
Seperti biasa Belle tampak sibuk di dapur nya, rundingan terbaru soal Ina teman nya yang seharusnya Bekerja dirumah Bern akhirnya pindah bekerja di apartemen milik Abigail karena laki-laki itu mencari seseorang yang bisa mengurus apartemen milik nya belakangan ini.
Belle fikir dia masih cukup bisa melakukan sedikit pekerjaan rumah, sebab dia tidak mau privasi mereka terjaga, apalagi Belle jelas sungkan jika teman yang bekerja di kediaman mereka.
Bern tampak asik menyesap teh miliknya sambil tangannya dengan lincah mulai bergerak menyusun tiap neraca keuangan serta mempelajari proyek-proyek yang pernah berjalan di De Lucas company, keputusan bijak laki-laki itu mulai perlahan keluar dari dunia mafia nya dan mulai belajar soal perusahaan.
Meskipun sedikit rumit dan tidak mungkin dilaksanakan langsung 💯% namun yang jelas Bern secara perlahan bertekad meninggalkan semuanya.
Belle terus sibuk menyiapkan menu makan malam untuk mereka sejak tadi, sesekali dia melirik ke arah Bern yang tampak sibuk dengan pekerjaan nya, kadang dia mengulum senyum ke arah laki-laki itu, jika telah berkonsentrasi dengan pekerjaan nya Bern bisa sampai lupa waktu.
"Sayang"
Tiba-tiba Bern mengejutkan dirinya dari arah belakang, laki-laki itu tahu-tahu sudah berada di belakang nya, secara perlahan memeluk lembut perut nya.
"hmm?"
Belle langsung menoleh ke arah Bern.
"Aku sudah buat list keberangkatan kita, coba kamu lihat dulu list nya perjalanan nya apakah membuat kamu keberatan atau tidak"
Ucap Bern tiba-tiba.
Belle tampak mengerutkan dahinya.
"keberangkatan?"
Tanya Belle cepat, masih mencoba menoleh kearah Bern.
Laki-laki itu buru-buru meletakkan wajahnya di dagu Belle, sejenak wajah mereka bertemu pandang
"Rencana umroh kita ke Mekkah, mengunjungi keluarga De Lucas yang ada di Prancis kemudian mengunjungi mommy dan Daddy di Manhattan"
Ucapnya sambil menatap dalam bola mata Belle.
"Perjalanan nya cukup membuat kita harus memutar ke beberapa negara, aku harap kamu tidak merasa keberatan ataupun kelelahan nantinya"
Ucap Bern lagi.
Belle Tampak mengembangkan senyuman nya, dia menggeleng pelan.
Jawab Belle cepat.
"Aku fikir kita akan memulai rencana perjalanan nya setelah mendengarkan kapan tanggal pernikahan Eden dan Asha, Daddy Al Fattah bilang dia akan datang Minggu ini untuk membahas resepsi pernikahan kita lebih dulu, jika sudah mendapatkan kesepakatan persepsi nya dimana, kita akan mencocokkan jadwal nya dengan pernikahan Eden dan Asha agar tidak bentrok jadwal acara seperti akad nikah kita kemarin dan pernikahan uncle bahrat dan untie Selena sebab jika terjadi lagi aku khawatir tubuh mu bisa kelelahan melewati semuanya"
"Setelah itu baru kita menentukan jadwal keberangkatan kita semua serta bulan madu kita"
Belle mengangguk pelan.
Dia fikir benar juga, acara nya jangan Sampai terlalu mepet seperti kemarin lagi, sebab jika seperti kemarin lagi Belle yakin jika tubuhnya bakal terasa remuk lagi seperti kemarin, menyiapkan acara pernikahan secara bersamaan benar-benar bukan pilihan bijak, sebaiknya benar-benar menyusun jadwal dengan baik agar hasilnya juga maksimal.
"Kita akan mengunjungi Eden besok pagi"
Ucap Bern lantas secara perlahan menautkan bibir mereka.
Belle sejenak memejamkan bola matanya, menikmati ciuman hangat itu di sela waktu memasak nya.
Tiba-tiba Bern menyingkirkan rambutnya, menyapu lembut belakang lehernya.
"My Bee?"
Belle membuka pelan bola matanya, niat hati ingin menolak jika ini di dapur, tapi suara yang keluar malah sebaliknya, terdengar begitu manja dan menggoda.
Bern dengan gerakan lembut membalik tubuh nya, lantas menaikkan perlahan tubuh nya ke meja makan.
"Mau mencoba nya ditempat yang baru?"
Goda Bern sambil menatap dalam bola mata Belle.
"Bee.."
Rengek Belle pelan.
Secepat kilat laki-laki itu kembali menyambar bibirnya.
Dan seperti biasa Sang suami selalu berhasil menyenangkan dirinya, membawanya melintasi waktu, mengarungi samudera dan membawanya hingga ke Cakrawala.