
Suasana tegang menyeruak ke mana-mana, sejak sosok bertopeng itu mengajukan pertarungan antara dirinya dengan Kaisar Feng Kim berserta pasukannya membuat semua orang terkejut dalam diam. Namun beberapa saat terdengar suara memaki sosok bertopeng itu.
"Apa dia tidak gila menantang Yang Mulia Kaisar berserta pasukannya?!"
"Gila! Sosok bertopeng itu sudah gila! Aku rasa karena terlalu takut dia jadi gila!"
"Sombong sekali dia! Menantang Yang Mulia berserat pasukannya, bukankah sama saja cari mati!"
"Yang Mulia hajar saja dia! Beri dia pelajaran untuk tidak terlalu sombong di hadapan banyak orang!"
"Benar Yang Mulia! Beri dia pelajaran! Biar dia malu!"
Sorak dari setiap orang menggema keras, menyuarakan agar Kaisar Feng Kim segera memberi pelajaran sosok bertopeng itu agar tidak lagi bersikap sombong. Memang cocok memberi pelajaran bagi orang sombong itu, tapi ... kembali lagi ke kemampuan mereka. Apa bisa mereka mengalahkan sosok bertopeng itu?
Jenderal Besar Feng mendengar sorak-sorai dari semua orang menepuk kepalanya sambil menghela nafas berat, 'Astaga kenapa mereka malah mendukung terjadinya pertarungan? Tidakkah merekah tahu, mereka berdua adalah Anak dan Ayah?' Feng Xian mengeluh dalam hati, sesaat dia menatap sosok bertopeng itu masih bisa tenang, 'Sekarang apa yang akan dia lakukan? Apa bisa dia melawan ratusan pasukan?' Feng Xian ragu, apa iya sosok bertopeng itu bisa melawan ratusan pasukan seorang diri, bahkan jika berada di puncak pendekar pun belum tentu bisa menang melawan ratusan pasukan.
Di sisi lain Kaisar Feng Kim sedikit dilema, ingin dia menerima tawaran sosok bertopeng itu demi menjaga kehormatan kerajaannya. Tapi di sisi lain ... Kaisar Feng Kim ragu melawan sosok bertopeng itu sebab dia mengenalnya. Kaisar Feng Kim hanya takut sosok bertopeng itu akan terluka karena dirinya, apalagi dia telah sembuh dan menjadi Kultivator tahap Jindan level 5, sedangkan sosok itu berada jauh dari tahapnya.
Sosok bertopeng hanya tersenyum, dia bisa melihat Kaisar Feng Kim tampak ragu menerima tantangannya. Akhirnya sosok bertopeng itu kembali bersuara, "Apakah kau takut melawanku, Kaisar Feng Kim?" Sungguh sosok bertopeng itu tidak ingin melewatkan kesempatan menguji kekuatan pasukan kerajaan Xuilin berserta Kaisarnya.
Mendengar sosok bertopeng itu merendahkan harga dirinya, emosi Kaisar Feng Kim sedikit meluap, "Tidakkah anda berpikir bahwa anda terlalu percaya diri? Bagaimana jika melawanku saja? Jika kau bisa mengalahkanku, aku akan mengaku bahwa aku dan pasukanku memang lemah," tawar Kaisar Feng Kim demi menghindari terjadi lebih besar resiko. Tapi tawarannya itu membuat para pejabat dan prajurit merasa kecewa. Tentu kecewa Kaisar Feng Kim akan mengambil tindakan sebaik itu untuk orang seperti sosok bertopeng itu.
Bukannya menolak, sosok bertopeng itu menolak, justru tertawa, sangat kencang dan lantang membuat semua orang terkejut lagi, "Hahahaha ... melawanmu tidak akan cukup mengalahkanku. Maka dari itu aku mengusulkan dirimu dan seluruh pasukanmu melawanku," balas sosok bertopeng itu cukup percaya diri, sesaat pandangannya tertuju pada Feng Xian membuat Feng Xian mendapat firasat tidak baik, "Jika perlu Jenderal Besar Feng, ikut turut membantu pasukan dan pemimpinnya, aku tidak akan sungkan melawan kalian." Apa yang difirasatkan Feng Xian benar, jika sosok bertopeng itu menatapnya pasti ada yang dia inginkan dan pasti bukan hal baik.
Sosok bertopeng itu mulai menuruni tangga tanpa memperdulikan pandangan tajam terhadapnya. Setelah berjalan cukup jauh, sosok bertopeng itu berdiri tepat di depan ratusan pasukan yang berjarak beberapa belasan meter darinya.
