Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Kabar Baik


"Agna buka matamu sayang, jangan biarkan aku khawatir seperti ini." Darren terlihat menepuk pelan pipi sang istri. "Sayang, buka matamu. Aku janji akan menuruti apapun yang kamu mau jika kamu sudah membuka mata." Darren sekarang terlihat menggoyangkan badan Agna. Ia juga tidak sadar bahwa dirinya sudah sampai di ruangan tempat Agna akan di periksa.


"Mmm, Pak. Kita sudah sampai di ruangnya. Silahkan Bapak bawa Agna masuk untuk diperiksa. Untuk Nawa biar saya bawa ke ruang Ibu Bidan," kata Saras pelan. Rupanya gadis itu langsung datang ke rumah sakit itu setelah Al sempat menghubunginya, meminta Saras untuk membantu menyelamatkan Agna. "Saya yakin Agna akan baik-baik saja Pak, tugas kita hanya berdoa." 


"Lihatlah bibirnya Saras, apa kamu yakin istri saya akan baik-baik saja?" Meski Darren bertanya pada Saras, pandangan laki-laki itu tetap saja tertuju pada wajah pucat Agna, dengan bibir ibunya Nawa itu berwarna kebiruan.


Saat itu juga Saras langsung saja kesulitan menelan salivanya karena sejujurnya ia tidak yakin kalau saja Agna akan baik-baik saja. Melihat keadaan sahabatnya itu.


"Sa-saya sangat yakin Pak, sekarang cepatlah bawa Agna masuk. Jangan buang-buang waktu. Nawa juga akan saya bawa supaya cepat di tangani." Setelah menjawab Darren, Saras segera pergi dari sana ingin membawa Nawa ke ruang ibu bidan.


"Jangan pernah tinggalkan Nawa sendiri apapun yang terjadi karena saat ini situasinya sedang tidak baik-baik saja, aku percaya padamu Saras!" seru Darren pada saat ia melihat Saras pergi membawa Nawa di dalam gendongan wanita yang saat ini tengah berlari.


Mendengar suara Darren dengan samar-samar, Saras mengangguk sebelum ia menghilang di balik tembok. Gadis itu saat ini sedang mengejar waktu sebab jika ia terlabat entah apa yang akan terjadi pada Nawa. Sang buah hati Agna dan Darren.


***


"Berapa umur bayi ini?" tanya bidan yang berperawakan agak berisi itu.


Saras yang ditanya mencoba untuk mengingat-ngingat. "Sebentar Bubid, saya sedang mengingatnya dulu."


"Kamu bukan ibunya?" Bidan itu terdengar bertanya lagi.


"Bukan Bubid, ini keponakan saya." Sambil mengingat-ngingat Saras terus saja menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut ibu bidan yang berisi itu. Meskipun saat ini Saras sangat ingin sekali menyuruh bidan itu segera memeriksa Nawa, bayi enam bulan yang masih saja memejamkan mata itu.


"Jadi, dimana Ibunya bayi ini?" Sekarang bidan itu menanyakan tentang ibunya Nawa.


"Bubid, periksa saja keponakan saya ini karena dia terlalu banyak menghirup asap beracun. Jangan sampai pertanyaan-pertanyaan Bubid yang banyak ini malah membuat nyawa keponakan saya menjadi terancam. Tolong atas pengertiannya Bubid, saya kali ini minta tolong dengan sangat." Air mata Saras menetes pada saat ia mengatakan itu sebab ia merasa denyut nadi bayi enam bulan itu semakin melemah. "Tolong selamatkan keponakan saya karena dia saat ini sedang butuh pertolongan." Saras langsung saja memberikan Nawa pada bidan yang terlihat membuka sedikit mulutnya. Entah karena ibu bidan itu kaget atau shock mendengar kalimat Saras tadi.


"A-asap be-beracun?" Bidan itu terbata-bata. Dengan bola mata yang membola.


"Iya, sekarang periksa Nawa. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya. Aku mohon Bubid." Dengan air mata yang terus saja berlinang Saras berusaha untuk tetap kuat dalam keadaan seperti ini. Meski sejujurnya hatinya sangat rapuh karena ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Nawa juga Agna. 


"Saya akan periksa bayi ini dulu, kamu tolong tunggu saja di luar," kata bidan itu yang menyuruh Saras menunggu di luar.


