
Menma menutup matanya, bersemedi di dalam telaga, dengan posisi duduk lotus. Membiarkan tubuhnya semakin tenggelam ke dalam telaga yang dalamnya mungkin tak dapat dikira.
Sebenarnya apa yang Menma lakukan? Bersemedi di dalam telaga terkutuk? Menma pasti sudah gila, begitu pikir mereka setelah melihat kenekatan gadis itu, mencelupkan dirinya sendiri pada sumur kematian.
Alasan? Tentu alasan Menma sangat penting. Kalian pikir kenapa dia rela melalukan hal berbahaya ini jika bukan untuk dirinya sendiri. Menma tahu, perbuatannya ini sungguh nekat dan gila. Selama ini mana pernah ada seorang manusia menceburkan dirinya sendiri ke dalam telaga Iblis, telaga yang memang terkutuk untuk kaum manusia. Bahkan mendengar namanya saja mereka sudah bergidik ngeri, apalagi jika melakukan hal seperti Menma, bisa-bisa nyawa mereka tercabut saat itu juga akibat saking takutnya.
Jangankan kaum manusia, kaum 8 ras yang lain saja berpikir ribuan kali jika ingin melakukannya, termasuk kaum Iblis pemilik telaga tersebut.
Bluk!
Terus, terus, dan terus membiarkan tubuhnya tenggelam ke dasar tergelap. Semakin jauh jatuhnya, semakin banyak gangguan yang Menma dapatkan, entah dari suara bisikan di telinganya.
'Kekuatan? Kau datang ke tempat yang tepat.'
'Kamu manusia yang pemberani. Aku menyukai manusia sepertimu. Jadilah bagian dari kami.'
'Tempat ini sangat hebat, jika kau membiarkan kami mengambil jiwamu, kau akan menjadi manusia terhebat.'
'Buka lah, biarkan kami membawamu.'
Suhu airnya juga kian memanas, semakin panas seakan ingin membakar kulitnya hidup-hidup. Menma mengerutkan keningnya keras, tidak bisa dia pungkir panas air telaga ini mulai membakar kulitnya. Bahkan sebagian darinya mulai melepuh.
Kyaakk!
Kwaaang!
Kikikikikik!
Srash!
Dan jangan lupakan satu hal tentang telaga Iblis, namanya tentu tidak jauh berbeda dengan keseraman yang ada di dalam telaga ini. Seperti masuk ke dalam wahana rumah hantu, begitu Menma definiskan. Hanya saja lebih menyeramkan dan menakutkan, serasa ketakutan itu nyata. Meski Menma tidak melihat sekitarnya.
'Aku pernah masuk ke dalam tempat seram, tapi tidak ada yang lebih seram dari telaga Iblis.' Menma merasa hatinya dan pikirannya mulai diusik, oleh hal-hal aneh. Tidak bisa dijelaskan secara rinci, intinya sesuatu menyentil keberanian, membuatnya takut dan ingin segera keluar.
'Ada apa? Kau takut, maka ikutlah bersama kami.'
'Kami akan memberikanmu cahaya.'
'Kau akan merasa tenang jika ikut bersama kami. Tidak akan ada lagi beban yang perlu kau tanggung.'
'Beban?' Menma semakin mengernyit. 'Mereka tahu isi pikiranku.' Sepertinya memang seperti itu, pasalnya suara-suara itu terus saja membisik lembut, mengajaknya melepaskan semua beban yang Menma miliki.
'Shua Xie.'
'Shua Xie.'
'Shua Xie.' Suara itu semakin jelas, terdengar berat dan serak, nada yang tak lagi asing bagi Menma.
Seketika saja Menma membuka matanya, dan tampaknya seorang pria paruh baya berdiri di depannya, tersenyum hangat seperti cahaya terang yang menyinari pria itu. Menma tertegun lantaran kaget.
