PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti Eps 41


Malam yang hening sunyi sepi mencekam, suara-suara binatang malam kini ramai terdengar dari berbagai jenis binatang, dari yang kecil hingga ke yang sedang.


Suara-suara jangkrik, bersautan satu sama lain, dan burung-burung malam, seperti burung hantu dan suara-suara kelelawar yang ramai lagi menyambung hidupnya dengan memakan buah-buahan.


Sementara suasana didalam gua tidak ada bedanya siang maupun malam, cuma yang dirasakan udara dingin masuk melalui mulut gua yang terus menerpa, hingga pada akhirnya para penghuni gua hutan carik itu pun sudah terlelap dalam tidurnya.


Ke esokan hari nya, suasana didalam gua masih tetap sama.


Ketiga pendekar elang nampak sudah terbangun dari tidurnya.


Wira jaya, dewi harum dan darma seta, bejalan menelusuri lorong goa, untuk mencari udara segar, begitu tiba didepan mulut goa, kedua poho yang berdiri menjulang itu pun tiba-tiba turun dengan sendirinya setelah wira jaya berkata.


''Wahai sang penjaga pintu goa, kami ingin menghirup udara segar, bukalah pintunya.'' Ucap wira jaya.


Setelah pintu goa terbuka, ketiga pendekar elang langsung melompat keatas dahan kayu.


daan setelah itu wira jaya, dewi harum dan darma seta melompat kebawah, sungguh ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna.


Terus mereka berjalan diantara rimbunan pohon dan semak-semak belukar.


''Kita mau kemana kakang?.'' Tanya dewi harum.


''Kita mau mencari untuk sarapan nyai.'' Jawab wira jaya.


''Bukan kah paman surata sudah menyediakan makanan untuk para pejuangnya, nanti paman surata mencari kita.'' Pungkas darma seta.


''Iya seta, kita cari ayam hutan, ku rasanya pingin panggang ayan hutan yang gurih, sudah lama rasanya gak pernah makan panggang ayam hutan.'' Ucap wira jaya.


''Saya tau paman, tempat ayam hutan biasa bertengker.'' Ucap darma seta.


''Laah kamu tau dari mana, ibu dan kakang wira jaya pun baru kali ini menginjakan kaki dihutan carik ini.'' Pungkas dewi harum.


''Ibu dan paman jangan salah paham, maksudku seta tau cara menemukan ayam hutan itu.'' Jawab darma seta.


''Terus bagaimana caranya seta?.'' Tanya wira jaya.


Daram seta terus menelusuri rumput rumput dan semak semak belukar, ketika seta mendekati sebuah semak yang tak ditumbuhi rumput dan seta telah yakin bahwa disekitar itu banyak sekali ayam hutan.


''Ini jejaknya, dan disini tempatnya para ayam-ayam hutan itu berkumpul.'' Ujar darma seta.


''Iya benar sekali, karena banyak sekali kotoran dan bulu-bulunya yang jatuh, kira-kira sebelah mana?.'' Tanya wira jaya.


Terus darma seta berjalan kearah timur, pas tiba di dekat pohon beringin seta memberi isarat pada dewi harum dan wira jaya.


''Huuusss jangan berisik, tuh banyak sekali ayam hutan bertengker.'' Ucap darma seta sambil mencari tiga potong ranting kayu yang kering.


Lalu tiga potong ranting kering itu, dipegangnya oleh tangan kanan darma seta.


Setelah itu darma seta melepaskannya dengan menyalurkan tenaga dalamnya.


Wukwuk wuk.


Tak tak tak tak.


Ketiga potongan ranting itu menghantam tiga ekor ayam hutan jantan yang lagi bertengker diatas dahan.


Keok keok keok.


Suara ayam hutan yang terkena lemparan dari ranting tersebut, langsung jatuh, wira jaya pun spontan langsung memburu pada ketiga ayam hutan yang jatuh tersebut.


Setelah ketiga ayam hutan itu didapatnya, wira jaya lalu mengajak pada istrinya dan darma seta ponakannya yang sekaligus anak sambungnya, untik segera pergi dari tempat itu.


Setibanya ditempat yang tidak jauh dari gua hutan carik darma seta menyuruh ibunya dan wira jaya berhenti.


''Kita berhenti disini buk, paman.'' Ujar darma seta.


''Kenapa kita harus berhenti disini seta, kan kegoa hutan carik tinggal beberapa tumbak lagi dari sini.'' Wira jaya berkata.


