
Pov Rika.
Hari ini aku belum mau pulang ke rumah. Aku masih marah dengan Mas Fahmi. Aku tidak mengira jika Mas Fahmi bisa berbicara kasar padaku hanya karena kedua anaknya aku suruh mandi sendiri.
Padahal aku tidak serius berbicara seperti itu pada mas Fahmi. Tapi dia malah menganggapnya serius, aku juga tahu anak balita umur 1 tahun belum bisa mandi sendiri.
Bahkan papahku saja sampai mendesak aku untuk kembali pulang ke rumah, tapi aku tetap tidak mau sampai mas Fahmi minta maaf padaku karena ucapannya yang kasar!
Dan parahnya lagi papahku sampai ikut memarahiku. Aku heran, sebenarnya di sini yang anak papah itu aku atau mas Fahmi sih?
Aku cerita pada papahku tentang masalah rumah tanggaku, tapi aku dibuat tercegang. Aku kira papah akan membelaku, tapi nyatanya aku salah.
"Apa yang dibilang Suami kamu memang benar Rik, kamu tidak punya otak!" ucap papah sambil menyeruput kopi pahitnya.
"Pah, tega banget si sama anak sendiri. Masa aku dibilang enggak punya otak." kesalku.
"Tapi kenyataanya memang seperti itu, memangnya saat pembagian otak. Kamu lagi di mana?"
"Pah!" aku menghentak kedua kakiku.
Tak tahan aku diocehin oleh papah. Aku pergi meninggalkannya.
Percuma juga ngomong sama papah.
Sudah dikatain suami enggak punya otak. Eh, papahku juga ikut-ikutan bilang aku enggak punya otak.
Aku kira papah akan membelaku, tapi faktanya malah aku yang dimarahi habis-habisan.
Papah bilang aku memang tak ada otak, mendengar hal itu aku jadi semakin jengkel dengan papah Dan mas Fahmi.
Mereka berdua sama saja. Tak ada yang mau membelaku. Kecuali mamahku.
Mendengar diriku dimarahi oleh papah membuat mamahku murka, dia tidak terima jika anaknya di hina oleh mas Fahmi dan juga suaminya.
Akhirnya mamah dan papah cekcok hanya karena masalahku. Melihat orang tuaku ribut aku jadi tidak enak.
Akhirnya aku memisahkan mereka berdua. Mamah mengajakku untuk pulang ke rumah mas Fahmi untuk memberikan pelajaran.
Awalnya aku menolak aku tidak ingin masalah ini menjadi panjang. Tapi mamahku terus memaksa aku untuk pergi ke rumah mas Fahmi.
Sesampainya di rumah mas Fahmi mamahku segera turun dari mobilku. Dia juga mengajak aku untuk masuk ke dalam.
Tapi aku menolaknya. Sedangkan aku menunggu di mobil tanpa masuk ke dalam garasi.
Setelah menunggu 30 menit di dalam mobil akhirnya mamahku keluar dalam keadaan kesal dan itu terlihat dari raut wajahnya.
“Gimana Mah?” tanyaku.
“Suami kamu tuh yah, benar-benar enggak punya etika sama sekali sama orang tua. Masa Mamah langsung diusir begitu setelah Mamah bilang anaknya cacat!”
“Yah, atuh jelaslah diusir.” Batinku.
“Iya, lagian Mamah bilang kaya gitu.” Jelasku membuat mamah melotot ke arahku.
“Memang anak dia cacat kok!”
Entah kenapa saat mamah bilang anak mas Fahmi cacat, aku hanya biasa saja tidak marah atau pun sakit hati. Padahal itu adalah anakku sendiri. Yang dilahirkan dari rahimku.
“Pokoknya kamu harus ceraikan suami kamu!” ancam mamah membuat hatiku tersentak kaget.
“Kok gitu Mah?”
“Dengar ya Rik, dari awal Mamah memang tidak setuju kamu menikah sama Fahmi yang kerjanya hanya sebagai kepala keamanan di perusahaan orang lain! Mamah tuh pengennya kamu nikah sama Polisi, PNS, tentara, dokter, atau enggak pengusaha kek. Ini kamu malah pilih laki-laki kepala keamanan yang gajinya tidak seberapa!”
Mendengar ocehan mamah, aku hanya diam membisu, tak bisa berkata apa-apa lagi. Jujur aku masih mencintai mas Fahmi.
Tapi entah kenapa aku merasa mas Fahmi semakin jauh di lubuk hatiku.
Semenjak aku melahirkan kedua anakku yang cacat, rasa cinta dan kasih sayangku pada mas Fahmi perlahan hilang.
