Pesantren Impian

Pesantren Impian
Kesurupan


Pagi hari setelah menyelesaikan pekerjaan "ndalem", aku menuju ke asrama para sahabatku, kami berencana untuk pergi ke Koperasi Pondok untuk membeli beberapa kebutuhan sekolah.


'Tok...tok...tok....' ku ketuk pintu kamar nomer 4 "tempat tinggal" para sahabatku.


"Assalamu'alaikum" ucapku.


"Waalaikumsalam" ucap Reno seraya membuka pintu.


"Ayo, wes siap durung"( udah siap belum) tanyaku pada mereka yang masih terlihat santai.


"Budhaaal" (berangkat) jawab mereka kompak.


Tak lupa kami sempatkan untuk ziarah ke makam para pendiri pondok, selama kurang lebih 10menit kami khusuk dalam do'a.


"Yuk, selak panas gaes" ucap Reno mengajak kami semua.


Kami semua segera berdiri "memohon diri", sepanjang jalan kami isi dengan bercanda, dan bercerita tentang pribadi masing-masing.


Tak terasa kami pun sampai di depan koperasi pondok dan segera membeli semua kebutuhan dan keperluan kami untuk sebulan ke depan.


Tampak terlihat sepi koperasi pondok kata teman-teman mungkin masih suasana libur.


"Misi mbak mau cari terjemahan kitab Bulughul Maram, Ta'lim Mutaalim, sama tinta, pena untuk tulis pegon serta beberapa keperluan lainnya" kataku pada salah satu penjaga koperasi.


"O iya di sebelah sana mas" katanya mengantarku.


Setelah selesai dengan belanjaanku, akupun menunggu di depan pintu koperasi, aku melihat kerumunan di pendopo pondok tapi ku tahan rasa ingin tahuku karena tak mau di bilang gak setia kawan sama mereka berempat.


"Wes yuk, kita lewat belakang masjid induk aja" kata Beni.


"Yuk sekalian jalan-jalan" ujar Andi.


"Berarti kita nglewatin pondopo yo?" tanyaku pada mereka.


"Iyo Pul" jawab Ujang singkat.


Saat melintasi Pendopo ada seseorang yang memanggilku.


"Pul...Saipul sek tunggu" katanya.


Kami berlima pun menengok ke arah pendopo.


"Lho kang Huda" ujarku sambil menjabat tangannya.


"Darimana kalian" tanyanya.


"Anu...kang kita dari koperasi sekalian jalan-jalan" jawab Reno..


"Maaf kang kalo boleh tau itu ada apa ya?" tanyaku pada kang Huda.


"Ono sing kesurupan Pul, katanya waktu liburan kemarin sempet naik gunung" jelas kang Huda menjelaskan.


"Boleh liat kang siapa tahu kita bisa bantu" tanyaku, sementara keempat sahabatku sempat terkejut dengan kenekatanku, karena menurut mereka kang Huda adalah salah satu keamanan pondok yang selalu tegas, dan ga bisa di "nego" keputusannya, apalagi dengan santri baru.


"Yo rapopo, kalo emang kowe iso Pul" jawab kang Huda, ku jawab dengan anggukan tegas.


"Ayo" ajak kang Huda.


Kang Huda berjalan di depan sementara kami berlima mengikuti di belakangnya..


"Ayo minggir-minggir" kata kang Huda tegas, sementara mereka bergegas memberi jalan kepada kami.


Terlihat empat orang santriwan yang tengah memegangi seseorang santri yang sedang kesurupan.


"Tolong bubarin semuanya, sakno daripada nanti merembet ke yang lain" pintaku masih berbisik, lagi-lagi cuma di jawab dengan anggukan kepala.


"Ayo BUBAR semua, iki dudu tontonan" teriak kang Huda tegas, nampak mereka mulai membubarkan diri.


"Mas, tolong dibawa ke kamar aja" pintaku pada salah seorang santri yang tengah memegangi kaki, mereka segera mengangkat teman mereka ke dalam kamar.


"Ndi, tolong beliin air botol tanggung" kataku pada Andi.


"Siap bos" kata Andi memberi hormat.


Aku pun meminta kedua santriwan yang memegang erat kakinya itu melepaskannya, mereka melihat ke arahku kang Huda yang berada di sampingku hanya mengangguk mengiyakan permintaanku aku segera memposisikan diriku duduk di kaki sebelah kirinya.


"Bismillah, Assalamu'alaikum ya Ghoib" kataku memberi salam, sementara semua memperhatikan apa yang kulakukan.


"Waalaikumsalam" jawabnya dengan suara wanita dan pandangan kosong.


"Panjenengan sinten" (kamu siapa?) tanyaku pada sosok yang merasuki tubuh santri tersebut.


"Aku Nini, cah iki wes gawe reget omahku"(bocah ini udah buat kotor rumahku) jawab sosok tersebut.


"Nuwun sewu terus kareppe njenengan pripun"(Maaf terus maunya gimana?) tanyaku lagi, semua hanya terdiam memperhatikan.


"Njenengan mantuk geh"(kamu pulang ya) kataku lagi dijawab dengan gelengan kepala.


"Terus karepe piye"(terus maunya gimana?) tanyaku lagi.


"Aku njaluk kopi, karo kembang" (aku minta kopi, sama bunga) jawabnya mencoba mendominasi.


"Sampean kuwi buat apa minta kopi" tanyaku pada makhluk tersebut.


"hi....hi...hi... bocah tengik gak usah coba-coba lawan aku, hi...hi...hi..." tawanya yang terdengar mengerikan bagi sebagian orang.


"Sekarang mending sampean pulang" kataku mulai membaca ayat-ayat Ruqyah sambil menempelkan ibu jariku pada keningnya.


"Panassss, ampuuunn" katanya berteriak sambil meronta, dan akhirnya pingsan.


Semua selesai tepat saat adzan maghrib berkumandang, kamipun pamit undur diri termasuk pada kang Huda sambil memberikan air mineral untuk di minumkan setelah sadar nanti lalu kami berlima menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat maghrib.


Setelah selesai melaksanakan ibadah sholat maghrib akupun beristirahat sejenak di kamar para sahabatku ini.


"Assalamu'alaikum" terdengar gus Fuad mengucapkan salam dari arah depan kamar.


"Waalaikumsalam" jawab kami bersama.


Kemudian Ujang berdiri untuk membukakan pintu, kamipun menyalami tangan beliau satu persatu lalu beliau duduk.


"Darimana kalian tadi, ayo duduk semua" perintah gus Fuad pada kami.


"Njih gus" jawab kami sambil duduk membentuk lingkaran.


"Siapa yang mau cerita?" tanya beliau penuh penekanan. Seperti biasa aku mewakili yang lain untuk menceritakan apa yang telah kami alami hari ini.


Usai ku ceritakan semua, beliaupun menarik nafas dalam-dalam.


"Yang tak minta satu dari kalian semua" kata gus Fuad dengan penuh penekanan.


"Sing ati-ati dengan kemampuan yang kalian miliki, kalian itu saling melengkapi" tegas gus Fuad lagi.


"Njih gus" jawab kami lagi.