"Anak nakal! Kau membuat Ayah khawatir. Kau pergi tanpa pamit, apakah kau sudah tidak sayang Ayahmu ini?" Pria paruh baya itu berkata lirih, dalam air mulutnya berbicara santai, tidak sedikit pun air masuk ke dalam mulutnya. Pria berpakaian jas hitam layaknya busana para pejabat dunia modern, menatap Menma sedih.
'A-Ayah?' Menma segera berdiri, tapi belum berniat mendekati pria yang dia kenal sebagai Ayahnya. Ayahnya di kehidupan pertamanya, Xiao Ru.
'Kenapa Ayah bisa ada di sini?'
"Anak nakal, kau sudah membuat banyak kekacauan di akademi. Lantas kau pergi begitu saja tanpa pamit, apakah kau tidak tahu betapa terpukulnya aku ketika mendengar kabarmu meninggal."
'Tidak, kau salah berpikir Ayah. Aku, aku.'
Bluuk, bluuk ....
Menma hendak berbicara, tapi baru saja dia membuka mulutnya, air telaga sudah lebih dulu masuk ke dalam mulutnya. Kerongkongan terasa tercekat, sakit, seolah yang masuk tadi bukan lah air, tapi sesuatu bulat dan berduri.
'Akh! Aku meminum telaga ini, sial!'
"Shua Xie, ada apa? Apa ada yang melukaimu?" Xiao Ru mendekat, menarik Menma ke dalam pelukannya. Raut khawatir di wajahnya jelas bukan kepalsuan, nyata sebagaimana biasanya wajah itu bersedih.
'Ayah?' Menma terdiam dalam pelukan, membiarkan tubuhnya dipeluk sebab dia sendiri juga merindukan pelukan ini. Sudah lama Menma tidak merasakan pelukan sehangat ini. Di dunia yang begitu dingin, dari siapa bisa dia dapatkan pelukan yang amat dirindukan?
"Shua Xie, kamu jangan pergi lagi. Ayah tidak akan sanggup kehilanganmu lagi untuk yang ke dua kalinya, sudah cukup Ibumu, jangan kamu lagi," ucap Xiao Ru lemah, menjatuhkan dagunya di atas kepala Menma.
Skak!
'Tunggu dulu! Dia bukan Ayah!' Menma segera menjauhkan dirinya, menatap Xiao Ru tajam seperti sedang menatap musuh terbesar. Sementara Xiao Ru dibuat terkejut oleh sikap Menma, yang menjauh dari pelukannya.
"Ada apa, Shua Xie?" Xiao Ru semakin pias, sikap dan tatapan Menma saat ini benar-benar tajam, menyiratkan permusuhan.
Pelan, Menma membuka mulutnya. "Hah, hampir saja, kau ahli sekali King Lan?" Lalu senyum sinis terbesit dengan perubahan wajah mendingin. "Memakai Ayahku untuk mengelabuhi, kau sungguh mencari masalah. Kesalahanmu ketika kau menyebut Ibuku." Karena Xiao Ru asli tidak akan berani menyebut tentang wanita itu di depan Menma, Xiao Ru sudah bersumpah.
Xiao Ru tertegun, wajahnya kian sedih dan perlahan mendekati Menma. "A-apa yang kamu katakan, Shua Xie? Ini Ayah."
Menma menahan wajah geram, tangan kanannya sudah bergerak, mengeluarkan senjatanya, pedang Pembelah Langit. "Kau memang pantas mati, untung Kakakmu menginginkannya juga."
Satu fakta lain yang harus kalian tahu tentang Menma, dia tidak suka seseorang menggunakan Ayahnya, entah itu untuk penyamaran, atau berbagai macam hal. Menma benci keluarganya diusik! Ayahnya mungkin tidak akan masalah soal ini, tapi Menma, tentu tidak akan tinggal diam. Dulu saja, ketika ia melihat Ayahnya kelelahan karena pekerjaan sebagai Wali Kota, tidak beristirahat selama 3 hari tanpa makan. Menma marah, lantas ia memasang baliho besar di tengah-tengah kota dengan tulisan 'Rakyat tidak tahu diri, cuman tahu meminta dan menuntut. Apa kalian pikir Wali Kota itu Tuhan? Bisa mengabulkan keinginan kalian dalam waktu cepat!'
