
Di sebuah kapal pesiar yang sedang melenggang dengan gagahnya di lautan luas berawarna biru, air laut saat itu bak cermin yang merefleksikan langit dengan cahaya matahari yang bersinar cukup terang, di sana berdiri seorang wanita yang sedang memandang langit berhiaskan awan putih dan burung yang sedang asyik berterbangan. Dia seperti sedang melamun, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
“Hei!” sentak seorang pria yang mengejutkan gadis yang sedang melamun tersebut.
“Astaga!”
Wanita itu terkaget karena tiba-tiba ada yang menepuk lalu merangkul bahunya dan orang itu kini sudah berada tepat di sampingnya. Dengan reflek, si gadis memukul punggung tangan si pria yang sedang berada di bahunya.
“Biasa aja kali, gak usah kaget gitu dong..” ujar pria itu sambil terkekeh kecil.
“Ya kamu ngagetin! Untung jantung aku kuat..” sang gadis memajukan mulut dan mengerutkan keningnya, merajuk.
“Hehe maaf, lagian seru banget sih keliatannya, ngelamun sampe gak tau kalau ada orang yang samperin kamu..”
“Heee..” gigi putih yang berjejer rapi terlihat dari bagian dalam bibir ranumnya.
“Dih malah cengengesan, apa sih emang yang lagi dilamunin?”
“Enggak kok, gak ngelamun.. Cuma lagi seneng aja liat burung-burung di atas sana.."
Sang gadis menatap ke atas dengan tangan yang menunjuk ke arah burung-burung yang ia maksud, si pria mengikuti arahan gadis itu.
"Kayaknya seru ya jadi mereka, bisa terbang ke mana pun yang mereka mau..” lanjut sang gadis.
“Tet tot!”
Si pria mencubit gemas hidung wanita di hadapannya, pria itu juga memasang wajah lucu dengan mata sedikit melotot, bibir mengerucut, dan bagian hidung yang mengerut. Lucu!
“Salah! Burung itu terbang buat nyari makan, buat migrasi dari satu tempat ke tempat lain, kalau buat mainnya paling cuma sebentar doang, bukan sepenuhnya buat terbang ke mana pun mereka mau juga. Itu semua memang karena keharusan mereka biar mereka tetap hidup..” jelas si pria dengan suara indahnya.
“Iya deh iyah, orang jenius mah emang serba tau emang..”
“Ehm.. iya sih..”
“Emang kenapa? Apa sih yang kamu pikirin?”
Wanita berambut panjang dengan topi lebar yang menutupi kepalanya itu pun menghela nafas sedikit lebih panjang. Dress selutut berwarna putih, dengan gambar bunga adenium, yang ia kenakan itu berkibar-kibar diterpa angin laut yang cukup kencang. Ia pun mulai membuka mulutnya.
“Aku masih kepikiran aja gitu sampe detik ini, kok bisa ya aku di sini sekarang? Sama kamu? Padahal beberapa waktu lalu aku kondangan ke nikahan kamu, ngeliat kamu senyum merhatiin istri kamu jalan ke altar, aku hampir nangis karena saking terharunya, dan aku di sana juga sama orang lain kan..”
Pria itu terdiam seperti menerawang jauh mengenang masa-masa yang dibicarakan oleh sang gadis, kemudian sedikit membungkuk memandang wajah lawan bicaranya, menunjukkan senyum manis di wajah tampannya.
“Terharu apa cemburu?” tanyanya denga nada mengejek.
“Haha.. dua-duanya mungkin.. aku juga kan pengen jalan di altar, didampingin papi, terus ngeliat calon suami aku nungguin aku di depan, berdiri di samping pendeta sambil senyum super manis.. aaahh aku ngebayanginnya aja udah seneng banget..”
Mereka berdua terkekeh dengan gigi-gigi rapi yang terlihat di balik bibir. Laki-laki itu kemudian menarik gadisnya ke dalam pelukan, lalu mengelus pelan punggung si pemilik tubuh mungil itu.
“Hmm.. sabar yah..”
“Iya, aku orangnya sabar kok.. tapi lucu aja gitu kan kalau dipikir-pikir..”
“Uhm.. That's perfect faith..”
Wanita itu hanya membalas dengan senyuman dan mengeratkan pelukannya pada pria di depannya.
“Perhaps.. perfect faith.. perfect match..” wanita itu terkekeh pelan dengan senyuman yang melengkung di bibirnya.
“Hihiii.. Padahal kan kalau diingat-ingat, kita tuh dulu.....”