
Dan seketika itu juga wajah Dean pun pucat pasi. Mungkinkah gadis yang masuk ke kamarnya dalam keadaan mabuk dan mengajaknya mantap-mantap adalah Resya? Jika benar, apa yang harus dia lakukan? Bertanggung jawab? Apa Resya akan mau menerimanya sedangkan karena hal itu Resya dipermalukan seperti ini? Bahkan saat dia memeriksa CCTV, wajah gadis itu pun tidak terlihat karena tertutup rambut panjangnya.
Flashback On
Dean sedang menginap di kamar hotel karena suatu urusan.
Saat malam tiba, dia tidur dengan mematikan lampu namun, lupa mengunci pintu. Hingga terdengar suara langkah kaki memasuki kamarnya. Dean terbangun saat seseorang menghambur ke atas tubuhnya. Gadis itu langsung mencuri ciuman pertamanya secara bertubi-tubi.
Dean segera mendorong tubuh gadis itu, namun gadis itu malah kembali memeluknya dan menciumnya berkali-kali bahkan meraba tubuhnya. Dean yang mulai terbawa suasana mulai menunjukkan perlawanan. Dengan penuh gairah, mereka pun bercinta malam pada malam itu.
Setelah puas bermain, Dean baru menyadari apa yang sudah dia lakukan.
"Astaga apa yang aku lakukan? Aku sudah merenggut kesuciannya. Tapi aku tidak bisa menikahinya sekarang. Aku masih bertugas melindungi tuan Aiden."
Dean mengambil secarik kertas dan menuliskan permintaan maafnya serta meninggalkan kalung peninggalan orang tuanya saat membuangnya untuk gadis itu.
Flashback Off
'Tidak, jangan terburu-buru. Pertama aku akan mencari tau dulu tentang kalung yang aku tinggalkan untuknya. Jika dia memilikinya, artinya dialah wanita yang aku cari selama ini' Batin Dean.
"Dean kenapa diam saja? Kami sedang membicarakan tempat kelahiran mu lho," ucap Haira.
"Oh, saya tidak ingin menyela obrolan anda berdua, nona," sahut Dean.
'Jika saya menyela, maka nona akan menuduh saya mencari perhatian dengan tuan Aiden' Batin Dean.
"Oh iya, apakah nama lengkapnya hanya Dean, sayang?" tanya Haira.
"Tidak. Dean sebutkan nama lengkapmu!" perintah Aiden.
"Nama lengkap saya Micheal Dean, nona," sahut Dean.
"Oh, Micheal. Nama yang bagus," puji Haira.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di kediaman rumah Harsya.
Sedangkan Haira dan yang lainnya berkumpul di ruang keluarga.
"Ayah tenang saja. Aku akan membuat semua berita tentang Resya dihapus. Aku sudah menyuruh si bot...maksudku Feri wakilku mengklaim perusahaan percetakan yang mengulas berita itu," ucap Aiden.
"Terima kasih, nak," ucap Harsya.
"Ayah, kalau bisa masalah ini jangan dibahas lagi. Itu semua adalah masa lalu. Apalagi di kondisi Resya sekarang ini. Pasti sangat berat baginya," ujar Haira.
"Iya sayang, ayah mengerti," ucap Harsya.
"Tapi bagaimana cara kita menghiburnya dan membuatnya keluar dari keterpurukannya?" tanya Laras.
"Hmmm, begini saja, Bu. Dean akan disini menjadi asisten pribadi Resya. Dia akan menemani Resya kemana pun," ujar Haira.
"Apa? Dean?" tanya Aiden.
"Kenapa sayang? Kau keberatan?" Haira tersenyum pada Aiden namun senyuman nya sedikit menakutkan bagi Aiden.
"Tidak. Dean akan menjadi asisten pribadi Resya. Dia akan datang setiap hari kesini dan mengantarkan kemana pun Resya ingin pergi," ucap Aiden.
"Apa Dean tidak keberatan?" tanya Laras.
"Tidak, Bu. Dean ini orangnya sangat sabar. Dia pasti bersedia. Iya kan Dean." Haira melirik Dean dengan tajam.
"Saya bersedia tuan," sahut Dean. 'Daripada dituduh pelakor' Batinnya.
"Ya sudah, kalau begitu mulai besok kau akan kesini setiap hari dan tugasmu hanya menjaga, menghibur, dan menemani Resya," ucap Aiden.
"Baik tuan." Dean mengangguk mengerti.
Setelah mengobrol cukup lama, mereka pun pamit pulang. Perut Haira yang sudah membesar membuat nya tidak betah berlama-lama disana. Dia harus istirahat dengan cukup.
Sementara itu, Dean terus memikirkan yang terjadi hari ini. 'Apakah ini hanya kebetulan atau takdir? Baiklah, dengan begini aku bisa menyelidiki juga apakah Resya adalah gadis pada malam itu' Batin Dean.