
Setelah melihat keisengan teman-temanku pada para "hantu" osis kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos 1, setelah berjalan selama 10menit terdengar sandiwara teriakan-teriakan kakak Osis kami yang tandanya pos 1 sudah ada di depan mata setelah kami menyebrangi rel kereta melalui area persawahan tiba - tiba Reno menghentikan langkahnya.
"Ono opo Ren?" tanya Ujang.
"Pul, lihat ke sebrang itu bukannya?" tanya Reno padaku.
"Aisyah" jawabku spontan.
Akhirnya kami sepakat menyeberang jalan menemui ibu dari Aisyah yang juga merupakan warung makan kecil.
"Assalamu'alaikum, nuwun sewu" (permisi) ujar kami bersama.
"Waalaikumsalam, monggo pinarak" (silahkan duduk) ucap seorang ibu dari dalam sambil mempersilahkan kami duduk..
Kami segera memasuki warung kecil tersebut, kemudian memesan empat buah es teh untuk di bungkus.
"Ibu piyambak mawon" (ibu sendiri aja) tanyaku basa basi.
"Ora le, berdua sama si nduk" (gak nak , berdua sama anak ibu) jelas ibu tersebut.
"Niki fotone sinten bu" (ini foto siapa bu) tanya beni yang memang pendiam dan lebih asyik dengan buku-bukunya, membuat kami mengalihkan pandangan kami pada pigora yang tengah di pegangnya.
"Owh itu, itu anak ibu Aisyah sama adiknya namanya Marni" jelas ibu tersebut.
"Cuma saat ini tinggal berdua ibu sama Marni aja, sementara bapak dan Aisyah udah mendahului kami" sambung ibu itu lagi.
"Maaf ya bu" ucap kami bersama.
Saat ibu itu menyerahkan bungkusan es kami, aku pun memintanya duduk di sampingku sebentar.
"Bu ngapunten Aisyah pengen minta maaf sama ibu" kataku menjelaskan dengan berhati - hati agar tidak membuat beliau marah.
"Kalian tau Aisyah darimana?" tanya sang ibu yang terkejut
"Wonten nopo bu kok malem-malem teriak" tanya anak tersebut yang usianya beberapa tahun di atas kami.
"Iki lho nduk bocah-bocah iki ngaku jare ketemu karo mbakyumu" jelas si ibu tersebut pada anaknya masih dengan nada emosi.
"Wes pul, percuma juga kita jelasin sekarang udah malem mending besok kita ke sini lagi ngomong baik-baik toh besok kita ada libur 3 hari" jelas ujang berusaha mendinginkan suasana.
Akhirnya kami berlima pamit undur diri, dan berjanji besok kami akan menjelaskan semua pada beliau, dan beliaupun menyetujuinya.
"Assalamu'alaikum" ucap kami barengan, alhasil kamipun jadi kelompok yang terakhir yang mencapai pos 1.
Dan mendapat hukuman dari para pembina Osis yang berjaga di sana.
"Darimana aja kalian jam segini baru nyampe" tanya salah seorang kakak Osis pada kami berlima.
"Maaf kak kami tadi nyasar" jawab Reno mencoba menjelaskan pada mereka.
"Lho bukane kalian berempat alumni MTS?" tanya salah seorang panitia.
"I.. iya kak" jawab Beni mewakili yang lain.
"Terus kenapa bisa telat nyampe?" tanya kakak Osis tersebut.
"A...anu itu kak, tadi aku kebelet cari toilet deket rumah warga.
"Alasan aja kalian, cepet push up 10x.
Akhirnya kami mendapat hukuman 10x push up yang benar, dengan berat hati akhirnya melakukan apa yang menjadi hukuman kami.
Setelah selesai kami segera kembali ke sekolah, dengan suasana gelap karena sudah hampir mendekati tengah malam.