
Bahkan belum sampai satu hari, berita yang Eti sebarkan sudah menyebar luas.
Ibu-Ibu yang kembali memberikan kabar pada suami masing-masing. Belum lagi para Bapak-Bapak yang mempunyai tugas ronda pada malam hari, mereka juga membicarakan hal yang sama. Membuat berita lebih cepat tersebar.
Bahkan bulan belum berganti menjadi matahari, tapi suasana riuh akan kabar simpang siur yang menyebar sudah membuat heboh warga.
Masyarakat desa yang masih mempercayai hal mistis pun mengaitkannya dengan berbagai kejadian selama Sheryl sudah datang ke desa.
Padahal semua itu sudah takdir tuhan yang tidak bisa di ubah oleh manusia, tapi ada saja yang masih menyangkut pautkan hal tersebut.
Rasa tidak suka dalam diri para warga pada Sheryl mulai bermunculan, apalagi mereka yang memang sudah iri dengan adanya berita ini malah menambah semangat untuk mencaci.
...----------------...
Sedangkan orang yang sedang menjadi pembicaraan belum mengetahui adanya berita buruk yang tersebar mengenai dirinya.
Bahkan para staff puskesmas pun belum mengetahui berita ini karena memang kemarin masih hari kerja mereka. Sudah pasti setelah jam kerja beres mereka akan langsung pulang dan beristirahat.
"Pengen tidur tapi gak mau merem gimana dong?" curhat Sheryl pada Daren yang memang masih membuka matanya.
"Ya tinggal baring, tutup mata, sudah selesai," jawab Daren malas. Kenapa wanita selalu membawa pusing hal yang mudah! Aneh Daren dalam hati.
"Ya tapi gak bisa merem!" sungut Sheryl cemberut.
"Ya ya terserah padamu saja." malas Daren.
"Ih nyebelin!" kesal Sheryl menghentakkan kakinya kesal dan pergi menuju tempat tidurnya.
Daren hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Tapi dalam pandangannya Sheryl sangat menggemaskan.
"Dia yang tanya, dia yang marah. Sudah selesai dia tidur juga." geleng Daren tak habis pikir. Namun tetap tersenyum geli.
Daren dengan santainya berdiri dan mengganti perban yang membalut tangan serta perutnya.
"Luka ini sudah mengering, tapi jika terlalu di tekan atau di paksa bergerak pasti akan kembali mengeluarkan darah," gumam Daren memperhatikan luka-lukanya.
Daren juga berjalan ke kamar mandi dan membasuh bagian tubuhnya. Selama ini biasanya Sheryl yang mengelap tubuhnya, itu pun tidak setiap hari.
Untuk ke kamar mandi Sheryl juga yang membantunya berjalan dan menunggu dirinya sampai selesai. Baru setelahnya memeriksa apakah lukanya ada yang terbuka atau tidak.
Tidak tahu saja Daren sudah sering berjalan sendiri dan mengganti perbannya saat Sheryl sedang tertidur.
Sheryl tidak pernah membuka seluruh pakaian Daren saat sudah membuka mata. Lebih sering dia menutupi bagian vital agar menjaga privasi pasien.
Daren yang sudah selesai dengan kegiatannya kembali ke atas tempat tidurnya dan memastikan bahwa perbannya masih sama walau memang lebih rapi dari perban yang di pakaikan Sheryl, namun tidak akan di sadari oleh Sheryl.
Daren masih memikirkan bagaimana dirinya nanti agar bisa tinggal di desa ini untuk sementara waktu.
Bisa saja dia mengatakan ingin menetap sementara waktu, tapi dia belum tahu banyak tentang wilayah yang baru pertama kali dia datangi ini.
Mungkin juga mereka akan memberikan pilihan untuk tetap tinggal atau di antar menuju kota agar dia bisa menemukan keluarganya, tapi bisa saja mereka sendiri langsung mengantarkan dirinya tanpa bertanya lagi.
