
Tidak ada pilihan lain, Kemala terpaksa menyetujui permintaan suaminya meski ia sendiri sangat ketakutan dan takut gagal melaksanakan apa yang sudah direncanakan Richard. Selain itu, yang akan Kemala lakukan juga demi rasa kemanusiaan agar tak ada manusia yang menjadi korban kekejian keluarga Beralda.
“Jangan takut Cagiya, aku selalu ada disisimu. Mereka menyiapkan jebakan untuk kita begitu kita keluar dari toilet. Kau dan aku akan terpisah sementara tapi itu tidak akan lama karena aku pasti akan langsung menemuimu dan membereskan mereka semua.” Richard terlihat sedih dan menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan ekspresinya di depan istrinya.
Jelas wajah sedih suaminya itu terbaca oleh Kemala dan membuat gadis itu semakin penasaran. Ada apakah gerangan? Kenapa si vampir tampan ini malah terlihat sedih?
“Ada apa Suamiku? Kenapa wajahmu sedih begitu? Jangan sembunyikan apapun dariku. Aku jadi semakin takut sekarang.”
“Kemala …,” Richard tak jadi melanjutkan kata-katanya. Mungkin ia bingung bagaimana menjelaskan tentang apa yang ia lihat dan ketahui melalui kekuatannya.
“Ada apa? Apa aku akan gagal? Apa …” Kemala juga tak sanggup melanjutkan kalimatnya karena sudah berpikiran yang bukan-bukan tentangnya dan Richard.
“Bukan, kesedihanku, tidak ada hubungannya dengan rencana kita membereskan para kelompok kanibalisme itu. Ini soal keluargaku. Ada masalah, kita harus cepat menyelesaikan permasalahan yang ada di sini. Barulah aku akan jelaskan secara detail apa yang terjadi. Sebab itulah aku mohon … bantulah aku Cagiya, aku mengandalkanmu.” Richard mengecup kening istrinya sambil memejamkan mata.
Kemala sendiri mengulurkan tangan dan memeluk pinggang suaminya. “Meski aku tidak paham apa yang sedang terjadi, aku akan melakukan apapun yang kau katakan. Karena aku sayang sama kamu, suami vampir tampanku.”
“Aku juga istri manusia cantikku, Cagiyaku. Aku selalu merasa tenang bila kau memelukku seperti ini.”
Kemala melepas pelukannya dan menatap wajah sendu suaminya. Ia merasa lucu saja saat Richard memanggilnya dengan sebutan ‘istri manusiaku’.
“Tapi aku tidak suka kalau kau bermuram durja begitu seolah baru saja diputus pacar. Aku kan ada di sini bersamamu. Aku jadi ikut sedih kalau kau juga sedih.”
“Tidak akan lagi. Maaf, aku tidak mau kau sedih karena aku. Ayo kita pergi. Kau paham apa yang harus kau lakukan, kan?” Richard mencubit manja kedua pipi manis istrinya.
“Paham,” ujar Kemala dan senyumnya langsung memudar karena membayangkan wajah-wajah para kanibaal yang akan ia lihat setelah ini.
Dalam waktu sekejap. Richard membawa kembali istrinya ke toilet rumah Beralda yang sempat mereka tinggalkan sesaat. Dua pasangan suami istri beda alam itu saling menatap satu sama lain. Richard mengangguk pelan tanda ia sudah siap begitupula dengan Kemala.
Sang vampir tampan membuka pintu toilet dan ia bermaksud untuk keluar lebih dulu. Barulah disusul Kemala dari belakang.
Benar dugaan Richard. Begitu ia keluar sebuah tongkat besi melayang bebas dan mendarat tepat mengenai Kepala Richard sehingga vampir tampan itu pura-pura pingsan tapi ia sempat mengedipkan salah satu matanya untuk Kemala sebagai isyarat bahwa ia baik-baik saja.
Kemala yang langsung terkejut juga diserang dengan dibius sampai pingsan tepat setelah suaminya diseret pergi entah kemana. Inilah yang dimaksud Richard dengan perpisahan sementara. penyerangan terhadap Richard dan Kemala yang begitu tiba-tiba ini sudah diprediksi Richard sebelumnya walau ia tak menjelaskan secara gamblang pada istrinya perpisahan model apa yang bakal menimpa mereka.
Yang jelas kejadian ini begitu cepat dimana keluarga kaniball Beralda, mulai melancarkan aksinya mengeksekusi target yang mereka incar sebagai mangsa mereka berikutnya tanpa mereka tahu bahwa salah satu dari mangsa mereka bukanlah manusia, melainkan vampir yang jauh lebih berbahaya bagi keluarga Beralda.
***
Beberapa jam telah berlalu. Kemala mulai terjaga dan membuka matanya. Begitu sadar ada di mana ia sekarang, gadis itu terkejut. Tapi ia tak bisa bersuara ataupun berteriak karena mulutnya dilakban dan tubuhnya diikat disebuah tempat tidur besi.
