Perfect Faith

Perfect Faith
White Party


"Kara!" teriak seorang wanita muda guna memanggil temannya. Yang dipanggil pun langsung menoleh ke sumber suara dan langsung melambaikan tangannya setelah pandangan mereka bertemu.


Kara, seorang wanita yang baru saja berhasil menggapai salah satu cita-citanya. Hari ini adalah hari kelulusannya, yang berarti ia resmi menyandang gelar sarjana arsitektur, begitu pun sama halnya dengan teman yang memanggilnya tadi.


Malam ini, ia bersama teman-temannya mengadakan pesta kelulusan mereka di salah satu hotel milik sahabatnya, Adji. Adji dan Kara adalah sepasang sahabat yang tak terpisahkan, katanya.


Ya bagaimana tidak? Mereka bersahabat mungkin sedari mereka berbentuk janin, pasalnya kedua orang tua mereka masing-masing juga memang bersahabat. Dan uniknya lagi, mereka pun lahir di tempat dan hari yang sama. Kok bisa? Ya, takdir, hehe.


Kara melangkah menghampiri teman yang memanggilnya, Selena. Gadis itu sedang duduk di salah satu kursi depan meja bar, dengan gaun putih selutut. Kara juga memakai gaun pendek berwarna putih berpadu stilleto berwarna cokelat yang senada dengan belt dan tas tangannya.


Tema dan dresscode malam ini memang serba putih, menandakan bahwa mereka sudah bisa tenang setelah melewati masa-masa suka duka selama perkuliahan. Kini saatnya mereka menikmati waktu mereka yang tenang itu, dengan berpesta.


Yang datang ke acara tersebut tak sedikit, pasalnya Adji tak hanya mengundang teman-temannya saja, tapi juga teman-teman Kara, dan bahkan beberapa orang alumni pun ikut diundangnya. Termasuk kakak Kara dan kawan-kawannya yang selisih dua tahun di atas mereka.


Kara dan Adji berkuliah di satu universitas yang sama, hanya saja berbeda fakultas. Kara mengambil arsitektur karena cita-citanya adalah membangun banyak bangunan indah, sedang Adji mengambil jurusan manajemen bisnis, ya tentu karena ia harus melanjutkan usaha yang ditekuni turun termurun oleh keluarganya, perhotelan.


“Hai Sel, tumben lo dateng cepet..” tanya Kara setelah berhasil mencapai bahu temannya itu.


“Iya, tadi gue bareng Chandra soalnya” jawab Selena.


“Hah? Chandra? Chandra CSnya Adji?” Kara kembali bertanya dengan wajah terkejut.


“Iyah, Ra.” tegas Selena, Kara semakin penasaran. Pasalnya, dua orang ini seperti kucing dan anjing, tak pernah searah, kata akur seperti tak ada dalam kamus mereka berdua.


“Demi apa? Kok bisa?”


“Malah nanya demi apa ni anak, udah jelas ini gue sekarang di sini. Hal yang gak mungkin kan gue dateng lebih awal di suatu acara. Gue tadi dijemput sama dia, katanya disuruh bokapnya.” jelas Selena.


“Oooh, jadi nih kalian dijodohin? Haha..”


“Ogah, sorry.. kayak gak ada cowok lain aja di dunia ini..”


“Heh, gak boleh gitu lu, nanti lu malah suka sama dia lho nanti, haha..”


“Iiiihh amit-amiiitt.. jauh-jauh deh gue sama si Chandra garuk tuh…” Selena membuat ekspresi yang seolah jijik pada objek yang sedang dibicarakannya, tangannya mengibas-ngibas udara.


“Heh, emangnya lu pikir gue mau sama lu?” ucap Chandra yang tiba-tiba menggebrak meja bar dan duduk di sebelah Selena, membuat dua gadis itu serasa hampir copot jantungnya.


“Eh kaget gue anjir, lu yaaaah!! Kayak setan emang, tiba-tiba udah muncul di sini aja!” kesal Selena.


Kara hanya tertawa melihat tingkah Tom and Jerry di dunia nyata itu, tapi beberapa detik kemudian ia dikagetkan lagi dengan tangan yang melingkar di perutnya, seketika ia menoleh namun lelaki itu lebih dulu mencium pelipis kanan Kara.


Kemudian diputarnya kursi bar yang diduduki Kara agar menghadap ke arahnya. Pria itu tersenyum dan segera mendapat balasan senyum manis dari Kara. Mereka pun saling memberi pelukan hangat.


