Tawanan Tuan Eden

Tawanan Tuan Eden
Tawanan


Tawanan Tuan Eden, Bagian 3


Oleh Sept


"Suami?" gumam Monica mengulang kata itu beberapa kali.


"Suami? Suami siapa? Hei ... tunggu!"


Monica turun dari ranjang dan menyusul kepala pelayan yang akan meninggalkan kamarnya. Sesuai perintah tuan Eden, sebenarnya dia dilarang banyak bicara.


"Maaf, Nona ... saya tidak bisa mengatakan apapun lagi. Permisi."


"Tunggu!" Monica memegang tangan kepala pelayan itu, dia masih belum mendapatkan kejelasan. Dia di mana dan untuk apa dibawa ke sana. Monica butuh seseorang untuk menjelaskan situasi yang terjadi.


"Tolong jawab aku, di mana aku sekarang?" Monica memegangi bahu Elisa, kepala pelayan yang sudah lama mengabdi di mansion tersebut.


"Maaf, Nona. Itu di luar kuasa saya. Biar Tuan Eden yang akan menjelaskan. Permisi," ucapnya lalu buru-buru pergi. Dia seperti takut kalau salah bicara. Tidak hanya masalah gaji, tapi berkaitan dengan keselamatannya juga.


Sementara itu Monica merasa kecewa, dia kemudian keluar dari kamarnya yang luas. Melihat sekelilingku. Mansion itu terlalu luas untuk ditelusuri. Dan terlalu sepi juga, hampir tak berpenghuni.


"Sebenarnya di mana aku?" gumam Monica.


Langkah kecilnya terus maju, hingga menuruni anak tangga satu demi satu. Setelah itu, barulah dia bertemu maid yang lain. Bukan kepala pelayan bernama Elisa tadi.


"Selamat pagi, Nona. Apakah Nona membutuhkan sesuatu?"


Monica menggeleng, banyak pertanyaan bergelayut di benaknya. Kenapa semuanya yang bertemu di sana terkesan sangat hormat padanya?


"Nona, apa Nona ingin membersihkan diri? Airnya akan saya siapkan," tawar pelayan tersebut.


"Tidak ... tidak perlu. Aku hanya ingin tahu, siapa pemilik Mansion ini," kata Monica tanpa basa-basi.


"Pemilik Mansion?" ulang sang pelayan.


"Ya."


Pelayan pikir Monica sedang bercanda, kenapa dia bertanya siapa pemilik Mansion ini segala.


"Maaf, Nona ... maksud Nona?"


"Aku ingin tahu, siapa pemilik tempat ini!" kata Monica.


"Tuan Eden, suami Nona sendiri."


Monica semakin muak mendapatkan jawaban yang sama. Suami? Suami apa? Siapa yang menjadi suaminya? Menikah saja belum pernah. Kapan mereka menikah? Kenapa semuanya mengatakan dia sudah bersuami. Orang-orang sepertinya sudah gilaa semuanya.


"Tolong jawab dengan jujur, apa ada yang menyuruh kalian mengatakan kebohongan ini padaku? Aku belum menikah ... aku jelaskan. Aku masih belum menikah!" ujar Monica tegas.


Pelayan kelihatan bingung, sebab yang mereka tahu, Monica adalah istri yang baru Eden bawa pulang.


"Maaf, Nona ... bolehkah saya pergi?" tanya sang pelayan. Sepertinya dia takut kalau memberikan pernyataan yang bertentangan dengan Eden.


"Kenapa kalian semua menghindar?" bentak Monica yang merasa frustasi. Namun, semuanya percuma. Orang-orang langsung menjauh. Seolah takut jika berbicara dengannya.


Kesal, Monica berjalan cepat. Dia akan keluar dari sana. Namun, saat tiba di teras, ada beberapa mobil terparkir di halaman mansion yang luas tersebut.


Monica kemudian melihat siapa yang ada di depan sana. Setelah tahu, buru-buru dia masuk. Dia masih ingat, mereka adalah salah satu penculik waktu itu, kaki tangan paman yang merupakan rekan bisnis lama ayahnya.


Sepertinya dia lebih aman di sini, di luar sana sangatlah berbahaya. Namun, dia juga penasaran. Akhirnya mengintip dari balik pilar besar.


Dilihatnya sosok laki-laki yang kemarin berada di atap bersamanya. Pria itu pasti yang namanya Eden. Pria yang kata orang adalah suaminya. Mustahil, bagaimana mungkin mereka menikah? Eden sepertinya tahu sedang diintip, ia menoleh sebentar, tapi Monica langsung bersembunyi.


"Kau tangani mereka!" seru Eden. Laki-laki itu kemudian masuk ke dalam mansion.


Begitu masuk mansion, dilihatnya Monica berdiri dan bersembunyi.