"Saya tidak akan keluar karena saya ingin menunggu keponakan saya di sini saja." Saras benar-benar mengingat pesan Darren yang mengatakan bahwa ia tidak boleh meninggalkan Nawa apapun yang terjadi. "Bubid periksa saja, saya berjanji tidak akan mengganggu ataupun membuat keributan di sini." 


Bidan itu terlihat mengangguk, ia lalu dengan segera membawa Nawa masuk ke dalam ruangan satunya lagi untuk melakukan pemeriksaan. Bidan itu juga merasa sangat khawatir pada saat melihat bibir Nawa juga berwarna biru sama persis seperti bibir Agna.


***


"Pak Darren." Saras mengelus dadanya dengan pelan. "Nawa masih di periksa Pak, semoga ada kabar baik setelah Ibu Bidannya keluar."


"Agna juga masih di periksa, semoga dia juga baik-baik saja." Terlihat jelas raut wajah sedih Darren saat ini. "Jika saya tahu akan begini jadinya, saya tidak akan membiarkan Agna ikut ke sini Saras bersama saya dan Darius. Sungguh saya sangat menyesal." Darren tertunduk lemas di kursi yang ada di sebelah Saras.


"Semua sudah terjadi Pak, sekarang Bapak hanya perlu menghadapi semuanya dengan tenang dan sabar karena semua ini atas kehendak-Nya. Kita ini hanya perlu mengikuti skenario yang sudah tertulis untuk diri kita masing-masing. Anggaplah semua ujian ini sebagai penggugur dosa kita. Sebab ini tidak akan pernah terjadi jika tidak ada di dalam garis takdir kita." Saras terdengar berkata bijak meskipun gadis itu baru pertama kali menjadi sosok orang yang begitu bijak karena biasanya ia lebih ke gesrek dan rendom. Tapi kali ini Saras benar-benar sangat berbeda.


"Kamu benar Saras, saat ini kita semua sedang berjuang melawan setiap ujian yang Tuhan berikan, meskipun ujian itu beragam bentuknya." Darren membenarkan kalimat Saras yang tadi.


"Kita berpijak di bumi yang sama Pak, tapi dengan takdir yang berbeda."


Pada saat Darren dan Saras sedang berbicara tiba-tiba saja ibu bidan yang menangani Nawa terlihat keluar dari ruangan tempat bayi enam bulan itu di periksa.


"Maaf, saya mengganggu sebentar." Bidan itu terlihat menunduk sopan pada saat ia melihat Darren.


"Apa putra saya baik-baik saja?" Darren langsung saja menanyakan tentang keadaan Nawa.


"Jadi ... Dokter Darren, Ayah dari bayi gembul itu?" Bidan yang bernama Sri itu malah bertanya balik pada Darren.


"Iya, Bu Bidan. Nawa adalah putra saya. Sekarang apa Anda bisa jawab pertanyaan saya yang tadi?" Darren menatap bidan itu, ia berharap akan mendapat kabar baik. Bukan malah sebaliknya kabar buruk bisa-bisa Darren akan berubah menjadi malaikat pencabut nyawa.


"Saya tadi sempat menekan dadanya beberapa detik, membuat putra Anda langsung saja muntah Dok, sehingga Dokter tidak perlu khawatir karena bayi gembul itu bisa kami selamatkan. Meski saat ini dia harus di infus dulu untuk mendapatkan cairan, mengingat dia sempat menghirup sedikit asap beracun itu membuat tubuhnya menjadi lemaslh." Dengan pelan-pelan Sri menjelaskan semuanya pada Darren karena bidan itu tahu bagaimana suasana hati dokter bedah itu saat ini. "Untuk saat ini Anda belum bisa masuk dulu Dok, sebab kondisi putra Anda belum cukup membaik."


"Tidak masalah, saya akan menunggu putra saya di sini saja. Saya juga merasa senang mendengar kabar baik ini." Sekarang Darren menjadi sedikit tenang pada saat mendengar apa yang di katakan oleh Sri. Meskipun di sisi lain ia masih mengkhawatirkan keadaan sang istri yang mungkin saja menghirup asap beracun itu terlalu banyak.


"Nawa, di mana cucu Papi itu?"


Darren, Saras dan Sri langsung saja menoleh ke arah sumber suara.


💜💜


Mau tanya, setuju nggak Author Up 2 bab sehari? Kalau setuju komen di bawah ya🥰