Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Menghantuiku


Setelah menghabiskan tujuh belas jam yang menyiksa, akhirnya Hardhan sampai juga di CGK pada pukul empat pagi.


Disepanjang perjalanan tidak henti-hentinya ia mengkhawatirkan keselamatan istri dan anak-anaknya, juga keselamatan Sonya dan anak-anaknya.


Setelah keluar dari pesawat komersil yang ia naiki bersama dengan Dino dan keempat anak buahnya, Hardhan memasuki jalur khusus penumpang VIP.


Dan saat menyerahkan passportnya ke bagian imigrasi, petugas itu langsung bolak balik menatap Hardhan lalu ke passportnya, kemudian ke Hardhan lagi.


"Anda Hardhan Adipramana?" tanya petugas itu, dengan tatapan seperti melihat hantu. Membuat Hardhan yang sedang terburu-buru menjadi tersulut emosinya.


"Memangnya ada berapa Hardhan Adipramana di negara ini?!! Hanya saya satu-satunya!! Cepat stempel jangan buang-buang waktu!!" geram Hardhan.


"Tapi... Anda dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat Pak... Atau..." petugas imigrasi itu tidak melanjutkan kata-katanya, ia langsung menelepon seseorang.


"Kecelakaan pesawat apa maksudmu?!! Pesawat kami landing dengan selamat... Apa kau kira yang berdiri di depanmu ini hantu?!! Hei kau menelepon siapa... Saya sedang bicara denganmu!! Mau saya minta mereka untuk memecatmu!!!" raung Hardhan.


Hardhan balik badan menatap Dino dan anak buah lainnya, yang dari tatapan mereka terlihat sama bingungnya dengan Hardhan mendengar pernyataan petugas imigrasi itu.


"Telepon Alex sekarang juga!!!" perintah Hardhan ke Dino, dan tanpa buang waktu lagi Dino langsung mengaktifkan handphonenya dan menelepon Alex.


"Tidak aktif boss..." seru Dino.


"Aarrgghh!!! Disaat seperti ini malah tidak aktif handphonenya!!" geram Hardhan.


"Maaf Pak Hardhan silahkan ikuti saya..." seru petugas itu setelah menutup teleponnya.


Sambil menaikkan sebelah alisnya dengan tegas, Hardhan melipat kedua lengannya di depan dadanya, "Siapa kau berani-beraninya memintaku mengikutimu... Kau pikir saya buronan?!! Panggil Pak Kevin kesini sekarang juga... Atau saya tidak akan pernah mau investasi lagi di proyek dia selanjutnya!!" gertak Hardhan.


"Tapi Pak Kevin meminta anda untuk menunggu diruangannya... Kata beliau supaya pak Hardhan bisa menunggu sambil istirahat dengan nyaman disana... Pak Kevin sedang menuju kesini..." jelas petugas itu.


"Kau pikir saya punya waktu untuk menunggunya?! Saya tidak akan seemosi ini kalau saya sedang tidak dikejar-kejar waktu!! Sambungkan ke Kevin sekarang juga!!" kata Hardhan dengan nada yang tidak ingin dibantah, yang selalu berhasil ia terapkan pada anak buahnya, dan ternyata berhasil juga pada petugas imigrasi itu.


Petugas baru akan menghubungi Kevin ketika ponsel Dino berbunyi, dan Dino langsung menyerahkannya ke Hardhan,


"Mr. Kevin Boss..." seru Dino dan Hardhan langsung memindahkan ponsel itu ke tangannya lalu menempelkan ketelinganya.


"Berani kau menahanku disini... Kau mau mati ya!!!" raung Hardhan.


"Ya Tuhan... Ternyata itu benar kau Hardhan... Aku pikir ada seseorang yang menyamar menjadi dirimu..." sahut Kevin.


"Siapa yang akan berani menyamar sebagai diriku? Dan kenapa kau bisa meragukan saya?!!!" cecar Hardhan.


"Kau belum melihat beritanya Dhan? Oh iyaa aku lupa pesawatmu baru saja mendarat... Ada kecelakaan pesawat pribadi... Dan namamu tertera sebagai salah satu korbannya... Astaga... Bahkan namamu jadi trending topic di media sosial Dhan..." jelas Kevin membuat mata Hardhan membelalak lebar, dan langsung menatap Dino serta anak buah lainnya.


"Ya Tuhan..." gumam Hardhan pelan.


