
Kemal membuka pintu kamar putrinya perlahan, terlihat Bella yang masih membuka matanya tidur di peluk oleh Bilqis istrinya. Pria paruh baya itu perlahan masuk membuat Bilqis tersenyum manis ke arah suaminya.
Namun, senyuman itu langsung pudar saat melihat Reynal yang juga masuk mengikuti Kemal dari belakang.
“Ngapain papa izinin sampah itu masuk ke sini?” tanya Bilqis menatap tajam suaminya untuk pertama kali.
Bella langsung ikut menoleh ke arah Reynal, wanita itu terdiam dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Dia menatap Reynal dengan sorot mata penuh kebencian seolah-olah pria di hadapannya itu musuh bebuyutannya.
Reynal memandang sendu wajah Bella yang sembab dengan mata bengkak membuat pria itu merasa sangat sakit hatinya.
“Biarkan Reynal minta maaf pada Bella atas semua kesalahannya di masa lalu, Ma!” ujar Kemal dengan nada suara lembut.
Bilqis turun dari ranjang, wanita itu ingin mendorong Reynal. Tetapi, Kemal langsung memeluk tubuh mungil istrinya itu.
“Lepasin, Pa! Mama mau hajar ini sampah! Berani-beraninya udah nyakitin Bella.”
Bilqis memberontak karena merasa marah pada suaminya, dia ingin sekali menghajar Reynal karena sudah menyakiti putrinya.
Bella hanya diam saja dengan mata yang terus menatap penuh kebencian ke arah Reynal. Sedangkan pria muda itu hanya bisa diam saat melihat Bella yang menatapnya dengan tatapan benci.
“Ma, jangan begini!”
“Papa yang jangan begini, kenapa papa terlalu baik jadi orang? Mama gak suka sama papa yang bersikap baik atau bodoh seperti ini!”
Seperti biasa Bilqis selalu barbar membuat Kemal kelelahan dan langsung menyeret istrinya keluar untuk di berikan nasehat.
Tinggallah Reynal dan Bella di dalam kamar, wanita itu duduk menekuk lututnya bersandar di tepi ranjang. Reynal tersenyum kikuk, pria itu merasa salah tingkah karena Bella selalu menatap dirinya.
Bukan tatapan cinta, melainkan tatapan penuh kebencian.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Bella dengan nada yang sangat dingin. Wanita itu menatap Reynal seolah mangsa nya.
Degg.
Reynal merasa sesak saat Bella memanggilnya ‘kamu’ biasanya dia akan memanggilnya dengan panggilan ‘kakak’, mungkin bila Bella hilang ingatan tidak akan sesakit ini.
“Aku ingin minta maaf!” jawab Reynal jujur ingin berjalan mendekati Bella.
Reynal menghentikan langkahnya saat mendengar jawaban Bella yang sangat singkat. Dia yakin Bella belum memaafkannya karena dari tatapan wanita itu masih sangat membenci dirinya.
“Nggak mungkin kamu segampang itu maafin aku, Bell!” bantah Reynal berjalan mendekati Bella lalu duduk di dekat Bella menyamping menghadap wanita itu.
“Kalau kamu sudah tahu kenapa kamu minta maaf? Lebih baik kamu pergi dari sini karena kamu hanya membuat pandangan ku rusak saja!” ujar Bella dengan nada sarkas menatap sinis Reynal.
Lagi dan lagi jawaban yang keluar dari mulut Bella begitu tajam bak sebilah pedang yang menghujam jantung Reynal. Rasanya sangat sakit dan sesak.
Apa ini yang dirasakan Bella dulu saat dirinya bersikap dingin? Kalau tahu begini rasanya, Reynal tak akan bersikap dingin.
“Sayang …” Reynal ingin menyentuh tangan Bella, namun wanita itu lebih dahulu menepis tangan Reynal.
“Tutup mulut mu b*jingan! Jangan pernah memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu, Bangs*t!” bentak Bella dengan nada yang amat tinggi membuat Reynal terkejut karena untuk pertama kalinya Bella berbicara dengan nada yang sangat tinggi.
“Bell.” Reynal ingin menyentuh bahu Bella. tetapi wanita itu lebih dulu menghadiahkan tamparan di wajah tampan Reynal.
Plakk.
Wajah Reynal terpental ke samping karena menandakan tamparan Bella sangatlah keras. Reynal menyentuh pipinya yang terasa sangat perih.
“Jangan pernah menyentuhku … aku jijik di sentuh oleh pria yang udah pernah kumpul keb0 dengan pelakor! Kamu itu lebih menjijikkan dari kotoran, kamu dengar, Brengs*k!” pekik Bella dengan nada suara yang semakin tinggi.
*
*
*
BTW kenapa ayahnya Bella baik seperti itu, bisa langsung baca kisah nya di novel author yang judulnya ANAK KEMBAR TUAN MUDA karena yang tahu Arka Cs pasti tahu siapa Kemal.
Bersambung.
Jangan lupa like koemntar vote dan rate 5 yah kakak.
Salem Aneuk NAnggroe Aceh.