Sosok bertopeng itu mengibaskan tangannya, dan dalam sekejap muncul sebatang ranting di tangannya, ranting sepanjang satu meter dan besar hanya seperti ibu jari manusia. Ketika dirinya memunculkan ranting itu, banyak mata terkejut melihatnya tapi tidak untuk Kaisar Feng Kim dan Jenderal Besar Feng, mereka jelas tahu dari mana datangnya ranting itu.
Sesaat sosok bertopeng itu berbalik menatap Kaisar Feng Kim dan Jenderal Besar Feng yang masih berdiri di mimbar, "Apa kalian tidak turun? Aku takut para pasukan kalian tidak akan bisa menang melawanku," ucapnya dengan nada meledek dan lagi-lagi membuat ratusan pasukan di depannya panas.
"Tidak usah sombong! Lawan saja kami dulu, jika kau bisa mengalahkan kami, barulah kau melawan Yang Mulia dan Jenderal Besar Feng!" teriak salah satu prajurit keras, dan tidak lama berikutnya juga ada tarikan yang sama menyahut.
Sosok bertopeng itu menaikkan alisnya, meskipun sedikit terhibur oleh omongan prajurit itu, hanya saja dia ... merasa meraka belum cukup mampu menghentikannya. Tapi, tidak ada salahnya dia menerima tawaran para pasukan itu, dengan begitu ketika dia berhasil mengalahkan mereka tidak ada lagi alasan pemimpin mereka tidak turun tangan.
"Baiklah, aku terima tawaran kalian." Sosok bertopeng itu memutar ranting di tangannya dengan cepat, dan dipergerakan terakhir dia menancapkan ranting itu di tanah, "Gunakan seluruh kekuatan kalian, aku tidak akan sungkan menyakiti kalian. Lihatlah, dengan ranting ini aku akan mengajari kalian seperti apa kekuatan musuh kalian nanti."
Cukup sombong dan cukup percaya diri, membuat seluruh pasukan itu semakin geram dan tidak sabar ingin melawannya.
"Banyak omong kosong! Serang dia!"
"Khiaaat!!!"
Dalam waktu singkat ratusan pasukan itu yang tadinya berbaris rapi kini berhamburan dan membantu formasi masing-masing. Ratusan pasukan itu dibagi menjadi 4 bagian, pasukan di depan menyerang dengan pedang, pasukan kiri dan kanan bersiaga dengan tombak, dan pasukan belakang dengan panah. Meskipun formasi mereka cukup mengagumkan di mata sosok bertopeng itu, tapi ... tidak meyakinkan dirinya bahwa mereka akan menang.
Tidak perlu berpikir panjang lagi, sosok bertopeng itu juga seraga melesat ke depan dengan satu ranting di tangan kanannya. Bersamaan dengan berlari, sosok bertopeng itu mengaktifkan sajak Kutukan di tangan kanannya membuat sedikit perubahan pada tangannya.
"Kyaaaaa!"
Lagi-lagi pemandangan itu mengejutkan semua mata.
Melihat para prajurit tampak terkesima akan kekuatannya, sosok bertopeng itu segera berkata, "Tidak ada waktu untuk kagum! Lawan tidak akan menunggu kalian!"
Dengan cepat sosok bertopeng itu berpindah tempat ke kerumunan prajurit lainnya, tidak membiarkan kesempatan mereka melayangkan serangan, sosok itu langsung memukul mereka semua dengan ranting di tangannya. Cukup sekali pukul saja mereka semua terpukul mundur dengan keadaan melayang di udara.
Tidak hanya berhenti di situ saja, sosok bertopeng itu melompat ke udara, sebelum dirinya turun lebih awal, sosok bertopeng itu melempar rantingnya di tengah kerumunan membuat angin kacang berserta debu memukul mundur pasukan itu. Sosok bertopeng itu turun ke bawah dan berdiri tepat di ujung ranting yang dia pijak.
Melihat pasukan depan telah dibantai semua, pasukan kiri dan kanan segera maju menyerang dengan tombak mereka. Suara gemuruh melantang keras di udara tidak menunjukkan bahwa mereka gentar memiliki lawan sekuat itu. Sosok bertopeng itu hanya bisa mengulum senyum sesaat, kemudian dia turun ke tanah dan mencabut ranting miliknya.
Tidak perlu menunggu para pasukan itu menghampirinya, sosok bertopeng itu segera melesat ke depan dengan cepat tanpa sedikit pun merasa takut, justru sosok bertopeng itu terasa sedikit terhibur setelah lama dia tidak bertarung lagi.
