Suamiku Menjadi Adik Iparku

Suamiku Menjadi Adik Iparku
S2-Part35


Ica memasuki restoran itu dengan hati yang jengkel, bertemu dengan Gibran membuat nya selalu merasa sial.


“Semoga saja aku tidak bertemu lagi dengan nya” batin Ica sambil menarik kursi untuk ia duduki.


*


*


Sementara itu di dalam mobil Gibran, dia kembali berpikir tentang apa yang dia ucapkan tadi.


“Kenapa aku bisa langsung bilang seperti itu sih” gerutu Gibran sambil matanya tetap fokus kejalanan.


Tapi Gibran sudah terlanjur berkata seperti itu, bagaimana jika Allah mengabulkan kata-kata nya apa mungkin Gibran harus menepati apa yang telah ia ucapkan.


“Jika dia jodohku pasti Allah akan mempertemukan kami lagi” batin Gibran.


Perjalan siang itu sedikit mengalami kemacetan, mungkin karena waktunya makan siang, Gibran kemudian mengingat kalau dia belum melaksanakan sholat Dzuhur, dia pun segera mencari masjid terdekat untuk menunaikan ibadahnya.


Sampailah dia di sebuah masjid, Gibran pun langsung memarkirkan mobilnya dan keluar, dia melangkah ke tempat pengambilan air wudhu, setelah selesai Gibran pun masuk kedalam masjid untuk melaksanakan sholat Dzuhur.


*


*


*


DI JAKARTA -----


Saat itu Zea sedang berbalas SMS dengan Fauzan, sebenarnya Zea ingin menanyakan kepada Fauzan kapan dia kembali melamarnya.


Zea ; Mas Fauzan sudah makan ??


Fauzan : Sudah dek, adek sendiri sudah makan belum ??


Zea : sudah Mas.


Hening tak ada lagi balasan dari Fauzan, padahal Zea masih menunggu Fauzan mengiriminya pesan lagi, hingga tak berapa lama ponselnya kembali berbunyi


Fauzan : dek, mas boleh tanya gak ??


Zea tersenyum, dia sangat senang akhirnya Fauzan kembali mengiriminya pesan, dengan cepat dia mengetik balasan SMS Fauzan.


Zea : Boleh, emang mas Fauzan mau nanya apa ??


Fauzan : Seandainya mas kembali melamar adek, kira-kira kedua orang tua adek sudah merestui belum ??


Akhirnya yang di tunggu-tunggu Zea di bahas juga, dari tadi Zea selalu menunggu pertanyaan itu, sebuah pertanyaan yang membuat Zea merasa sangat bahagia.


Zea : Sebenarnya Papa dan Mama sudah menanyakan kapan mas Fauzan melamar Zee kembali, jadi kalau mas Fauzan ingin melamar Zee lagi, insya Allah mereka merestui Mas.


Fauzan : Alhamdulillah, baik kalau begitu mas akan segera melamar kamu lagi, tunggu ya bidadariku, calon makmum ku.


Zea : Insya Allah Zee akan selalu menunggu mas Fauzan, semoga semua nya di perlancar ya mas.


Fauzan : Aamiin.


Akhirnya mereka berdua menyudahi acara SMS an nya, hati Zea kembali berbunga-bunga karena sang dambaan hatinya akan segera melamarnya kembali,.


“Lancarkan lah niat baik kami ya Allah” doa Zea dalam hati, kemudian dia mengusapkan kedua tangan nya ke wajah sembari berkata “Aamiin”


*


*


Kembali ke kota D ----


Setelah makan siang, Ica langsung mencari masjid untuk melaksanakan sholat Dzuhur juga.


Setelah selesai Ica menengadahkan kedua tangan nya, untuk berdoa.


“Ya Allah, hamba tau Hamba bukan lah wanita yang suci, terlalu banyak dosa hamba yang telah hamba lakukan, tapi jika engkau masih mengizinkan untuk memberi hamba seorang suami, maka dari itu pertemukan lah hamba dengan orang yang baik, yang akan menerima semua kekurangan hamba”


Setelah selesai Ica mengusapkan kedua tangan nya di wajah yang sudah basah karena air mata.


Kembali dia mengingat dosa-dosa nya di masalalu, kesalahan yang amat besar yang telah dia lakukan hingga membuat nya merasa sangat bersalah.