Hah, itulah kenapa Menma dicap sebagai anak nakal, selain pemimpin mafia yang suka berkelahi dengan geng mafia lainnya. Menma juga suka membuat kerusuhan di kota kelahirannya sendiri, tapi tentu saja kerusuhan itu bertujuan baik bagi Menma, dan buruk untuk rakyat Ayahnya.
"Shua Xie? Kamu, kenapa? Ini Ayah, Menma? Kamu nakal Shua Xie, kamu meninggalkan Ayah. Apa kamu sudah tidak sayang Ayah, Menma?" Xiao Ru kian mendekat, sembari meracau tidak jelas memanggil Menma. Namun semakin lama penyamaran bersosok Xiao Ru itu memudar, dari nada suaranya yang berganti-ganti, melengking, berat, datar, sedih, dan sebagainya. Begitu pun dengan wajahnya, seperti kaset rusak, entah wajah siapa saja sudah terpasang dalam 2 detik di sana.
Sring!
Bom!
"Kikikiki, dia berhasil! Dia berhasil!"
"Memang santapan yang indah, elegan, dan estetik."
Dan ternyata para penyamar itu bukan lah King Lan, melainkan sesosok manusia berkulit hitam, mata merah, bergigi taring panjang layaknya vampir. Badan atasnya yang memang manusia, tapi dari pinggang ke bawah, ekor duyung? Kaki gurita? Dan ular. Ukuran laki-laki mereka lebih besar dari tubuh mereka sendiri.
Salah satu kaki gurita itu berenang, menyambar tubuh Menma secara cepat. Menma diam, membiarkan tubuhnya ditarik ke dasar telaga Iblis begitu cepat. Bukannya Menma tidak bisa melawan, dia menunggu waktu yang tepat.
"Santapan lezat! Santapan lezat! Manusia bodoh menceburkan dirinya sendiri ke dalam telaga Iblis!"
***
"Menma! Menma! Balas panggilanku jika kau mendengarnya!" Azura, sejak tadi tidak berhenti berteriak, memanggil Menma berulang kali. Berharap jika sosok yang dipanggilnya itu segera keluar.
Tapi harapannya justru nihil, Azura berasa sedang berteriak pada sekolam telaga yang terus meletupkan didihannya.
"Percuma, dia pasti sudah mati. Telaga Iblis terkutuk untuk manusia." Lou Zhou menimpali Azura. Melipat tangannya di dadanya sambil tersenyum sinis. "Aku pikir dia gadis yang pintar, ternyata lebih bodoh dari pada orang gila. Miris sekali, kau mengikuti pemimpin yang salah."
"Diam kau bajingan!" balas Azura keras, marah. Wajahnya mengeras kesal, tidak terima mendengar penghinaan yang keluar dari mulut Lou Zhou untuk Menma.
"Heh? Kau pikir kau ini siapa?" Lou Zhou mendengus. Oh, ayolah, tadi sikap patuhnya karena ada Menma. Sekarang Menma sudah tidak ada, untuk apa lagi Lou Zhou mempertahankan sandiwaranya. Lagi pula Azura tidak sekuat dirinya, jelas Lou Zhou bisa melawan Azura. Melenyapkan pemuda yang terus menyulut kemarahannya sejak tadi bukan hal sulit baginya.
"Tanpa dirinya, kau hanyalah seonggok sampah di mataku." Lou Zhou melanjut hinaannya. "Lagi pula, Tuanku sudah datang. Tidak perlu ada kebohongan lagi di antara kita." Lou Zhou mengangkat kepalanya, menatap langit berwarna merah darah. Di atas sana, seorang pria terbang dengan anggunnya, kesan aura pemimpin yang dikeluarkan pria itu bisa dirasakan dengan jelas.