"Jadi kau mengerti sekarang kan kenapa aku ragu yang berada di bandara saat ini adalah kau Hardhan... Sebaiknya kau jelaskan kenapa pesawat pribadimu itu bisa meledak di udara... Dan kau tidak ada di dalamnya?"


"Aahh sial!!! Dino kau ikut saya!!" seru Hardhan, lalu megalihkan perhatiannya ke anak buahnya yang lain, "Kalian selesaikan urusan disini... Dan jelaskan yang harus dijelaskan pada mereka!!"


Hardhan kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya, "Ini menyangkut hidup mati istri saya!! Sampai kau masih berani menahan saya juga... Saya akan tarik semua investasi saya!!" ancam Hardhan.


"Baik lah kau boleh pergi, aku akan membuat jumpa pers dan kau harus menjelaskan kepada media dan dunia kalau kau masih hidup..." sahut Kevin.


"Atur saja waktunya... Saya akan hadir!"


Tanpa buang waktu lagi Hardhan langsung bergegas keluar bandara, bersama Dino mereka langsung menaiki taksi pertama yang mereka temukan.


"Rumah sakit X... Nyawamu bergantung pada seberapa cepatnya kau sampai ke rumah sakit itu!!" gertak Hardhan ke supir taksinya, membuat supir itu menganga lebar.


"Kenapa bengong?!! Cepat jalan!!" geram Hardhan, lalu supir itu langsung mengangguk dan menancap gasnya.


Perasaan Hardhan kuat, kalau Kei mendengar berita itu Kei pasti akan langsung syok. Dan Hardhan sudah paham betul apa yang terjadi pada tubuh Kei kalau istrinya itu sedang syok. Kei pasti saat ini sedang dirawat di rumah sakitnya.


Karena masih jam lima kurang, jalanan ibukota masih terlihat sepi, dan hanya dalam waktu lima belas menit Hardhan sudah sampai di rumah sakit.


"Beri dia tips No!!" perintah Hardhan dan langsung melompat turun meski taksi itu belum berhenti sepenuhnya.


Dengan langkah tergesa-gesa, Hardhan melangkahkan kakinya ke ruang presidential suite, yang ia yakini Kei sedang dirawat saat ini.


Dan saat melewati lorong ruangannya, semua bodyguard yang sedang berjaga menatap Hardhan seperti menatap hantu, bola mata mereka nyaris keluar saat melihat Hardhan lalu ke Dino yang sudah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Hardhan, lalu kembali ke Hardhan lagi dengan cara pandang yang identik.


Hardhan mengabaikan tatapan bengong para bodyguardnya itu, mungkin mereka sedang syok saat melihat Hardhan ada disini, bagaimana tidak akan syok kalau orang yang di kabarkan sudah meninggal, tiba-tiba ada di hadapan mereka.


Hardhan langsung membuka pintu ruang presidential suite itu, lalu melangkah cepat melewati ruang keluarga untuk sampai di ruang kamar rawatnya.


Sambil tersenyum lebar Hardhan membuka pintu ruang kamar itu. Hardhan sudah membayangkan Kei akan terlihat bahagia sekali saat melihatnya nanti.


Dan senyuman lebar langsung menghilang dari wajah Hardhan saat melihat dokter Sam sedang memeluk istrinya itu. Langkahnya langsung terhenti, dan nafasnya memburu karena emosi.


"Kau mau mati yaaa!!!" geram Hardhan, lalu dengan sebelah tangan yang mengepal Hardhan menghambur ke arah Sam.


"Aku pasti sudah gila Sam huhuhu... Aku bahkan bisa mendengar suaranya saat ini..." isak Kei dipelukan Sam, membuat langkah Hardhan sekali lagi terhenti.


Tangisan Kei kembali pecah, tangisan yang terdengar pilu, membuat hati Hardhan terasa sakit mendengarnya.


Sam langsung menjauhkan tangannya dari Kei, "Kei... Itu memang Hardhan Kei... Suamimu sudah kembali..." ujar Sam lembut dan Kei menggeleng.


Dengan tidak sabar Hardhan langsung melepas tangan Kei yang melingkar di pinggang Sam, kemudian mendorong Sam menjauh.


Kei langsung mendongakkan kepalanya, dan tangisannya kembali pecah, "Ya Tuhan Hardhan.... Kau bahkan menghantuiku sekarang..." isaknya.