Adji, siapa lagi yang berani menyentuh Kara seintim itu? Siapa juga yang akan dibiarkan Kara untuk menyentuhnya selain keluarganya dan Adji yang sudah menjadi teman seumur hidupnya.


Chandra dan Selena yang sudah biasa melihat pemandangan tersebut hanya memutar malas bola mata mereka seraya menenggak minuman yang berada di atas meja depan mereka. Seolah sudah jengah dengat situasi seperti itu.


“Lu kok telat sih?” tanya Adji sembari masih memeluknya.


“Hehe maaf, lagian sejak kapan gue gak pernah telat? Apalagi kalau berangkatnya sama bang Rendy..” sahut Kara, mereka merenggangkan pelukannya.


“Mana bang Ren?” tanya Adji sambil menatap mata Kara, kemudian melirik kanan kiri.


“Gak tau, mungkin udah ngayab nyari cewek-cewek..” jawab Kara dengan santainya.


“Wah mana-mana? Siniin..” seru Kara dengan wajah antusiasnya dan telapak tangan yang menengadah.


“Dih.. soal hadiah aja lo cepet yah..” sarkas Chandra.


“Heh nyaut aja lo, bukan urusan lo yaaah..” jawab Kara dengan menunjukkan wajah sinisnya pada Chanda.


“Adjiiiii.. mana siniiii…” sambung Kara, jurus puppy eyes pun mulai ia lancarkan.


“Ada di kamar, ntar gue kasih kalau udah selesai acaranya yah.. males turun..”


“Gak mau, mau sekarang..” ujar Kara, manja.


“Hmm kebiasaan deh, maksa..”


“Hehe.. ayooo.. sana ambil..”


Adji yang gemas hanya menahan tawa sambil mengelus pucuk kepalanya. Akhirnya ia pun mengalah pada gadis cantik itu, seperti biasanya.


“Ya udah ayo kita turun..”


“Dih, enggak ah, Adji sendiri aja.. tinggal turun, ambil hadiahnya, terus bawa ke sini..”


“Enggak, lu harus ikut, gede soalnya, gila aja gue bawa-bawa ke sini..”


“Waaah.. gue suka nih yang gede-gede.. ya udah lah, hayu gas ngeeengg..” mata Kara berbinar-binar karena antusias dan sangat penasaran.


“Etdah lu kebiasaan ya Kar..” tukas Selena yang tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu.


“Hehe rejeki gak boleh ditolak say, emang kudu disamperin..”


“Ya udah ayooookk..” Adji mengangkat tubuh Kara dari kursi dan membuat gadis itu berdiri di sampingnya.


Setelah berdiri dengan sempurna, Kara segera menengok ke arah dua sejoli yang diketahui tak pernah akur di sampingnya.


“Baek-baek lu Chan.. awass kalau gue balik Selena kenapa-kenapa, dijaga yah..” ucap Kara sambil menunjuk ke arah Chandra.


“Heh, sebelum gue atau orang lain ngapa-ngapain dia juga pasti udah babak belur duluan tu orang, gara-gara digebukin sama ni anak.. jadi lu gak usah mikir macem-macem..” Chandra menunjukkan wajah geramnya pada Kara.


“Ya abisnya, lu kan orang yang paling gak bisa dipercaya di dunia ini..”


“Astagaaa.. Ji, lu kok bisa tahan sih deket-deket sama orang kek dia?” Chandra bertanya dengan setia menampilkan wajah geramnya.


“Ya karena gue emang love-able lah.. sirik aja looo…” sarkas Kara yang merasa sudah jengkel dengan ucapan Chandra.


Ya, selain dengan Selena, Chandra juga selalu berkonflik dengan Kara. Selena yang menjadi topik pembicaraan hanya diam terperangah melihat sahabatnya cekcok dengan pria menyebalkan di sebelahnya. Adji pun hanya mampu mengulum senyum sambil mengelus-elus pucuk kepala Kara untuk menenangkan.


“Udah.. udaaahh.. jangan berantem, gue sama Kara ke bawah dulu yah Ndra, Sel..” sela Adji.


“Dijaga yah sohib gue, awass lo kalau dia sampe kenapa-kenapa..” ancam Kara sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah (membentuk huruf v) bulak balik ke matanya sendiri dan ke arah mata Chandra.


Kara dan Adji pun mulai melangkah menjauhi mereka.