
Cemas dan panik itu yang Agna rasakan saat ini, pada saat wanita itu mengetahui bahwa Nawa tidak ada di atas ranjang. Padahal tadi Agna hanya pergi ke dapur sebentar untuk mengambil air minum.
"Nawa tadi ada di sini, aku sendiri yang membaringkannya." Agna meraba-raba ranjang. "Nawa, dimana kamu sayang? Dimana kamu putra Mama?" Agna mencari kesana kemari sekitar kamar itu. Berharap ia akan menemukan keberadaan putranya.
Namun, sangat disayangkan sekali. Bayi enam bulan itu sama sekali tidak dapat ditemukan keberadaannya.
"Nawa, Nawa …." Agna terus saja terdengar memanggil nama putra semata wayangnya itu.
"Sayang, kita cari Nawa sama-sama." Darren dengan cepat menghampiri sang istri. "Ke rumah Bunda dulu, siapa tahu Bunda yang membawa Nawa tadi." Darren mengatakan itu karena tadi Ranum sempat datang ke rumah utama hanya untuk bertemu dengan Nawa.
"Bunda pulang sendiri, dia tidak membawa Nawa." Agna menggeleng kuat sambil mengatakan kalimat itu karena ia sendiri yang telah melarang Ranum untuk tidak membawa putranya itu.
"Mungkin kamu lupa sayang, makanya aku mengajak kamu ke sana. Hanya untuk sekedar memastikan saja." Sebenarnya Darren tahu saat ini ada yang tidak beres. Laki-laki itu berusaha terlihat biasa saja sama seperti sebelum-sebelumnya supaya Agna tidak semakin panik. "Ayo Sayang, kita berangkat sekarang saja," ajak Darren.
"Nawa hilang, bukan di bawa oleh Bunda. Jangan membuatku semakin seperti orang bodoh. Jelas-jelas aku sendiri yang menidurkan anak kita di atas ranjang ini. Lalu kenapa Om suami masih saja bersikukuh mengatakan kalau Nawa dibawa oleh Bunda?" Suara Agna terdengar sedikit meninggi karena wanita itu kesal dengan sang suami. "Bukannya merasa panik, Om suami malah terlihat biasa saja. Apa jangan-jangan Om suami yang telah menyembunyikan Nawa dariku?" Kini tatapan Agna beralih menatap Darius yang dari tadi hanya menunduk saja.
"Aku tidak akan mungkin bisa tenang karena putraku menghilang. Satu lagi, aku menuduh Om suami sebab Om suami terlihat biasa-biasa saja. Tidak merasa panik atau sebagainya, disaat aku yang Ibunya saja hampir saja merasa gila melihat Nawa malah tidak ada di kamar kita ini."
Darren yang dari tadi memikirkan tentang kematian Fika malah berpikir kalau menghilangnya Nawa malah berkaitan dengan itu semua.
"Aku dan Darius akan mencari Nawa, kamu diam di rumah jaga Papi. Aku berjanji akan membawa Nawa secepatnya untukmu. Pegang janjiku ini." Darren saat ini sedang berusaha untuk meyakinkan sang istri. Ia juga sekarang terdengar malah menyuruh Agna untuk diam di rumah menjaga Hugo. Tidak seperti yang tadi mengajak Agna untuk mencari Nawa bersama-sama.
"Tidak, aku harus ikut mencari Nawa. Biar aku bisa melihat siapa yang telah berani menculik putra kita itu. Bila perlu aku akan langsung memberikan orang jahat itu pelajaran. Biar mereka tahu bahwa Agna ini bukanlah seorang Ibu yang lemah."
Darren mengusap wajahnya dengan sangat kasar karena sebenarnya ia sendiri tidak tahu kalau saja Nawa saat ini di culik oleh siapa, dan tepat pada saat Darren sedang di landa oleh kebingungan tiba-tiba saja suara Darius terdengar.
"Jangan lupakan GPS-nya," kata Darius yang berbisik di daun telinga Darren.
"GPS, kau benar Darius." Darren langsung saja mengajak Agna serta Darius ke ruang kerjanya.