Melihat tempatnya yang gelap dan kotor, serta bau anyir darah di mana-mana. Bisa ditebak kalau tempat ini adalah tempat anggota keluarga Beralda mengeksekusi mangsanya dan dijadikan daging cincang. Sungguh sangat mengerikan.
“Kau sudah sadar, bagaimana kalau kita langsung mulai saja eksekusinya,” ujar pria yang Kemala yakini sebagai kepala keluarga alias suami Beralda.
Pisau tajam sudah terhunus di udara dan siap dilayangkan tepat di leher Kemala. Kemala pun tak berontak dan tetap saja menatap tajam mata orang yang akan menghabisinya di detik ini juga. Di luar dugaan, sang algojo malah menurunkan pisaunya dan menatap bingung wajak mangsa yang akan ia cincang.
“Kenapa kau tampak tak takut kepadaku?” tanya pria itu penasaran akan tatapan tajam mata istri Richard. Sadar kalau Kemala tak bisa bersuara, pria tersebut melepas lakban yang menutup bibir gadis itu.
“Karena ini akan menjadi akhir bagimu dan seluruh keluargamu,” jawan Kemala tanpa ragu. Ia percaya suami vampirnya akan datang tepat waktu. Lagipula, ini bukan kali pertama Kemala dihadapkan dengan kematian.
Kalau bisa, ia ingin mati sekarang dan digigit suaminya agar ia bisa menjadi seperti Richard dan keluarganya.
“Hahahaha … kau jangan membuatku tertawa. Memangnya siapa yang akan melenyapkan kami? Suamimu? Dia saja sedang dalam posisi sama sepertimu. Hahaha … kau ini lucu!” pria botak separuh itu kembali melayangkan pisaunya tepat dihadapkan Kemala untuk menimbulkan kesan seram sehingga gadis itu ketakutan.
Alih-alih takut, Kemala malah menatap tajam mata pisau itu. Tak ada ekspresi ketakutan dalam wajahnya karena ia tahu apa yang diucapkan pria keji ini tidak benar. Ia yakin Richard baik-baik saja dan akan segera datang untuknya.
“Apa kau tidak takut mati? Kau tampak siap sekali. Ini kali pertama aku melihat mangsaku tak meminta belas kasihanku untuk dibiarkan hidup.”
“Aku malah ingin kau membunuhku secepatnya. Lebih cepat lebih baik,” ujar Kemala dengan tenang setenang permukaan air.
Padahal sebelumnya ia merasa amat sangat ketakutan melihat wajah keluarga para pemangsa manusia ini. Namun entah kenapa setelah ada di tempat ini, Kemala seolah merasakan penderitaan yang begitu besar dari para korban kekejaman para keluarga kanibalisme.
Hati nurani Kemala tergerak dan ia tak ingin ada korban lain lagi. Untuk pertama kalinya, Kemala benar-benar ingin membunuh manusia yang tidak pantas disebut manusia. Beralda dan keluarnya jauh lebih pantas disebut binatang karena mereka semua tidak punya otak dan hati.
Ucapan Kemala ternyata menimbulkan kemarahan sang algojo. “Kenapa kau tidak takut, ha? Harusnya kau takut padaku, harusnya kau menangis dan memohon ampun padaku, bukannya malah menantangku!” sang algojo melayangkan pisau tajamnya kea arah leher Kemala dan bersamaan dengan itu Richard datang dengan membawa pedang samurai lalu menyabet lengan kanan sang algojo yang memegang pisau hingga terluka parah dan tangannya nyaris terbelah jadi dua.
“Arrrgghhhh!” teriaknya dan langsung pingsan seketika karena darah yang keluar begitu banyak.
Richard memeluk tubuh Kemala setelah melepas semua ikatannya dan dengan satu ayunan pedang, Richard menghabisi tubuh pria itu hingga terbelah jadi dua.
“Kau tak perlu melihat adegan ini. Lupakan semuanya dan anggap kejadian ini tak pernah terjadi dalam hidupmu,” bisik Richard di telinga Kemala yang ia memang tak bisa melihat apa yang terjadi pada pria yang hampir saja membunuhnya.
Hal itu karena sejak tadi Kemala memejamkan mata dan begitu matanya terbuka suaminya sudah berdiri dihadapannya dan menutupi tubuh suami Beralda sehingga ia tak bisa lihat apa-apa. Bahkan Kemala tidak tahu kalau manusia keji itu sudah pindah alam akibat tebasan pedang Richard.
“Apa yang terjadi? Kenapa sepi?” tanya Kemala dalam dekapan Richard.
“Tidak apa-apa, ayo pergi! Kakak-kakakku ada di luar.” Richard sama sekali tak mengizinkan Kemala melihat apa yang ada dibelakangnya. Dalam hitungan detik, keduanya sudah berpindah ke tempat lain di mana ada keluarga Richard diluar.
BERSAMBUNG
***
Ngeri sebentar ya ... Habis ini masuk romantis komedi. Harap bersabar ...