Sosok bertopeng itu mengubah posisi rantingnya dari posisi pedang menjadi posisi perisai, dan tidak butuh waktu lama seketika ranting itu memanjang menjadi 10 meter. Karena dua pasukan itu menyerang dari sisi kiri dan kanan, sosok bertopeng itu mengubah taktik menyerangnya. Sosok bertopeng itu melempar ranting miliknya secara horizontal ke pasukan kanan. Ranting kayu itu seakan memiliki nyawa bergerak dengan sendirinya menyapu para pasukan bagian kanan dengan sekali pukul.
Sedang sosok bertopeng itu berlari ke kiri tanpa senjata menuju pasukan kiri. Meskipun dia tidak menggunakan senjata, tapi masi ada tangan dan kakinya yang berfungsi. Sosok bertopeng itu mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya, lalu mendaratkannya ke tanah dengan kasar, dalam waktu singkat tanah yang dia pukul bergemuruh dan mulai menonjolkan beberapa tanah dan bebatuan. Tonjolan tahan itu bergerak cepat ke arah para pasukan dan memukul mereka secara kasar.
Tidak hanya di situ, sosok bertopeng itu menghentakkan kakinya membuat tanah yang dia pijak seketika retak dan tanah melambung ke udara. Memanfaatkan tanah dan batu yang melayang di depannya, dengan cepat sosok bertopeng itu memukul semua batu dan tanah itu hingga terpukul jauh menghantam para prajurit kiri.
Dalam waktu singkat, pasukan depan, kiri dan kanan telah berjatuhan, meski tidak mengalami kematian tapi mereka menerima luka cukup membuat mereka tidak sanggup lagi berdiri. Kini tinggal pasukan belakang bersenjatakan panah.
"Luncurkan panah!" teriak salah satu prajurit keras. Dalam waktu sekejap ratusan anak panah mulai melesat dengan cepat ke arah sosok bertopeng itu.
"Menarik, tapi masih lemah!" Melihat ratusan anak panah mulai berdatangan ke arahnya, sosok bertopeng itu mengangkat tangan kanannya, dan seketika ranting yang tadinya jauh di sisi sana dengan cepat melesat kembali ke tangan sosok bertopeng itu. Tidak perlu banyak bicara lagi, sosok bertopeng itu segera berlari ke depan siap menerjang ratusan anak panah. Sosok bertopeng itu memutar-mutar ranting di tangannya dengan cepat, menangkis setiap anak panah yang melesat ke arahnya. Sambil bergerak melangkah ke depan secara perlahan.
Melihat anak panah terus berdatangan, sosok bertopeng itu tidak ingin memperlama waktu bermain. Sosok bertopeng itu menghentakkan kakinya lagi ke tanah, membuat tanah yang dipijik para pasukan penahan bergerak sehingga mereka kehilangan keseimbangan untuk memanah lagi. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menang, sosok bertopeng itu langsung mengubah posisi rantingnya lagi. Sosok bertopeng itu menghentakkan lagi kakinya membuat tanah bergetar dan melambung ka udara. Melihat jumlah tanah kali ini lumayan banyak, sosok bertopeng itu tidak berniat memukulnya sebab tangannya lagi, tapi dengan ranting di tangannya. Bongkahan tanah dengan cepat melesat ke para pasukan pemanah dan menghantam setiap prajurit.
Dalam waktu singkat pasukan pemanah telah dikalahkan. Sosok bertopeng itu menghentikan perlawanannya, lapangan tidak lagi utuh seperti awal, banyak lubang dan retakan terjadi di mana-mana, tidak hanya itu debu juga berterbangan mengganggu beberapa pandangan orang.
Podium terdengar hening, seakan tidak ada penghuninya di sana. Karena terlalu terkejut menonton setiap pertarungan yang terjadi, meraka hanya bisa diam dan menonton sambil terkejut. Bahkan setelah pertarungan telah selesai mereka masih tidak berucap sepata kata pun.
Mereka terlalu terkejut.
"Kaisar Feng Kim, aku menunggumu turun!" Terdengar suara memanggil yang tidak lain dari sosok bertopeng itu.
___________________
A/N: Daebak! Othor yg cuman nonton hanya bisa mangap. itu tenaga apa ilmu hitam? kirim alamat dukunnya donk
Like aja gaes jan lupa, itu pling penting :)
Gaes kalo ada kesempatan mampir juga ke karya othor yang satu ini, aku minta dukungan kalian 😍 tenang itu cerita udah 4 episode