
Pagi hari yang cerah, semua kembali melaksanakan pekerjaan masing-masing, dokter Vian sudah mengabarkan pada pimpinan tiap instalasi dan seluruh dokter di rumah sakitnya untuk berkumpul jam 11.00 tepat, ruangan sudah di siapkan, semua masih belum tau kenapa mereka harus mengadakan rapat, sementara menunggu waktu, mereka mengerjakan hal-hal penting terlebih dahulu.
Begitu pula Lea, dia sudah sibuk di ruang poliklinik, pasien mulai datang satu persatu, hari ini pelayanan dokter di buka sampai jam 11 saja, selanjutnya pasien akan di layani oleh perawat.
Ada beberapa orang yang saling berbisik ada apakah gerangan? Kenapa bukan direktur utama yang mengajak untuk rapat.
Pelayanan di poliklinik terus berjalan sampai tiba jam 11 tepat, semua yang di perintahkan untuk menghadiri rapat segera memasuki ruang rapat, sedang yang lain tetap melanjutkan pekerjaannya mereka.
Dokter Vian sudah menunggu di ruang rapat, ia sedari tadi menyiapkan apa yang akan ia sampai kan termasuk bukti-bukti video sebagai pelengkap.
" Selamat siang semua, maaf sudah hadir semua?" tanya dokter Vian sambil melihat sekeliling ruang rapat.
" Masih beberapa yang belum datang, masih dalam perjalanan, karena mereka dinas malam nanti," sahut kepala bagian kepegawaian.
" Baik kita tunggu sebentar, saya ingin semuanya ada dan mengikuti rapat ini." ujar dokter Vian sambil mengecek lagi poin-poin catatan yang hendak ia sampaikan.
Tak berapa lama, masuk beberapa dokter yang di tunggu, dan akhirnya semua lengkap hadir di ruangan itu.
" Sudah hadir semua dok," kata kepala kepegawaian.
" Baik, saya mulai saja rapat ini, saya mohon semuanya fokus untuk mendengarkan, kemarin ayah saya sudah meminta saya untuk mengambil alih tugas beliau, nah sehubungan dengan itu maka saya harus bisa sesegeranya untuk menyesuaikan dengan situasi, sebelum saya mengambil alih posisi beliau maka saya harus menata terlebih dahulu visi dan misi saya ke depan, terutama yang berhubungan dengan kelangsungan rumah sakit ini, agar tetap berjalan sebagaimana mestinya dan atau lebih bagus lagi dari sebelumnya, untuk itu saya butuh dukungan semuanya agar apa yang ingin saya lakukan pada rumah sakit ini tercapai dengan baik, untuk itu pula kita harus sejalan sepemikiran, tidak bisa kita sukses kalau masih ada hal yang mengganjal, yang akan menghalangi kekompakan kita dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat, nah perlu semua yang hadir ketahui, beberapa hari yang lalu ada hal yang tidak seharusnya di lakukan di rumah sakit ini, dan itu saya pantau, dan tidak bisa saya diamkan berlarut-larut, karena akan merusak citra dari rumah sakit ini, sampai di sini ada yang paham maksud saya??" dokter Vian berhenti sejenak sambil melihat semua yang hadir.
Dokter Vian mengambil air minum di depannya dan meminum sedikit.
" Kita rileks aja, silahkan di minum air yang sudah di sediakan," ucap dokter Vian melihat semuanya masih bingung.
" Baik saya lanjutkan, sekarang saya mau tanya, apa ada di antara kalian semua, maaf.... ada yang ingin keluar atau berhenti bekerja di rumah sakit ini?"
Semua yang hadir ada bersuara, ada yang berbisik saja, ada yang menggeleng, bermacam-macam sikap mereka perlihatkan.
" Jadi tidak ada? Dalam artian masih betah ya di sini? Kalau saya yang memimpin nanti apa masih betah?"
Semua mulai berbicara dengan beda-beda kalimat, namun ada juga yang diam saja.
" Nampaknya kalian satu suara masih betah di rumah sakit ini ya? Baik saya akan perlihatkan sebuah video dan setelah video ini berakhir di putar maka orang-orang yang berada dalam video secara otomatis akan saya putuskan kontrak kerjanya dengan rumah sakit ini, karena orang-orang yang berada dalam video ini adalah orang-orang yang di pastikan tidak sejalan dengan saya, dan di pastikan akan menghambat keberlangsungan rumah sakit ini, jadi tanpa boleh protes orang-orang tersebut sudah bukan bagian dari rumah sakit ini, bisa di pahami ya, baik saya putar videonya."