"Semakin di pikirkan, semakin membuat kepala sakit! Lebih baik besok saja dipikirkan lagi." ucap Daren dalam hati.
......................
Pagi hari bahkan menjelang siang kabar yang tersiar sudah semakin meresahkan warga.
Beberapa orang bahkan terlihat berkumpul saat mereka sedang berkerja di kebun, bahkan para Ibu-Ibu dan para anak gadis yang sedang berkumpul membeli sayur dan bahan pokok lain belum juga pulang ke rumah masing-masing. Mereka masih terus membicarakan keburukan Sheryl.
Pada sore hari mereka memutuskan untuk berkumpul di rumah Kepala desa agar bisa mengatasi masalah ini.
Beberapa bahkan ada yang dengan semangat berkata agar Sheryl di usir dari desa. Supaya desa mereka aman dari marabahaya.
Sore hari
"Bagaimana ini Pak Kades?! Beritanya semakin simpang siur! Bahkan ada yang bilang jika Bu Dokter sedang hamil saat ini, karena tidak melihatnya keluar dari puskesmas! Jika benar bisa bahaya desa kita! Nama baik desa juga akan hancur!!!" narasi salah seorang warga, sebut saja namanya Suprapto.
"Betul itu Pak!!!"
"Betul!!!"
"Iya Pak!!!"
"Bagaimana Pak!?"
"Tolong tegas Pak!"
"Usir saja langsung!!!"
Teriakan warga lain saling bersahutan.
"Tolong tenang Bapak-Bapak Ibu-Ibu jangan gegabah! Kita belum tahu kebenaran berita ini! Jangan sampai kita salah menuduh!" jelas Kepala desa bijak. Tidak tahu saja anaknya yang berulah.
"Tapi jika kita lihat lagi kejadian-kejadian yang menimpa desa kita, itu semua saling berkaitan Pak!! Atau jangan-jangan Bapak juga sudah menjadi korban dari wanita m*****n berkedok Dokter itu!?" marah warga lainnya, Budi.
"Astaghfirullah!!! Jangan asal menuduh! Saya bukan membela Dokter itu, tapi tugas saya sebagai pemimpin harus mencari bukti agar kita tidak termasuk orang yang asal menuduh!" tegas Kepala desa yang tidak suka jika dia disangkutpautkan.
"Begini saja! Saya dan para tetua desa akan berdiskusi sebentar. Keputusan yang kami ambil nanti harus bisa kalian terima. Bagaimana!?" tawar Kepala desa agar api amarah warga mereda.
"Baik jika memang begitu! Tapi kami akan menunggu di sini!" ucap Suprapto menimpali setelah berdiskusi dengan warga beberapa saat.
Di desa ini masih banyak warga yang menjunjung tinggi para guru atau orang yang dianggap lebih tua dan mempunyai banyak petuah bijak.
Para tetua ini juga orang yang turut membangun desa secara turun temurun atau bahkan seorang guru besar yang memiliki ilmu agama yang kuat dan memilih membangun sebuah tempat belajar di desa mereka.
"Baik! Saya harap kalian tidak memberontak dan bertindak gegabah selama kami sedang berdiskusi! Tolong tetap tertib. Jika tidak lebih baik kalian semua membubarkan diri saja!" tegas salah satu tetua desa. Kakek Syarief.
"Baik Kek!!!" teriak serempak warga desa menyetujui.
Para tetua yang berjumlah 5 orang serta Kepala desa, masuk ke dalam rumah milik Kepala desa dan memasuki ruangan kerja yang tertutup agar tidak ada yang bisa mendengarkan keputusan mereka nantinya.
Perdebatan alot antara para tetua dan juga berbagai macam sudut pandang mereka keluarkan agar menemukan titik terang terbaik yang bisa mereka ambil.
Perdebatan terasa ini semakin lama, karena tidak ada bukti yang jelas. Dengan begitu mereka harus mempunyai beberpa alternatif keputusan agar tidak salah mengambil keputusan.
Ya semoga saja!
.
.
.
Tbc...