudah dimulai, jadi kalian harus menyelesaikannnya. Kecuali, jika kalian mau menyerah tanpa syarat." Kata Jimmy dengan kembali tertawa.


Dia merasa begitu puas karena semua rencana yang telah ia susun selama berbulan-bulan tidaklah sia-sia. Dia sudah berhasil menipu semua orang. Teror bom itu hanyalah umpan untuk memicu kepanikan di seluruh lapisan masyarakat. Sekaligus untuk mengalihkan dan memecah konsentrasi para


penegak hukum.


Sedangkan kemarahan warga sipil adalah sebuah umpan agar pemerintah juga dibuat semakin sibuk. Jimmy tidak mengatakan rencananya kepada siapa pun. Dan Samuel yang menyebarkan berita tentang Bloody Grass adalah sebuah rencana bunuh diri untuk Jimmy. Jimmy sangat yakin kalau


Samuel tidak akan berdiam diri saja tanpa melakukan apa-apa.


Samuel pasti akan menyebarkan semua berita tentang rahasia Bloody Grass tanpa


harus mengatakan hal itu kepadanya. Andaikan saja Samuel hanya duduk manis, sudah pasti sekarang Jimmy tidak akan dibiarkan hidup oleh para anggota sekte, karena tidak akan ada satu orang pun yang tahu kalau Jimmy tertangkap dan ditahan di tempat ini.


Hal itu yang membuat rasa sakit ditubunya teralihkan. Untuk kesekian kalinya Jimmy telah berhasil menipu semua musuhnya. Kemampuan agen rahasia yang dimilikinya begitu membantu dalam setiap peristiwa yang dia alami. Jimmy sudah pernah mendapatkan penyiksaan yang jauh lebih


berat dari sekarang.


Kedua matanya sudah pernah merasakan bagaimana panasnya bubuk cabai. Kedua tangannya juga pernah dipatahkan beberapa kali. Kedua lututnya bahkan pernah dibor. Namun Jimmy berhasil melewati semua itu dengan sangat baik. Dan bisa bertahan hidup sampai sekarang.


......................


Pemerintah mulai menurunkan tentara nasional untuk melakukan penyergapan ke Kota Bloody Grass. Ada begitu banyak kendaraan tentara yang turun ke jalan, sekaligus untuk menangani amukan warga sipil yang juga semakin bersemangat untuk melakukan serangan ke pihak kepolisian dan juga tempat-tempat penting milik pemerintahan.


Mereka juga menyerang pabrik-pabrik dan perusahaan milik kaum elite yang menyokong segala keperluan yang ada di pemerintahan. Beberapa tentara yang turun ke jalan ternyata bukan sekedar mengusir para demonstran. Tapi mereka juga melakukan serangan balik kepadamereka dengan senjata api.


Para warga sipil mulai merasakan imbas besar dari semua kejadian ini, banyak sekali rumah-rumah warga yang terbakar. Banyak juga orang-orang yang tewas tertembak dibiarkan begitu saja. Setiap ada warga sipil yang berani menampakkan diri mereka dihadapan para tentara, pasti mereka akan langsung ditembaki.


Berita itu pun dengan cepat telah sampai kepada para petinggi Kota Bloody Grass. Dan disinilah seorang wanita tua pemimpin sekte, yang disebut sebagai 'Sang Ratu' keluar dari sarangnya. Tubuhnya yang bungkuk dan kulitnya yang keriput, serta jubah dan aksesorisnya yang berwarna hitam, membuat 'Sang Ratu' terlihat semakin menakutkan.


Dia keluar dari tempat persembunyiannya, setelah bertahun-tahun menutup diri publik.


Matanya merah, giginya rangkap, dari beberapa baris dari gigi-gigi itu terdapat dua taring dibagian atas dan bagian bawahnya. Rambutnya hitam pekat, setiap jari dikedua tangannya memiliki kuku yang panjang dan


tajam.


Namun 'Sang Ratu' memiliki suara yang sangat halus, seperti wanita yang masih muda. Dengan pengawalan dari dua puluh orang anggota sekte, malam itu 'Sang Ratu' menemui presiden dan wakilnya untuk bernegosiasi. Karena bagaimana pun, mereka tidak mungkin terus menerus melakukan pembantaian kepada warga sipil.