Hingga akhirnya dia beranjak dari sana, melipat mukenahnya dengan rapih, kemudian keluar dari sana, di dalam perjalanan menuju butiknya entah kenapa Ica selalu terbayang dengan kata-kata Gibran.


Ada rasa bahagia di saat dia mengingat kata Gibran kalau dirinya itu cantik dengan berpakaian seperti ini, tapi saat mengingat kata Gibran ingin menikah dengan nya jika mereka bertemu lagi membuat Ica sadar.


“Apa dia mau menerima semua kekurangan ku ??” batin Ica.


“Ih apaan sih kok malah ngarep banget dia menikahi aku” ucap Ica lagi.


Sebagai perempuan normal Ica juga sangat berharap dia menjadi seorang istri, dan mempunyai keluarga kecil, Jika saja dia tidak kabur saat itu mungkin saja dirinya dan Zahran sudah menjadi keluarga yang bahagia.


Ica menggeleng kan kepalanya, mana kala dia kembali mengingat Zahran, Ica sudah berjanji untuk melupakan Zahran, dan membuka lembaran baru, dia tidak ingin mengganggu rumah tangga Zahran lagi.


Akhirnya Ica sudah sampai kembali di butiknya, para karyawan nya baru saja selesai beres-beres.


“Kalian semua sudah pada makan siang ??” tanya Ica.


“Sudah bu” jawab mereka serempak.


Ica hanya mengangguk.


“Baikah sekarang kita tutup dulu butik nya, besok kalian datang lagi sekaligus kita peresmian butik ini” ujar Ica.


“Baik bu”.


Ica dan ketiga karyawan nya bersiap-siap untuk pulang, setelah selesai menutup butik itu Ica memasuki mobil nya.


“Saya duluan ya !!” ucap Ica kepada ketiga karyawan nya.


“Iya bu”


*


*


Sementara di ponpes Zenia sedang mengobrol dengan Aisyah dan Elia, sembari menemani Raja, Arda dan Adel bermain.


“Dek Elia kenapa belum hamil ?? apa memang sengaja di tunda dek ??” tanya Zenia pelan.


“Iya kak Nia, kami memang sengaja menundanya, Kak Nia tau sendiri kan kalau aku sama Zaidan di jodohkan, makanya kami ingin saling mengenal dulu” jelas Elia.


“Oh begitu, tapi kalau sekarang sudah siap untuk hamil ??" Zenia kembali bertanya.


“Insya Allah siap kak, Elia jadi pingin merasakan hamil juga seperti Kak Nia dan Mbak Ais”


“Semoga di segerakan" sahut Aisyah.


“Aamiin” balas Zenia dan Elia serempak.


Tidak lama Umi datang, dia sangat bahagia melihat ketiga menantunya berkumpul seperti itu.


“Wah ketiga menantu cantik Umi sedang kumpul rupanya ??” Seru Umi tersenyum.


“Hehe, iya Umi, Sini Umi duduk di dekat Nia” balas Zenia sembari menepuk sofa sebelahnya untuk di duduki Umi.


“Iya sayang” Umi pun duduk di samping Zenia, kemudian dia memperhatikan ketiga cucunya yang sedang bermain.


“Uti, cini main cama Dedek, kita main doktel-doktelan” ucap Adel.


“Baiklah, mari kita bermain, Uti jadi pasien nya yah” balas Umi dengan senang.


“Iya dong, Kan adek yang jadi doktel nya”


Tidak mau kalah Arda dan Raja juga mengajak sang nenek bermain.


“Main sama kakak Ar juga Uti, kita main pesawat, kita keliling dunia, kan Kakak Ar mau jadi pilot” sahut Arda.


“Sama Abang juga, tapi main te mbak-tembakan” Raja pun tak mau kalah, sehingga membuat Umi kewalahan, Zenia hanya tersenyum melihat ketiga anak nya yang berebut ingin bermain bersama Umi.


“Jangan rebutan, main nya sama-sama saja” ujar Zenia kepada ketiga anak nya.


“Mereka bertiga cita-citanya bagus-bagus ya kak Nia” kata Aisyah yang memperhatikan ketiga keponakan nya.


“Iya dek Ais, Alhamdulillah” balas Zenia.