
Seminggu sejak perjamuan di Bandung, sikap Alfindra semakin dingin. Ia kembali acuh pada Almira dan hanya bicara seperlunya. Bahkan, akhir-akhir ini Alfindra tak lagi tidur seranjang dengan Almira.
Almira pun mendiamkannya, toh percuma mau menjelaskan seperti apapun kalau Alfindra menuduh selingkuh dengan Rayyan semua percuma.
Almira diam bukan berarti dia terima dituduh, Almira kecewa karena Alfindra tak mempercayainya. Padahal pondasi sebuah pernikahan itu selain rasa cinta adalah kepercayaan. Dan Almira tak mendapatkan keduanya dari Alfindra. Tidak rasa percaya, juga tidak rasa cinta.
"Perasaan badanku gendutan deh, ini kan dress yang dibeli Mas Alfin seminggu yang lalu masa press body gini," keluhnya menatap diri di cermin. Memakai dress merah yang katanya hanya boleh dipakai di depan Alfindra, tapi toh Almira tak perduli. Hari ini, ia akan pulang ke rumah papanya.
Alfindra yang sedari tadi lmengawasi Almira lewat tablet milik Madel hanya bisa berdecak dari kantor memperhatikan istrinya.
"Benar-benar nakal, mau kemana dia?" sinisnya kemudian menyerahkan tablet pada Madel dan bergegas pergi.
"Aku ada urusan sebentar!"
Madel mengangguk, beruntung hari ini pekerjaan kantor tak terlalu banyak.
Seminggu ini, Alfindra pulang ke rumah orang tuanya dan baru kembali ke apartemen saat hari sudah larut. Alfindra masuk ke kediaman yang terlihat asri itu, senyum seringai terbit di bibirnya. Kedatangan Alfindra selalu disambut hangat orang-orang rumah yang sudah lama bekerja disana.
"Mama ada, Pak?" tanyanya pada Satpam melihat rumah sepi sekali.
"Ada di dalam Tuan," Jawabnya diangguki Alfindra. Langsung masuk setelah memarkirkan mobilnya.
Langsung masuk tanpa mengabari mamanya, Alfindra mencari Silvia ke semua sudut rumah.
"Iya, iya tante juga gak sabar. Seminggu ini Alfindra pulang walaupun nggak nginep, yah meski rencana tante membuat ja lang itu ditiduri pria gagal. Tapi tante berhasil menyingkirkannya, sepertinya tanpa tante tahu, seseorang tanpa sengaja melancarkan rencana tante!" Silvia tersenyum puas, tangan kanannya memegang ponsel dan menatap lurus ke taman. Ia sedang berbincang dengan Salma di sambungan telepon.
Deg...
Alfindra mematung di belakang Silvia, ia sudah menduga kalau mamanya memiliki rencana di balik perjamuan seminggu yang lalu.
"Sudah puas main-mainnya, Ma?" tanya langsung Alfindra membuat Silvia yang masih menatap lurus taman samping rumah seketika berbalik dengan wajah pias.
"Kamu, sejak kapan kamu datang Fin. Mama hanya,---"
"Hanya apa? Hanya berusaha menjebak Almira?" Alfindra menaik turunkan alisnya lalu menatap Silvia dengan senyum. Senyum yang sangat misterius.
"Duduk dulu, kita bisa bicara baik-baik kan?" tanya Silvia meraih tangan Alfindra akan tetapi dengan segera Alfindra menghindar.
"Aku tidak marah, kenapa mama harus segugup itu. Aku mendapati Almira berada di hotel bersama laki-laki yang aku kenal. Ma, awalnya aku pikir akan terus melawanmu. Tapi sepertinya, aku sadar kalau aku salah. Aku telah menyia-nyiakan wanita sebaik Salma hanya karena dia belum siap menikah denganku," aku Alfindra.
Silvia mendekat dan tersenyum, "Mama lega kamu akhirnya sadar!" Silvia menggandeng lengan Alfindra dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Ia juga meminta pelayan membuatkan kopi untuk putranya, selain itu Silvia juga mengirim pesan pada Salma kalau saat ini Alfindra mulai luluh dan menurut.
***
Salma melempar ponselnya senang, Alfindra sudah mulai luluh dan tugasnya melayani Zion sudah terlaksana. Saat ini, mereka sedang berlibur bersama di Bali. Salma bahkan rela mengambil cuti demi memenuhi permintaan gila Zion. Meski pada akhirnya one night stand itu hanya akal-akalan Zion untuk menjeratnya.
"Bagaimana?" tanya Zion yang masih bertelan jang dada. Ia bangkit dan menghampiri Salma yang sedang berada di luar kamar. Menatap hamparan pantai-pantai dimana bule berjejer memamerkan kemolekan tubuhnya.