"Kami sudah membangun negara ini dengan susah payah, sebelum kalian semua dilahirkan. Sudah puluhan pemerintahan berganti, kami selalu ada di belakang mereka. Di belakang para pendahulu kalian. Namun baru kali ini semuanya menjadi kacau, bagaimana menurutmu? Pak presiden?" tanya


Sang Ratu.


Presiden dan wakilnya hanya diam. Mereka sama sekali tidak menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu. Mereka bingung harus bagaimana, karena sudah ada beberapa negara yang mulai memberikan kecaman kepada mereka. Bahkan ada yang mengancam akan menurunkan seratus ribu


"Maaf Sang Ratu, kami tidak bisa selamanya menahan para warga sipil. Mereka semua tidak bersalah atas kekacauan yang terjadi. Kekacauan ini diakibatkan oleh segelintir orang yang bersikap seperti pahlawan." Jawab Pak Presiden.


"Aku tidak peduli apa alasannya. Kalian semua tahukan apa resikonya jika sampai kami semua meninggalkan negara ini?


"Kami sangat memahaminya Sang Ratu. Tetapi kami tidak tahu harus melakukan apa. Karena semua pilihan kami serba salah. Setiap orang menuntut kami untuk memberontak kepada Sang Ratu."


"Kalau begitu, apa pilihanmu? Berpihak kepada kami? Atau mereka?"


"Kami harus memikirkannya kembali Sang Ratu"


"Berfikir? Kita sudah tidak memiliki waktu untuk berfikir. Tentukan pilihanmu sekarang. Atau tunggu sampai waktu kematian kalian tiba. Dan negara ini akan dipimpin oleh anak itu."


"Kami akan menjamin semuanya akan baik-baik saja."


Sang Ratu berdiri dari kursinya, dia melihat ke arah kaca gedung pemerintah yang dijaga ketat ini. Dia melihat asap mengepul dimana-


mana. Suara peluru berdesing memenuhi hampir setiap inci dari wilayah di negara ini.


"Aku tidak melihat kalau semuanya akan baik-baik saja, Bapak Presiden."


Presiden dan wakilnya hanya saling bertatapan satu sama lain. Mereka tahu kalau mereka sudah gagal untuk menjaga negara ini tetap baik-baik saja. Bahkan sekarang semua orang sudah tahu kalau negara ini dikuasai dan dikendalikan oleh segelintir orang tidak waras yang sudah puluhan generasi menguasai negara ini.


"Aku yang akan putuskan semuanya sekarang, Bapak Presiden. Kita harus melakukan upaya terakhir agar masalah ini tidak semakin membesar. Aku dan kelompokku yang akan bertindak."


"Kami akan menangkap dan mengeksekusi semua orang yang berani membantah kepada pemerintah. Dan anda yang akan menjalankan semua perintah itu, dengan menerapkannya kepada para tentara. Agar mereka tidak ikut memberontak, tekan kehidupan mereka."


"Maksud Sang Ratu?" tanya Wakil Presiden.


"Pecat dan eksekusi mereka yang memberontak. Tanpa pengecualian."


"Lalu bagaimana dengan negara lain? Mereka semua sudah mengirimkan surat kepada kita. Mereka akan menginvasi negara ini. Dan bahkan, semua negara di dunia telah bersiap dengan nuklir mereka masing-masing. Sedangkan kita tidak akan mungkin bisa bertahan dari serangan semacam itu." Ucap Wakil Presiden dengan nada tinggi.


Dia mulai kesal karena terus menerus harus diperbudak oleh orang-orang yang dianggapnya aneh dan tidak penting itu. Namun sepertinya kemarahannya itu tidak akan mendatangkan hasil apa pun. Karena tanpa dia duga, salah seorang pengawal dari Sang Ratu langsung menembaknya. Hal itu juga mengagetkan Sang Ratu, karena orang itu adalah Jimmy.


Lalu bagaimana bisa Jimmy ada disana tanpa Sang Ratu mengetahuinya?


Dan bagaimana caranya Jimmy bisa kabur dari ruang tahanan secepat itu?


Padahal sudah sangat jelas kalau Jimmy berada dalam keadaan yang terdesak. Dan dia tidak memiliki banyak kekuatan untuk melakukan perlawanan, kecuali dibantu oleh sahabat-sahabatnya.


Bagaimana semua itu bisa terjadi?