
Setelah kematian nya Tangan Waja, ke empat pendekar kembali ke kademangan cempaka untuk membantu Wiku jara dalam pertarungan melawan anak buah Tangan Waja yang masih banyak tersisa, di dalam istana kademangan.
Kelebatan empat bayangan bergerak dengan cepat menuruni puncak bukit cempaka, dan tidak lama kemudian Wira
jaya, Dewi harum, Darma seta dan Raden Sedayu telah tiba di depan istana, nampak pertarungan sedang berlangsung di alun-alun kademangan, nampak wiku jara lagi di keroyok oleh puluhan prajurit Tangan Waja.
Ke empat pendekar langsung melompat ke tengah-tengah arena pertempuran.
Trang
Trang
Trang...
Suara benturan senjata begitu nyaring terdengar memecahkan kesunyian malam.
Mayat-mayat pun sudah banyak bergelimpangan, gugur dalam medan peperangan melawan ke empat pendekar dan Wiku jara.
Jerit kesakitan dari para prajuritnya Tangan Waja yang terus melakukan perlawanan, tak ubahnya seperti banyak tanaman pisang yang jatuh di tebas berserakan di atas tanah kademangan cempaka, arena pertempuran pun kini sudah berubah warnanya menjadi wara merah darah dari para prajurit tangan waja yang gugur.
Tidak berlangsung lama, para prajurit pun sudah gugur semua, tinggal satu dua yang selamat itupun yang dengan cepat menyerah, karena kemungkinan sebagian prajurit itu masih pingin hidup lama lagi, dan Wiku jara pun dengan sangat bijak memberi ampunan pada prajurit yang menyerahkan dirinya.
Singkat cerita.
Perang pun sudah selesai, mayat-mayat segera di urus oleh para rakyat kademangan Cempaka atas perintah Wiku jara dengan di bantu oleh para prajuritnya Wiku jara.
Kini menjadi catatan sejarah bagi rakyat kademangan Cempaka bahwa di tahun Saka bulan Wesaka(7) telah terjadi peperangan perebutan kembali kademangan Cempaka yang sudah menjadi haknya seluruh rakyat, atas bantuan dari empat pendekar yang sudah termashur di dunia persilatan di tanah sunda.
Ke esokan harinya ke tika matahari belum menyingsingkan sinarnya, Raden Sedayu, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta, telah melakukan kembali perjalanannya ke wilayah utara.
Derap langkah kaki kuda yang di tunggangi oleh ke empat pendekar, terdengar semakin kencang, meninggalkan kademangan Cemapaka, dengan tujuan wilayah utara.
Ketika matahari memancarkan cahayanya, rasa hangat kini telah menyelimuti bumi dan seluruh isinya, termasuk ke empat Pendekar yang lagi melakukan perjalanannya di jalanan setapak sebuah padang rumput yang luas, Wira jaya yang berada di barisan paling depan tiba-tiba mengangkat tangannya ke atas dan menyerukan pada Dewi harum, Raden Sedayu dan Darma seta.
"Berhenti, kita istirahat dulu di sini, kasihan kuda-kuda kita butuh energi untuk perjalanan nanti." Seru Wira jaya.
"Iya benar kakang Wira, dari kemarin kuda-kuda kita belum di kasih makanan, dan di sini tempat yang bagus untuk para kuda mengisi perutnya, dan rumput-rumput di sini sangat hijau sekali." Cetus Raden Sedayu.
Kemudian mereka turun dari punggung kudanya masing-masing, dan membiarkan kuda-kuda untuk memakan rumput yang sangat hijau untuk menambah energi dan setamina kuda-kuda mereka.
Sedangkan ke empat pendekar berteduh di bawah pohon yang sangat besar sekali dengan daun-daunnya yang rindang dan akar-akarnya yang besar nampak menjalar di atas permuka'an tanah yang bisa buat sandaran oleh ke empat pendekar itu.
Kemudian ke empat pendekar itu membuka tutup guci-guci tempat air yang ia bawanya dalam setiap perjalanan untuk membasahi tenggorokannya.
"Waah rasanya segar sekali habis berkuda langsung minum air putih, terasa enak di tenggorokan." Cetus Raden Sedayu.
"Kamu benar sedayu, ketika jantung memompa darah, lalu kita meminum air putih, bisa menambah tubuh kita lebih segar." Pungkas Wira jaya.
Angin semilir meniup di pagi hari, terasa sejuk di iringi dengan kicauan burung-burung bernyanyi merdu dari berbagai macam jenis, menambah suasana pagi menjadi lebih berwarna, Wira jaya, Dewi harum, Darma seta dan Raden Sedayu, Ketawa-ketawa riang sambil netranya memandang pada ke empat kuda yang lagi dengan laparnya me makan rumput-rumput hijau.