"Berhasil bang, ah aku senang sekali." Salma dengan senyum sumringah membalikkan badan menatap Zion. Sesaat memalingkan wajahnya malu karena melihat dada Zion yang mirip roti sobek.
"Oh..." Zion hanya ber-ohh ria.
"Gimana kalau kamu hamil anakku?" Zion menaik turunkan alisnya tanpa dosa. Ia memang pintar, otak gesreknya patut diacungi jempol. Mengimingi akan membantu Salma, tapi dia sendiri menanam benih dalam rahim gadis itu. Salah sendiri terlalu bo doh dan gegabah.
"H-hamil?" Salma tergagap, bagaimana bisa ia tak memikirkan hal itu.
Zion mendekat, semakin dekat lalu tersenyum, awalnya ia menyukai Salma. Namun, dasarnya Zion gila, bertemu dengan Almira membuatnya tertarik dengan wanita itu. Tentu saja wanita yang telah menakhlukan adiknya sudah dipastikan menarik.
"One night stand with me?"
"Gimana kalau kamu hamil anakku?"
Kepala Salma berputar, mendadak dua kalimat itu berputar bak kaset rusak di kepala. Ia diam, bahkan sedari tadi mengabaikan Zion yang terus mengajaknya bicara.
Di sisi lain, Almira melihat jam di pergelangan tangan. Setelah pulang dari rumah Anton, ia bahkan tak melihat Alfindra datang. Menyiapkan makanan seperti biasa, suaminya itu akan tetap makan meski pulang larut. Sementara dirinya, entah kenapa akhir-akhir ini nafsu makan Almira meningkat pesat.
Satu jam, dua jam, tiga jam. Almira bahkan sudah tertidur di sofa demi menunggu kedatangan Alfindra hingga matanya membulat kala mengecek jam di ponsel sudah pukul satu.
Almira mengendurkan egonya, menghubungi Alfindra.
Tak ada sahutan, lantas menghubungi Madel. Tak mungkin jikalau tengah malam begini mengganggu istirahat asisten suaminya.
"Ya, Nona?" meski terkantuk-kantuk Madel tetap mengangkat telepon dari Almira.
"Apa kau tahu kemana mas Alfindra pergi, Madel?" tanya Almira.
"Ah, iya Nona. Tuan hari ini pulang lebih awal, dia bilang akan pulang ke rumah Nyonya Silvia."
Glek...
"Ya, ya makasih Madel. Maaf mengganggumu malam-malam." Almira langsung menutup telepon. Ia terduduk lemas, apakah ia menyesali keputusannya untuk sama-sama bersikap dingin beberapa hari ini? Bukankah Almira berhak membela diri kalau dirinya tak melakukan apapun dengan Rayyan.
Kesal menunggu, Almira memilih kembali ke kamar dengan lesu.
***
Pagi hari, Alfindra yang semalam menginap di rumah kedua orang tuanya langsung berangkat ke kantor tanpa berniat pulang lebih dulu ke apartemen. Ia juga menon-aktifkan ponselnya, menghindari Almira beberapa saat.
Begitu masuk ke dalam kantor, karyawan yang berlalu lalang menyapa. Juga Madel yang menunggu sang boss di lobi lantai bawah.
"Tuan, semalam Nona Almira telepon menanyakan anda."
"Hm..." Alfindra berdehem singkat, lalu masuk ke dalam lift.
"Nona Almira menelpon saya di jam satu malam. Mungkin, semalaman Nona menunggu Tuan pulang sampai tertidur, suaranya terlihat cemas," aku Madel.
"Oh ya? Aku hanya rindu rumah," jawab Alfindra lalu mendelik sinis ke arah Madel.
"Parfum apa yang kau pakai, kenapa menyengat sekali," keluhnya menutup hidung. Madel sampai menciumi jassnya, perasaan parfum yang ia pakai masih sama dengan kemarin-kemarin.
"Apa tuan kurang sehat? Parfum saya sama dengan kemarin-kemarin," aku Madel.
Alfindra tak menjawab, mungkin saking banyak pikiran ia jadi aneh. Bahkan sarapan pagi tadi ia tak begitu berselera karena perutnya mual-mual.
"Mungkin asam lambungku naik, Madel sepertinya aku harus ke rumah sakit. Semalam, aku makan keluar semua. Pagi tadi mual-mual, bahkan hanya masuk susu saja. Tapi entah kenapa aku ingin makan masakan Almira," ujar Alfindra dengan lesu.
"Kalau begitu apakah saya harus menghubungi Nona Almira tuan?" tanya Madel.
Alfindra menggeleng, "nanti saja sepulang dari rumah sakit. Kamu cukup urus rapat hari ini."
Madel mengangguk cepat, ia hanya bisa berharap semoga Tuannya ini lekas menyadari kalau tidak bisa hidup tanpa Almira.