"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya pria pemilik suara tegas itu.


"Ti-tidak," jawab Monica gugup.


"Masuklah!" titah Eden.


"Kenapa kau menyuruhku. Siapa kau sebenarnya?" Monica mendongak, menatap pria itu dari dekat.


"Jangan banyak bertanya!" cetus Eden dengan dingin.


"Tapi ... tapi mengapa mereka semua mengatakan kau suamiku?"


Eden langsung terdiam, setelah itu mengangkat wajahnya tinggi.


"Jangan terlalu senang dulu ... tanyakan pada ayahmu. Karena ayahmu yang menjualmu!"


Ayah yang mana lagi? Ayahnya bahkan tidak bisa dihubungi. Ayahnya juga yang membuat Monica terbawa-bawa oleh permasalahan yang rumit ini.


"Ya ... ayahmu memang memperlakukan mu layaknya barang!" tegas Eden sekali lagi.


Monica merasa geram, dia ingin membantah tuduhan laki-laki itu.


"Kau pasti berbicara omong kosong!"


Eden hanya tersenyum getir. Ia kemudian masuk ke dalam suatu ruangan, setelah itu kembali dengan sebuah berkas yang sudah difotokopi.


"Apa ini?"


Monica jelas kaget, berkas-berkasnya pernikahan secara sah dan legal. Sejak kapan dia menikah dengan Eden? Kenapa bisa? Kenapa juga dia tidak tahu apapun? Saat melihat tanggal, dia semakin terkejut.


"Bohong! Kau tidak punya kuasa atas semua ini! Aku menolaknya. Ini tidak sah!" Monica melemparkan bukti-bukti tersebut.


Eden tidak menjelaskan apapun, dia malah naik ke lantai atas, kemudian sambil berbicara lirih.


"Tanyakan pada ayahmu itu!"


"Kau penipu!" teriak Monica kencang.


"Pelankan suaramu!" sentak Eden.


Monica marah, ia kemudian berlari ke luar. Namun, malah dibawa masuk lagi oleh dua penjaga dengan badan tegap dan sepertinya bodyguard.


"Lepaskan aku!"


Monica dikurung di dalam kamarnya. Dia tidak habis akal, ia keluar melalui balkon. Menyusun tirai menjadi satu. Untuk dijadikan tali.


"Kau pikir, kau bisa mengurungku?" gumam Monica. Dia hampir senang karena bisa lari dari sana dan dia juga merasa sangat puas, saat kakinya akan mengapai tanah.


...


"Apa aku harus mengikatnya?"


Deg


Monica menatap sekeliling, ternyata ada bodyguard dan Eden yang menunggunya.


"Ikat dia!" seru Eden tegas. Kemudian masuk ke mansion lagi.


"Tunggu ... tunggu lepaskan!"


Monica berusaha keras melawan, tapi tenaganya terlalu kecil. Ia kalah jika terus melawan, sampai akhirnya dia diikat di kamarnya dan jendela di kunci dari luar.


"Kalian penjahat!" teriak Monica.


Ia berteriak sampai kelelahan, capek mengumpat dan sumpah serapah. Akhirnya berbaring dengan kaki dan tangan diikat tali.


"Nona ... Nona. Makan lah. Talinya akan dilepas saat Nona makan."


Kesempatan, Monica berlagak penurut, tapi setelah talinya dilepas, dia mendorong pelayan dan langsung lari ke luar kamar.


Dengan cepat dia menuruni tangga, berlari kencang untuk kabur. Karena di mansion itu, dia juga sepertinya diculik.


Klek klek


Beberapa kali dia membuka pintu utama, tapi tidak bisa.


"Nona."


"Jangan mendekat!" Monica mengulurkan vas bunga pada pelayan.


Disusul oleh penjaga yang mendengar keributan.


"Ada apa lagi ini?" ujar Eden marah. Sejak ia membawa Monica, mansion jadi kacau.


"Tolong lepaskan aku!" pinta Monica. Dilihatnya Eden menuruni tangga.


"Oh ... kau mau keluar dari sini? Baiklah ... akan aku ijinkan kau keluar dari sini. Tapi sebelumnya ... aku berikan dulu hadiah untukmu," ucap Eden dengan tenang.


Pria berambut cepak dan rapi itu lantas merogoh sesuatu dari balik punggungnya. Kemudian mengosok nya. Lalu mulai mengecek isinya.


Kontan saja mata Monica terbelalak. Apa dia akan mati? Monica semakin gemetar, tatkala benda itu perlahan di arahkan ke jantungnya.


"Kau ... Ka-u mau membunuhku?" tanya Monica dengan bibir yang gemetar.


DORRR


Kaki Monica seketika lemas, ia perlahan ambruk.