
Sesaat setelah sesi membersihkan diri dan berganti pakaian, belle baru sadar jika Bern tidak berada di kamarnya, gadis itu fikir kemana laki-laki itu pergi, secara perlahan belle mencoba membaringkan tubuhnya ke atas kasur.
Sejenak Belle menghela pelan nafasnya, teringat satu pesan dari untie Ayana untuk dirinya.
Menikah bukan hanya bertujuan untuk meneruskan keturunan, namun seyogyanya menikah merupakan ikatan sah dari dua insan berbeda, dua karakter yang berbeda, dua pikiran yang berbeda, dan dua sifat yang berbeda yang kemudian disatukan dalam bahtera rumah tangga sebagai suami isteri. Penyatuan tersebut tentu akan menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya, sehingga Allah SWT sebagai Sang Maha Pencipta dalam Firmannya telah memberikan aturan-aturan bagi manusia, agar manusia menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai suami istri sehingga pada akhirnya dapat mengantarkan rumah tangganya sebagai suatu lingkungan yang harmonis sebagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Akad pernikahan dalam syariat Islam tidak sama dengan akad kepemilikan. akad pernikahan diikat dengan memperhatikan adanya kewajiban-kewajiban di antara keduanya. Dalam hal ini suami mempunyai kewajiban yang lebih berat dibandingkan istrinya berdasarkan firman-Nya “akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya”. Kata satu tingkatan kelebihan dapat ditafsirkan dengan firmannya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita…” (QS. An-Nisa ayat 34).[3]
Adapun kewajiban suami terhadap isteri adalah
1. Mahar
2.Nafkah, Pakaian dan Tempat Tinggal.
3.Menggauli istri secara baik.
4.Menjaga istri dari dosa.
5.Memberikan cinta dan kasih sayang kepada istri.
Dan Kewajiban Isteri Terhadap Suami Menurut Al-Qur’an
1.Taat dan patuh kepada suami
2.Bisa menyenangkan suami.
3. Selalu menjaga nama baik suami.
4. Bisa pelan-pelan meredakan kemarahan suami.
5.Melayani suami di atas ranjang.
Dan poin ke lima untuk kewajiban istri seketika membuat Belle menelan salivanya.
Sejenak Belle mencoba memejamkan bola matanya, namun tiba-tiba dalam beberapa waktu terasa seseorang mencoba berbaring di samping nya.
Secara perlahan Belle membuka bola matanya, tampak Bern telah berbaring tepat disamping nya dengan posisi miring kekiri, tangan kirinya menopang kepalanya,dengan tatapan teduhnya dan senyuman manis seperti biasanya laki-laki itu menatap begitu dalam wajahnya.
"My Bee?"
"Sudah mau tidur?"
Tanya Bern sambil menyentuh pelan wajah nya.
Sejenak belle menggeleng kan kepalanya.
Dia fikir bagaimana bisa tidur saat ini, rasanya menjadi begitu aneh dan canggung, dia yang biasa tidur langsung masuk ke dalam pelukan Bern tiba-tiba menjadi sedikit sungkan ketika Belle ingat jika status mereka sudah berubah.
Bern tampak mengulum Senyuman nya saat melihat ekspresi canggung yang di perlihatkan Belle.
Tangan Laki-laki itu secara perlahan membelai lembut rambut Belle.
"Naiklah kemari"
Secara perlahan gadis itu menurut, dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, Belle berusaha untuk menetralisir perasaan nya.
Bern yang jelas tahu bagaimana perasaan gadis itu saat ini, jelas berfikir tidak akan melakukan nya dengan terlalu terburu-buru, dia mencoba menciptakan situasi se aman dan se terkendali mungkin, membuat gadis kecil itu kehilangan perasaan panik nya yang berlebihan.
"Katakan pada ku"
Ucap Bern pelan.
"Hmm?"
Belle tampak menaikkan alisnya.
"Andaikan kita tidak tinggal di Indonesia, apakah itu memberatkan kamu sayang?"
Pertanyaan pertama Bern cukup membuat bimbang Belle.
"Jika seandainya Eden juga tinggal di Prancis, apa kamu mau kita juga tinggal disini?"
Bern kembali bertanya sambil tangannya terus mengelus lembut wajah Belle.
Sejenak gadis itu berfikir.
"Jika kak Eden ikut pindah, aku fikir tidak punya alasan untuk bilang tidak, dan lagi meskipun kak Eden tidak ikut pindah, untie Ayana berpesan pada ku, bukan kah kewajiban istri untuk ikut kemanapun kaki suami nya melangkah?"
Seketika Bern mengembangkan senyumannya saat mendengar Belle menjawab pertanyaan nya dengan nada begitu pasti.
"Aku harap saat kamu merasakan keberatan atau merasa tidak nyaman dengan sesuatu, kamu bebas menyampaikan rasa keberatan itu pada ku Belle, sehingga hubungan kita tidak menjadi berat sebelah"
Belle diam sejenak, lantas dia tersenyum.
"He em"
"Tidak ada larangan dalam menyampaikan pendapat atau menyampaikan rasa tidak nyaman, sebab sejatinya hubungan yang sehat itu dimana kita berdua sama-sama merasa nyaman hmm"
Bern bicara sambil tangannya terus mengelus lembut wajah belle.
Belle lagi-lagi mengangguk pelan.
Sejenak mereka saling menatap antara satu dengan yang lainnya, tidak tahu bagaimana tiba-tiba secara perlahan jemari Bern mulai bergerak menyentuh lembut bibirnya, lantas entah bagaimana pula Belle terhanyut perasaan, kemudian tiba-tiba Bern secara perlahan mulai menyatukan bibir mereka.
Sejenak jantung Belle tiba-tiba berdetak begitu kencang, terasa ada satu sensasi aneh yang terjadi beberapa waktu. Dan saat laki-laki itu menghentikan ciumannya, menatap dalam bola matanya, kemudian saat jemari Bern tiba-tiba menyentuh cuping telinga nya, bergerak ke lehernya hingga ke belakang kepala nya Belle merasa Seperti sebuah aliran listrik yang menyambar secara perlahan hingga ke ubun-ubun nya.
Apalagi saat Bern berbisik lembut ditelinga nya, membuat wajah Belle tiba-tiba memerah.
"Boleh kah aku?"
Laki-laki itu bertanya dengan tatapan yang begitu lembut dan teduh.
Bagaikan terhipnotis, Belle mengangguk pelan, kemudian saat Bern kembali menautkan bibir mereka, secara perlahan belle memejamkan bola matanya dan dalam sekejap pula Belle menggenggam erat lengan Bern yang begitu kekar dan kokoh itu karena terasa sesuatu yang aneh terus memaksa masuk di dalam rongga mulutnya.
Aneh memang tapi membuat dia mampu terbuai entah kemana.