"Coba kalau organ tubuh kita sama seperti kuda, pasti kita pun ikut makan rumput bersama ya." Ujar Raden Sedayu.
"Hahaha..Wah waah rayi Sedayu ini ada-ada saja, masa kita mau makan rumput." Cetus Dewi harum.
Wira jaya dan Darma seta pun terkekeh mendengar celotehan Raden Sedayu.
"Hahaha..Kalau manusia makan rumput, pasti tidak akan ada rumput yang hijau, dan kotorannya pun bisa di jadikan pupuk, jadi tidak akan susah payah untuk pelihara kambing." Ujar Wira jaya.
"Kalau kalian pada lapar, tunggu sebentar ya." Pungkas Darma seta memotong pembicara'an.
"Ya mau mencari makanan." Jawab Darma seta.
"Di padang rumput yang luas begini mana ada yang bisa kita makan." Ujar Raden Sedayu.
"Pokoknya kalian tunggu saja di sini." Ujar Darma seta sambil melesat pergi ke suatu tempat.
......................
Tidak lama kemudian Darma seta telah kembali dengan membawa empat ekor ayam hutan.
"Ini yang saya maksud." Ujar Darma seta sambil meperlihat kan empat ayam ke dua tangannya.
"Wualaaah, hebat kamu seta, hanya dalam sekejap kau sudah bisa menangkap empat ekor ayam, kalau begitu musang juga kalah olehmu." Ujar Raden Sedayu.
"Kau belum tau Sedayu, Darma seta kan gurunya para musang." Cetus Wira jaya.
"Aah Paman bisa aja." Ujar Seta.
Selepas itu Raden sedayu dan Wira jaya sibuk bikin api unggun untuk membakar empat ekor ayam tersebut.
Setelah semua kayu yang terbakar sudah menjadi bara, ke empat ekor ayam yang telah di panggang pun di simpan di atas bara sambil di bolak balik sampai benar-benar matang.
Tidak lama kemudian empat ekor panggang ayam nampak terlihat sudah matang, bau harumnya sampai tercium sehingga membangkitkan rasa lapar.
Setelah itu ke empat pendekar langsung menyantap panggang ayam hutan tersebut, guna mengganjal isi perutnya yang keroncongan, dan untuk memulihkan tenaganya, yang banyak terkuras habis sewaktu melawan si Tangan Waja dan para prajuritnya.
Setelah menghabiskan bakar ayam hutan, dan ke empat kuda pun sudah nampak kenyang dengan rumput-rumput hijau yang di makannya, mereka pun beranjak dari tempat duduknya memburu pada kudanya masing-masing.
"Ayo Sedayu, nyai, dan Seta kita lanjutkan lagi perjalanan kita." Ujar Wira jaya.
"Ayo kakang, jangan terlalu lama kita beristirahat, nanti kita bisa mencari tempat penginapan untuk beristirahat.
Kemudian ke empat pendekar itu sudah mulai lagi memacukan kudanya, meluncur ke utara, dengan tujuan negri alang-alang yang berada di utara tanah Sunda.
Berhari-hari mereka melakukan perjalanan menuju negri alang-alang, dengan tujuan utamanya yaitu Raden Sedayu yang hendak menemui adik seperguruannya atas perintah dari kake ajar saketi, untuk menyadarkan adik seperguruannya itu yang telah salah jalan, dan menggunakan ilmu yang di dapat dari kakek Ajar saketi dijalan yang sesat.
Setibanya di negri alang-alang, ke empat pendekar memacu kudanya dengan santai menuju sebuah kedai untuk memenuhi perminta'an di dalam perutnya yang sudah menagih.
Kemudian mereka pun turun dari punggung kudanya masing-masing, dan berjalan memasuki kedai yang menjual makanan.
"Sampu rasun." Sapa Wira jaya.
Pemilik kedai itu pun langsung menyambut dengan ramah. "Rampes, silahkan duduk kisanak." Jawabnya.
"Iya pak terima kasih." Ujar Wira jaya.
"kisanak mau minum atau mau makan." Tawar pemilim kedai.
"Kebetulan kami habis berjalan jauh, Nasi putih empat pak." Pinta Wira jaya.
"Baik, di tunggu ya." Ujarnya sambil melangkah, untuk mempersiapkan pesanan ke empat pendekar.
Selang beberapa menit, pemilik kedai bersama istrinya datang membawa pesanan Wira jaya, Dewi harum, Darma seta dan Raden sedayu.
"Silahkan ki sanak, Lauknya pilih sendiri." Ujar pemilik kedai.
"Iya pak terima kasih."