Tawanan Tuan Eden

Tawanan Tuan Eden
Jet Pribadi


Tawanan Tuan Eden, Bagian 4


Oleh Sept


Eden meniup ujung senjata yang dia pegang, kemudian menatap tembok yang berlobang. Dia hanya mengertak Monica, tapi sepertinya gadis itu ketakutan sampai terjatuh pingsan.


Para pelayan dan penjaga membereskan kekacauan itu, sementara Eden, laki-laki berbadan besar tersebut mengangkat tubuh Monica. Membawanya ke dalam sebuah kamar. Kali ini bukan kamar yang ditempati Monica sebelumnya.


"Aku kira dia begitu berani ... ternyata dia tidak seperti yang aku pikirkan," gumam Eden menatap wajah Monica yang tengah pingsan akibat ulahnya.


Gadis itu kini sudah secara sah menjadi istrinya, sesuai catatan sipil, Eden tercatat sebagai suami dari Monica. Meskipun gadis itu tidak tahu kapan hal itu terjadi.


Monica tidak pernah tahu kesepakatan apa yang sudah ayahnya lakukan dengan pria yang memiliki banyak kekuasaan tersebut.


***


Swiss.


Seorang pria melepaskan topinya di atas salju. Pria itu menyesap cerutunya, kemudian memeriksa ponselnya. Ia melihat sisa saldo yang ada di dalam rekening pribadi miliknya. Masih cukup untuk hidup setahun ke depan di sana.


Udara dingin lama-lama membuatnya mencari tempat untuk berteduh, dia perhi ke salah satu penginapan di dekat sungai yang mengalir jernih airnya jika musim panas tiba. Untuk saat ini, hanya hamparan salju yang terlihat sepanjang mata memandang.


"Monic ... suatu saat kau pasti ke sini," ucapnya lalu masuk ke dalam tempat yang jauh lebih hangat.


Sementara itu, sang anak yang dipikirkan, masih berada di dalam hunian asing.


Begitu bangun, Monica langsung memegang jantungnya, ia rasa tadi Eden membidik tepat di jantungnya. Namun, sekarang tidak terasa apa-apa. Tidak ada luka sama sekali. Lalu suara tembakan itu tadi apa?


Monica langsung turun dari ranjang besar tersebut, dia mengintip jendela, ini bukan kamar yang sebelumnya. Dia berjalan ke arah pintu, tapi pintunya terkunci dari luar.


Tok tok tok


"Siapapun di luar! Tolong buka pintunya!" teriak Monica.


Beberapa kali dia mengetuk dengan keras, tapi semuanya sia-sia. Para pelayan dan penjaga tidak ada yang merespon. Semuanya jelas takut pada Eden, tidak ada yang berani mengusik kamar utama tersebut.


"Tolong buka pintunya!"


KLEK


Eden muncul dari balik pintu tersebut dan itu membuat Monica langsung mundur karena takut. Monica masih trauma dengan apa yang Eden lakukan padanya beberapa waktu yang lalu.


"Lepaskan aku!" pinta Monica.


"Tolong lepaskan aku."


"Kau tidak mengerti bahasa manusia?" cetus Eden.


Monica beringsut mundur, dia sangat takut ketika Eden merogoh saku jasnya. Padahal Eden hanya mengambil telepon miliknya yang bergetar.


Ia keluar sebentar, lalu berbicara agak jauh dari Monica.


"Oke. Siapkan pasport dan lainnya!" kata Eden di telepon. Lelaki yang memiliki bulu-bulu tipis di dagunya itu kemudian mematikan telepon.


Ia lalu berbalik dan mengunci Monica di dalam kamarnya. Tidak peduli Monica teriak minta keluar. Eden meninggalkan begitu saja.


***


Meskipun dikurung, ketika jam makan, Monica mendapatkan makanan yang cukup dan nilai gizi tinggi, hanya saja kebebasannya dirampas oleh pria asing yang tiba-tiba mengaku sebagai suaminya.


Sampai akhirnya tiba-tiba dia dibawa keluar dan dimasukkan ke dalam mobil. Mereka menuju ke sebuah pangkalan udara khusus, dan Monica kaget dipaksa masuk ke dalam jet pribadi.


"Kau akan membawaku ke mana?"


Pertanyaan Monica tidak dijawab.


"Aku bertanya padamu!"


Anak buah Eden hanya melirik, dan itu membuat Eden tidak nyaman.


"Bisa diam saja?"


Barulah Monica terdiam, apalagi tatapan Eden memang menakutkan. Takut ditembak lagi, Monica memilih diam selama dalam penerbangan tersebut.


Dari jendela di sebelahnya, terlihat awan putih di bawah seperti tumpukan kapas. Lama-lama Monica mengantuk, dan akhirnya tertidur. Tidak terasa, begitu bangun kepalanya malah menempel di lengan kekar Eden.


Monica langsung bergegas bangun, duduk normal kembali, dan diliriknya Eden yang memiliki paras menawan itu memejamkan mata.


"Sebenarnya wajahnya lumayan," gumam Monica.


Untuk sejenak, dia mengangumi sosok pria yang duduk di sebelahnya itu.


"Jangan menatapku terus!" celetuk Eden, padahal matanya terpejam.