"King Lan ...." Azura menyorotkan pandangan dingin, melihat sosok di atas sana adalah King Lan. Musuh besarnya.
"Yang Mulia!" Lou Zhou berseru lantang, menyuarakan perasaan senangnya melihat pemimpinnya. Dia akan terbantu dari jerat hitam ini.
King Lan terbang semakin turun, hingga akhirnya kakinya memijak daratan. "Lou Zhou? Apa yang kau-"
"Ah, namun Azuta?" Dengan kemunculan Lou Zhou di telaga Iblis saja cukup mengejutkan King Lan, apalagi lagi ada dengan Azura?
"Azura, Pangeran ke Dua kerajaan Lyions. Pangeran angkuh kita menginjak wilayah kekuasaan Iblis? Ada apa gerangan kah ini?" King Lan tersenyum sinis, seakan sedang menyudutkan Azura dari perkataannya waktu itu.
Azura pernah bersumpah pada ras singa tidak akan pernah lagi datang ke wilayah kekuasaan Iblis, tapi lihatlah sekarang, Azura mengingkari sumpahnya. Jika rakyatnya tahu, apa yang akan terjadi pada Azura nanti?
Jadi kenapa Azura amat terkejut saat datang ke telaga Iblis karena sumpahnya itu, tidak ia sangka Menma akan membawanya ke tempat ini, tempat yang amat terlarang untuknya.
"King Lan. Sang penjahat besar, naif sekali dirimu ingin mengusai seluruh dunia." Azura membalas dengan ucapan tajam serta senyuman miring.
"Jangan asal berbicara, Azura. Kau sadar di mana kau sekarang?"
"Tentu aku sadar."
"Bagus, maka dari itu jaga sikapmu dengan baik."
"Jika aku tidak mau?"
"Tidak mau?" Alis King Lan naik sebelah. Dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja-
Bom!!
Debu mengepul tinggi ke langit, getaran bak gempa bumi bergemuruh kencang. Lou Zhou tersentak, hampir terjatuh ke dalam telaga Iblis jika ia tidak segera menyelamatkan dirinya sendiri.
"Ah, beruntung." Lou Zhou bersyukur, berhasil menghindari kematian.
Sementara di sisi lain, Azura dan King Lan sudah saling menyerang, beradu kekuatan fisik serta jurus masing-masing. Menyentak udara di sekitar mereka begitu keras hingga mengeluarkan gelombang angin.
Bam! Bam! Bam!
Duak!
"Heh, masih seperti biasa. Tubuhmu kokoh bagaikan pilar-pilar bangunan." Di sela-sela pertarungan mereka, King Lan masih sempat-sempatnya memuji kekuatan fisik Azura yang semakin meningkat pesat.
Azura menyungging senyum bangga. "Karena aku memiliki pemimpin yang hebat." Singkatnya begitu balasan Azura. Kalian pasti tahu siapa yang dia maksud, bukan?
Bam! Duak!
"Oh, Kakakmu?"
"Kau pikir Kakakku sehebat itu?" Azura mendengus sinis. "Dia wanitamu. Berbeda dengan wanitaku."
Bom! Dar!
Lou Zhou terpaku dari tempatnya berdiri, menyaksikan pertarungan antara Azura dan King Lan yang bisa dikatakan seimbang membuatnya sadar. Kebanggaannya tadi telah menjatuhkan harga dirinya sendiri.
"Aku merasa seperti manusia awan di sini," ucap Lou Zhou tanpa sadar. Angin pertarungan Azura dan King Lan menampar wajahnya. "Sejak kapan pemuda itu semakin kuat? Bukan kah saat di dunia bawah, dia hanyalah sampah yang tidak berguna?"
**Bersambung
A/N : Perubahan itu selalu ada 😏
Btw, kalian udah mampir belum ke ceritaku yang berjudul Jiwa Pengganti.
Aku dan Amelia menunggu loh, kalian harus mampir ya! 😄 maksya nih 📍**