Dokter Vian menekan tombol di keyboard laptop nya yang terhubung dengan layar besar yang berada di depan semua orang.
Video menampilkan suasana di cafe lalu ada dua orang yang berbincang lalu yang satu pergi, ada lagi satu orang yang berpindah duduk, lalu keduanya berbincang setelah itu pergi secara bergantian, kemudian video berpindah ke hasil rekaman CCTV, menampilkan seorang wanita yang menyerahkan botol air mineral pada seseorang dan air itu di bawa lalu di letakkan di ruang istirahat dokter di IGD, nampak video di ambil setiap hari, setiap kali botol air itu di letakkan, Video terhenti berganti dengan foto botol air mineral dan sebuah surat hasil pemeriksaan kadar yang terkandung dalam air itu, dan pemutaran video selesai.
Semua yang hadir menyaksikan video itu kemudian saling berbisik.
" Baik, saya tidak perlu menjelaskan kenapa, kalian semua orang medis pasti sudah tau, dan suara di video sudah sangat jelas, jadi saya harap yang bersangkutan segera keluar dari rumah sakit ini, rumah sakit ini tidak bertoleransi akan ada nya intrik seperti itu, ini sungguh berbahaya, saya tidak akan memberi kesempatan kedua, tolong kepada kepala ruangan yang tim medisnya ada di dalam video, saya tidak ingin ada mereka mulai hari ini di rumah sakit ini, bisa di pahami!!"
Dokter Sabrina tidak bisa berkutik lagi, karena sangat jelas dia yang ada di video itu, semua orang menatap tajam padanya.
" Dokter!! Anda mau keluar sendiri atau kami seret keluar?? Atau ingin kami antar ke pihak berwajib??" ucap kepala ruang IGD dengan tegas.
Dokter Sabrina berdiri lalu keluar dari ruang rapat, sembari di iringi teriakan berupa hinaan dari semua yang hadir dalam ruangan itu.
" Bagaimana selanjutnya dok?" tanya kepala ruangan IGD.
" Perawat itu juga ya pak, saya ingin semuanya beres, dan segera masing-masing kepala ruangan, di beritahukan pada masing-masing bawahan kalian, adakan rapat atau apa aja terserah, saya memberikan ultimatum, bila tak suka bekerja di sini, silahkan keluar tanpa berulah yang di luar nalar apalagi yang berkaitan dengan penyalahgunaan obat, itu jelas melanggar hukum."
" Baik dok, segera kami akan lakukan, kita juga tidak mau terulang lagi hal seperti ini, terimakasih dokter, semoga kedepannya tidak terjadi lagi," ucap kepala kepegawaian.
" Aaamiiin," sahut semuanya serentak.
Rapat berjalan kurang lebih 3 jam di selingi makan siang bersama, dokter Vian ingin agar suasana keakraban terjadi di antara mereka agar saat dia memimpin nanti tak mengalami kendala dalam mengarahkan semua pegawai di rumah sakit keluarganya itu.
Usai rapat di bubarkan, dokter Vian mencari istrinya, jam pelayanan sudah tutup, waktunya untuk pulang.
" Acara di rumah mba Rika kapan sayang?" tanya dokter Vian setibanya di rumah mereka.
" Besok mas, tadi mba Rika sudah menghubungi ku."
" Oh ya udah, tadi aku sudah makan siang sayang, kamu jadi makan sendiri nanti sore, tapi kalau aku lapar lagi, aku ya makan lagi."
" Iya, kita istirahat dulu sebentar, nanti sore kita ke restoran bunda ya, mau lihat persiapan nya sampai dimana."
" Oke."
***
" Apes banget sih, kok bisa ketahuan! Siapa yang merekam aku saat di cafe?? Beno.... kemana tu anak, di hubungi dari tadi kok gak aktif, ck...!! Apa jangan-jangan Tika menjebak ku, tapi tak mungkin dia juga ikut di pecat, ah baiknya aku pastikan dulu, bisa saja dia berpura-pura membantuku, bisa aja dia bekerja sama dengan Vian kan?? Aaaaaaargh, tak apa setidaknya aku aman, mereka tidak melaporkan aku ke pihak yang berwajib, ck tapi ini bahaya, karir ku terancam, aku tak bisa cari tempat lain untuk menerima ku, pasti Vian sudah mempengaruhi rekan-rekannya untuk tak menerimaku, aaaah kenapa aku bodoh sekali!!"
