
Alfindra baru saja sampai di rumah sekitar pukul sepuluh. Memasukkan area parkir, ia sempat menyapa Bambang dan yang lain di depan. Membuka pintu rumah, pemandangan pertama yang terlihat justru membuat Alfin tersenyum getir. Almira menunggunya di sofa ruang tamu sampai terlelap.
Apakah istrinya itu sangat khawatir padanya malam ini?
Menghela napas kasar, Alfin mendekat dan berjongkok di depan sofa memandangi wajah lelah istrinya dalam tidur yang lelap. Mendaratkan kecupan singkat di kening sebelum tangan kekarnya menyambut tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar anak-anak.
Ya, mereka masih tidur ber-empat. Tak tega meninggalkan si kembar yang masih kecil berdua saja tanpa dampingan meski untuk tidur mereka terbilang sangat tidak rewel.
"Maaf sayang, kamu nungguin aku sampai ketiduran." lirih, Alfindra berucap lirih setelah meletakkan sang istri di atas ranjang lalu menyelimutinya sampai batas dada.
Alfin masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah, tangan dan kaki, juga mengganti pakaian.
Tak ada pergerakan dari Almira bahkan setelah Alfin keluar kamar mandi, dan Alfin tahu pasti istrinya itu pasti capek seharian mengurus kembar.
Beralih mengecek Arsa dan Ayara, rupanya sang putri terbangun dan menatapnya setengah mengantuk.
"Pp-ah," lirih Ayara.
"Iya sayang, kenapa bangun hm?" tanya Alfin mendekat lalu mengulurkan tangannya.
"Ngen pa-pah," gumam Ayara masuk dalam gendongan membuat Alfin tersenyum penuh arti.
"Mau susu?" tawar Alfindra. Ayara sontak tersenyum lebar, "mau, Pa!"
"Oke, sekarang kita ke dapur. Sssttt, tadi Aya janji ya jangan gaduh, kasian mama capek banget!" bisik Alfin membuat Ayara mengangguk-angguk seolah mengerti ucapan papanya. Keluar kamar, mereka ke dapur. Alfin meletakkan Ayara di kursi kecil yang sekiranya aman, lalu membuatkannya susu.
"Ini, sudah jadi. Susu rasa sayang dari papa," ujar Alfin melangkah menghampiri putrinya.
Ayara mengangguk lalu mengedipkan dua matanya mode menggemaskan, "acih papa tayang aku," ujarnya membuat Alfindra senang. Kantuk yang tadi menyerang seketika menguap entah kemana, apalagi melihat Ayara yang matanya justru terbuka lebar karena tak lagi mengantuk setelah minum susu.
"Sama-sama sayang, kamu gak mau bobok lagi?" tanya Alfindra.
Huaaaa...
"Eh, kok malah nangis? Sssttt, gak boleh nangis. Kasian abang Arsa sama mama nanti kebangun, sama papa aja ya? Kita main?" bujuk Alfin.
Ayara mengusap lelehan bening di ujung mata yang belum sempat keluar banyak, dengan cepat ia mengangguk antusias.
"Mau ain cama papa," lirihnya.
Oke, katakanlah Alfin sedang mode hot daddy karena lebih memilih mengasuh Ayara di jam malam dibanding membangunkan istrinya. Toh sama aja, anak adalah tanggung jawab berdua, bukan hanya Almira. Jadi sebisa mungkin Alfin ingin memegang bagiannya juga.
"Mau main apa?" Alfin membawa Ayara ke ruang keluarga, biasa nonton televisi atau bersantai saat lenggang.
"Enih!" tunjuk Ayara pada robot milik Arsa.
"Ini kan punya abang, Ayara main boneka aja ya? Kan cewek..."
Huaaaaa... Huaaaa...
Lagi-lagi tangis Ayara pecah, kali ini lebih kencang hingga membuat suasana ruang tengah itu gaduh.
"Mas," panggilnya lirih. Alfin menoleh, lalu tersenyum, "aman kok, yang. Kita lagi drama," ucapnya sambil meringis.
Almira tahu kalau suaminya berbohong, mendekat dan mengulurkan tangan. Almira langsung disambut kelanjutan tangis Ayara.
"Papa akal," adunya langsung.
"Papa nggak nakal lho, Ayara yang nakal!" goda Alfindra.
"Mas,--" Almira menoleh horor.
"Hehehe bercanda ah, yang!"
***
Hampir satu jam Ayara main, sedang Alfin dan Almira sampai terkantuk-kantuk menunggunya. Namun, yang ditunggu malah semakin asyik dan mau tak mau mereka harus sabar menemani.
"Ay, bobok yuk? Kasian abang di kamar sendirian," bujuk Almira.
"Cendilian ya?" tanya Ayara mengerjap.
"Iya, nanti abang di gigit nyamuk, kasian!" sambungnya lagi.
"Ya udah!" jawab Ayara.
"Udah apa? Ayo bobok yuk, tuh papa capek!" Almira menunjuk Alfin yang sudah mode lima watt.
" Ya udah, papa mama bobok ja, adek ain cendiri," ujar Ayara dengan santainya membuat sepasang suami istri itu tepuk jidat.
Setelah melewati banyak drama, akhirnya Ayara mengantuk dan ambruk di pangkuan sang mama. Almira mengusap lembut punggung gadis kecilnya sementara Alfindra terpaku sesaat. Entah, hatinya tiba-tiba merasa bersalah melihat istrinya kecapekan di rumah. Mengurusnya saja sudah cukup merepotkan apalagi ditambah ngurus si kembar yang super aktif meski kalau pagi sampai sore didampingi pengasuh.
"Gak usah nambah anak lagi ya, yang!" ucap Alfin tiba-tiba setelah memindahkan Ayara ke kamar.
"Kenapa?" tanya Almira heran.
"Gak apa-apa, kasian kamu. Ngurus aku aja udah capek, apalagi si kembar. Kalau nambah dan ternyata kembar lagi...?"
Almira terkekeh pelan, "ya gak apa-apa, selagi kamu gak belok ke wanita yang lebih cantik mau empat atau enam anak pun oke."
"Siapa yang belok? Nggak, aku cuma sayang, cinta kamu forever together kok," tegas Alfindra.
"Janji? Forever together dispenser blender?" tantang Almira menyodorkan kelingkingnya hingga membuat Alfin tergelak.
Istrinya memang agak lain, dan itu hanyalah Almira-nya.
.
.