Awal aku bertemu mas Fahmi saat itu aku datang ke pesta teman sekolahku dulu. Yang mana itu adalah teman mas Fahmi juga
Awalnya aku belum ada niatan untuk menikah karena aku masih ingin sendiri. Tapi entah kenapa teman-temanku malah menjodoh-jodohkan diriku dengan orang lain.
Awalnya aku tidak tertarik dengan mas Fahmi. Tapi semakin lama aku mengenal mas Fahmi aku sedikit tertarik.
Pada akhirnya kami berdua pun berpacaran, aku mengenal mas Fahmi sangat baik, perhatian, bahkan pintar sekali menggodaku dengan gombalan mautnya hingga membuatku terpingkal-pingkal.
Aku juga tahu jika mas Fahmi bekerja sebagai kepala keamanan di perusahaan ternama.
Bahkan mas Fahmi sudah mempunyai rumah sendiri berkat hasil kerja kerasnya.
Hingga akhirnya aku menikah dengan mas Fahmi tapi sayangnya tuhan memberikan ujian pada kami dengan melahirkan anak yang mempunyai cacat fisik.
****
“Kok kamu masih di sini? Kenapa enggak pulang ke rumah.” Tanya papahku melihat aku kembali pulang ke rumah.
“Aku masih mau di sini Pah. Aku belum mau pulang ke rumah.” Ucapku tertunduk.
“Kenapa? Kamu enggak kasihan sama anak kamu. Setiap saat selalu saja kamu tinggalkan!”
“Pah! Kamu kenapa si maksa banget Rika untuk pulang ke rumah?” tanya mamaku kesal.
“Ya harus dong, dia kan istri Fahmi. Mau sampai kapan kamu di sini terus? Kalau memang kamu punya masalah sama keluarga kamu sendiri selesaikan baik-baik sama suami kamu.”
“Cukup! Jangan coba-coba kamu paksa Rika untuk pulang ke rumah. Suruh saja Fahmi datang ke rumah ini dan meminta maaf pada Rika!” mamah segera melangkah pergi ke lantai atas.
Sedangkan papahku menatap sinis ke arahku.
Saat aku ingin pergi ke kamarku, tiba-tiba ponselku berdering. Aku mengambil ponselku dan melihat nama yang ada di ponselku.
Dio, ya dia adalah kekasih gelapku. Diam-diam aku menjalani kasih cinta dengan Dio tanpa sepengetahuan mas Fahmi.
Aku tahu perbuatan ini salah, dan aku tahu ini akan ada resiko yang harus aku bayar. Tapi aku berusaha sekuat mungkin agar hubungan ini jangan sampai ketahuan oleh mas Fahmi.
Aku akan bermain cantik, masalah terbesar yang sekarang aku hadapi adalah aku hamil anaknya Dio.
Sudah satu tahun aku menjalani kasih dengan Dio pacar gelapku. Dia mengatakan padaku akan bertanggung jawab atas kehamilanku.
Dan dia berjanji akan menceraikan istrinya yang seorang polisi, awalnya aku ingin mengakhiri hubungan ini.
Tapi Dio meyakinkanku agar tetap mempertahankannya.
Esok paginya.
“Bi, mamah mana?” tanyaku pada bibi yang ada di dapur. Namanya bibi Risma dia sudah bekerja pada kami saat aku masih berumur 5 tahun.
“Nyonya lagi ada di ruang tamu.”
“Hoh, loh. Itu minuman mau buat siapa Bi?” tanyamu melihat bibi sedang menyiapkan minuman dan juga camilan.
“Ada den Fahmi.”
“Apa! Suami saya datang ke sini?”
“Iya, kalau enggak lihat saja di ruang tamu.”
Aku berjalan cepat menuju ruang tamu, dan mendapatkan suamiku sedang duduk di sofa empuk.
Sedangkan anaknya duduk di pangku ayahnya dan juga kakeknya.
“Ngapain kamu di sini?” tanya mamah dengan tatapan sinisnya.
Mungkin mamah masih kesal dengan mas Fahmi.
“Saya datang ke sini ingin membawa Rika pulang.”
“Hoh, sudah sadar rupanya. Baguslah kalau kamu datang ke sini, pasti kamu mau minta maafkan sama Rika.”
Fahmi menghela nafasnya, “saya datang ke sini bukan untuk meminta maaf pada Rika. Tapi saya datang ke sini hanya untuk membawanya pulang.” Ucapan Fahmi membuat mata mamahku terbelalak.
“Dasar mantu kurang ajar! Jelas-jelas kamu salah. Malah ngeles lagi!”