Dokter Sabrina berbicara sendiri di dalam mobilnya, ia bingung hendak kemana mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi, saat di perempatan jalan dia tak melihat lampu merah, ia terus saja menginjak pedal gas mobilnya dengan pikiran kemana-mana, hingga..... tiiiiiiiin......tiiiiiiiin... braaaaaakkkk....buuuumm....!!
Kecelakaan tak dapat di hindari, kendaraan dokter Sabrina di hantam truk tanki bahan bakar dan bis dari dua arah perempatan itu, seketika mobil hancur dan terbakar di tempat kejadian.
Orang-orang yang menyaksikan segera melakukan pertolongan, badan dokter Sabrina terjepit tak sadarkan diri dan tak dapat di keluarkan, api semakin besar.
Orang-orang berusaha memadamkan api, namun tak berhasil, karena banyaknya bahan bakar yang mengalir dari truk tangki semakin memperparah kebakaran.
" Menjauh semua, truk akan meledak!!" teriak seseorang, sontak semuanya berlari menjauh, dan buuuummmm....!!
Truk meledak, mobil dokter Sabrina sedikit terlempar dan masih terus terbakar, dokter Sabrina ikut terpanggang di dalam mobil nya tak sempat di selamatkan.
Tak lama mobil pemadam kebakaran datang dan memadamkan api, setelah memakan waktu 1 jam api baru bisa di jinakkan, pemadam kebakaran mengeluarkan jenazah dokter Sabrina dari mobilnya, lalu dengan menggunakan mobil ambulans jenazah di bawa ke rumah sakit untuk di lakukan otopsi, mobil kepolisian mengikuti di belakang mobil ambulans.
Rumah sakit tampak sibuk dengan kedatangan tiga jenazah dan beberapa korban luka, jenazah langsung di bawa ruang jenazah, sedang korban luka-luka di bawa masuk ke IGD.
Beberapa pihak kepolisian ada yang mengikuti ke ruang jenazah, ada yang ke IGD.
" Ada mayat yang tak bisa di kenali, apa ada informasi identitas nya pak?" tanya Niko kepada salah satu polisi.
" Ada tapi belum tau bisa di buka atau tidak, karena ikut terbakar, sebentar," ucap polisi itu sambil berusaha membuka tas dokter Sabrina yang lengket karena terbakar.
Dua orang polisi masih berusaha untuk membuka tas dengan merobeknya.
Beruntung dompet di dalam masih utuh, lalu polisi itu membuka dan membaca kartu identitas milik dokter Sabrina.
" Ini pak, atas nama Sabrina Maharani, pekerjaan dokter," ucap polisi itu.
" Hah!!" sontak Niko menjadi kaget.
" Ada apa pak, apakah almahumah dokter di sini?"
" Iya betul, sebentar saya laporan dulu ya, Norman! Kamu urusin dulu semua ya, aku laporan dulu, ini....ini dokter Sabrina," ucap Niko pada rekannya.
" Lho!! Innalilahi wa innailaihi roji'un." ucap Norman sambil mendekat pada jenazah dokter Sabrina.
Niko ke depan melapor ke pihak penanggungjawab pelaksana di rumah sakit yang selalu bergantian standby berjaga-jaga.
Sontak semuanya menjadi kaget, hingga rumah sakit menjadi heboh karena musibah yang di alami oleh dokter Sabrina.
Tak lupa pihak penanggungjawab melaporkan kejadian itu pada direktur rumah sakit, dan keluarga korban pun sudah di hubungi.
***
* Innalilahi wa innailaihi roji'un," ucap dokter Vian langsung berdiri saat sedang menemani istrinya makan sore.
" Ada apa mas?"
" Sabrina kecelakaan dan meninggal di tempat, sekarang sedang di otopsi di rumah sakit."
" Innalilahi wa innailaihi roji'un, kita ke sana sekarang," ucap Lea.
" Kamu sudah selesai makan?"
" Sudah, ayo."
" Iya."
Mereka berdua berganti baju, lalu bergegas pergi menuju rumah sakit.
***
Bersambung ya.....