
swiss, Interlaken,1862
tahun dimana Aku berumur 12 tahun.
"Nana dimana kau membeli roti cokelat glenmore? ". tanya Ano pada gadis 2 tahun lebih muda dari nya.
" ini... ummmm..... di persimpangan kanan jalur kereta api. harganya murah untuk pembelian pertama loh. "jawab Nana.
"sungguh.... ".mata Ano berbinar mendengar kata murah.
" tentu, mau aku temani " jawab Nana dengan wajah bulat dan imut.
anggukan kepala Ano sangat berisi makna, bawa aku bocah kecil.
mereka berdua berjalan di antara keramaian kota. sambil bersenandung riang gembira.
kaki raksasa yang melintasi mereka berdua, tersenggol pada salah satu dari mereka.
'maaf kan saya. "ucap lelaki yang paras rupanya sangat Berkarisma. buru-buru meninggalkan mereka berdua tanpa menoleh.
" hmmp... apa sesibuk itu sampai tidak mengunakan matanya"ejek Nana sambil mentoel kepalanya sendiri.
mata bak elang menatap sedikit kebelakang. mengisyaratkan bahwa ia mendengarkan nya. dan berkata bahwa ia sedang sibuk.
keadaan yang mengerikan tadi berlalu sangat cepat.
"apa apaan itu... " celoteh Nana.
"ayo....!! " teriak Ano sembari menarik tangan Nana.
"he.... " teriak Nana
dengan kecepatan sedang mereka berlari sampai di sebuah ladang rumput yang berdekatan dengan hutan pinus. kepala berat karna terik matahari yang panas, mereka mengistirahatkan badan mereka sambil tertawa di lapangan luas tersebut.
bahkan mereka tidak mengingat kejadian tadi. tepatnya terlupakan.
sore hari.
mereka berpisah, karena arah rumah yang berbeda. Ano anak menteri pendidikan di sana. sedang kan Nana seorang anak guru.
sesampainya di rumah, ano menghampiri ibunya yang sakit di lantai 3 rumah nya.
"ibu, apa pria bermata sipit sangat bagus? "
bibir kering dan pecah-pecah itu tersenyum kecil. matanya tak lagi kuat untuk terbuka lama.
"pria mana pun baik nak.tidak ada yang salah pada mereka. "
"benar kah. kalau begitu boleh kah aku menikah dengan bangsa asia bu? ".tanya Ano dengan senang.
kepala terasa berat sekali untuk di gerakan untuk melihat putrinya yang molek dan anggun.
" siapa pun boleh nak, tapi pesan ibu jaga diri mu baik-baik. pria itu ada yg berhati baik"
senyum ibunya yang di buat melebar.
mata yang berbinar seperti melihat bunga di sore hari tiba-tiba terisi air seperti embun pada pagi hari. hari terakhir di saksikan oleh nya sendiri.tangisan nya memenuhi ruangan yang memanggilnya untuk kembali ke dalam pelukan nya. mayat yah tetap lah mayat.
ayah dan pembantu dalam rumah merasakan sakit terlebih lagi dengan kepergian ibu Ano.
hujan bahkan badai pun tak ada melewati pemakamannya. hanya ada awan dan matahari.....
seisi rumah ramai-ramai membuat acara kepergian seseorang ke alam lain. nenek, bibi bahkan Nana ada d rumah nya untuk berduka cita dan menyemangati keluarga yang di tinggalkan.
tawar si nenek pada Ano yang masih remaja dalam Buayan sang nene.
gaun merah, cantik. melintasi pintu masuk dan berjalan ke atas menuju kamar almarhum.
"cantik" gumam Ano.
ibu! pikiran Ano penuh di dalam halusinasinya. dan berlari ke atas rumah
sang nenek ingin mengejar tapi apalah daya tulang kaki dah tua, rapuh.
"sayang apa kabar... 'suara halus seperti petikan senar gitar.
malam-malam penuh merah berlian. naungan yang sembab menjadi panas. lirih suara mendayu dayu. rintihan sakit yang nikmat mengikuti irama hentakan kayu persegi empat panjang.
Ano membuka matanya se lebar-lebar nya, imajinasinya hanyut setiap gerakan yang mereka lakukan. menyaksikan dua insan yang bermadu kasih di atas duka tuan rumah ini.
" ayah!... "suara lirih yang hampir tidak terdengar memanggilnya. agar ayah nya berhenti melakukan hal tak senonoh di acara kematian ibunya.
ah!.....
" kecilkan suara mu ******.....
perintah ayah Ano sembari tersenyum kemenangan.
jari jemari memainkan kesukaan wanita itu. sambil tersenyum.
"kakak ku yang malang kenapa engkau mau menikah dengan orang yang mudah mati.... ah! "
jeritan pemanggilan setan keluar.
"aku tidak tau dia selemah ini... " jawab kakaknya alias ayah Ano.
"bibi....! ombak laut menerpa jantung nya. kaki nya yang kedinginan terasa lumpuh hingga terduduk di cela pintu. suara gemuruh dari keluarga kedua bela pihak meratapi kepergian ibu Ano.hingga suara kedua setan itu tidak terdengar oleh mereka.
perselingkuhan terhadap ibu Ano yang bukan orang lain. adalah adik ayah Ano sendiri.
ah!...
makin ramai suara berduka..
semakin panas permainan mereka.
tahap selanjutnya. kereta malam yang masuk keterowongan berbukit. dengan lonceng cinta.
Ano dengan hati rapuh nya memandang ayah nya hanya binatang yang memberi nya makan.
tanpa Ano sadari ia di temukan oleh ayahnya sendiri berbaring di depan pintu dengan berlinang air mata.
" gadis yang malang... "ucap bibi Ano sembari menarik tangan kakaknya bram ke atas kasur.
dan bermain untuk yang kesekian kali dalam semalam. membiarkan Ano menahan kedinginan hingga bertemu fajar.
pikiran, halusinasi Ano berubah 190 derajat sejak saat malam itu.
sedang kan bram pergi ke London ke esokan hari nya bersama saudara laki-lakinya dengan bibinya. liliy.
pagi yang cerah Ano menghampiri neneknya dengan senyum yang bahagia untuk saat ini.
aku ingin bersekolah. gumam Ano.
esok akan seperti apa?