''Sebentar paman saya mencium bau yqng tak sedap disini, dan ku merasakan ada aura kesaktian yang luar biasa.'' Ucap darma seta yang daya penciumnya lebih peka dari pada wira jaya dan dewi harum ibunya


Baru saja darma seta bilang begitu pada wira jaya dan ibunya dewi harum, terdengar suara yang menggema dengan tingkat tenaga dalam yang sudah sempurna.


''Jangan kaget pendekar elang, ku hadir disini cuma ingin memberi tau nanti malam purnama penuh, siapkan semua pasukan surata, saya akan menunggu dibukit ranca galuh, salam dari pendekar kelelawar.



Ini pendekar kelelawar yang menyelinap dibalik pohon besar, memberi kabar pada pendekar elang dan semua pasukan surata manggala, bahwa malam nanti purnama mulai penuh.



Ini pendekar elang kuning, alias wira jaya, suami dari dewi harum sipendekar elang merah.


Darma seta, wira jaya dan dewi harum seketika itu menyambut kedatangannya pendekar kelelawar.


''Terima kasih pendekar kelelawar dengan kabar yang kau berikan pada kami, alangkah baiknya anda keluar dari balik pohon itu, mari bersama kami bersantap dulu.'' Ujar wira jaya.


''Terima kasih atas kebaikan kalian, selamat berjumpa dibukit ranca gakuh nanti malam.'' Saut pendekar kelelawar.


Dan seketika itu pendekar kelelawar pun sudah tidak lagi tercium oleh ketiga pendekar elang.


Wira jaya pun melanjutkan memanggang ketiga ayam hutan itu.


Setelah semua bulu-bulu yang menempel pada seluh tubuh ayam itu habis, wira jaya pun lalu memanggang ke tiga ayam itu dengan bambu yang sudah dibelah.


Kini aroma bau mewangi dari daging ayam yang dipanggang sudah tercium, sehingga rasa lapar pun sudah mulai terangsang.


''Sudah matang kali kakang, ku jadi lapar nih mencium aromanya.'' Ujar dewi harum.


''Iya nyai sebentar lagi juga matang.'' Ucap wira jaya.


Tidak lama kemudian ketiga ekor ayam panggang pun sudah matang, wira jaya terus mengangkatnya.


Setelah itu, ketiga pendekar elang langsung menyantapnya.


Kini waktu pun tidak terasa, se iring dengan putaran roda kehidupan, wira jaya, dewi harum dan darma seta lagi berbincang-bincang dengan surata manggala didalam goa hutan carik, menyusun siasat dan strategi untuk penyerangan malam nanti.


Ada dua puluh warga ranca galuh yang ingin berjuang untuk merebut kembali tempat tinggalnya yang telah diambil oleh penguasa jagal pati.


Kini ketiga pendekar elang lagi memberikan arahan dan siasat pada para laskarnya.


''Didalam sebuah peperangan kita tidak cukup mengandalkan sebuah keberanian saja, untuk memenang sebuah perang kita harus punya siasat yang matang, apa lagi jumlah kita jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan para pasukannya jagal pati, tapi janganlah berkecil hati dan jangan sampai mengendorkan semangat juang kalian, mari kita rebut hak milik kita sampai tetes darah penghabisan, apa kalian sudah siap.'' Teriak wira jaya memberi semangat.


''Kami sudah siap tuan pendekar, walau harus diganti dengan nyawa kami.'' Teriak salah seorang dari pasukan laskar elang.


Karena wira jaya lah yang memberi nama pasukan surata manggala, dengan nama laskar elang.


Kini setrategi perang diserahkan pada darma seta, yang banyak bakat dalam taktik perang, selain itu darma seta mempunyai ketajaman mata batin yang sangat luar biasa sekali.


Kini hari telah senja, wira jaya, dewi harum, darma seta bersama surata manggala, memberikan pertanda bahwa perang sebentar lagi akan dimulai.


Para laskar elang pun sudah bersia-siap untuk persiapan perjuangan dimalam purnama.


Pedang, tongkat dan jenis senjata lainnya telah dipersiapkan, bahkan satu umbul-umbul bendera yang bergambar elang dan rembulan merah telah dipersiapkannya.


Kini senja telah berlalau, dan hari pun sudah mulai gelap, hanya satu cahaya yang menyinari di atas langit, sinarnya yang putih telah menerangi malam itu di seluruh wilayah bumi nusantara.


Surata manggala dan ke tiga pendekar elang beserta para laskar elang yang haus akan darahnya jagal pati, kini telah berjalan keluar dari goa hutan carik.


Bendera berlambangkan se ekor burung raja wali lagi bertengker diatas bulan yang penuh dengan darah, itu sudah menjadi pertanda bahwa para laskar elang akan berjuang sampai tetes darah penghabisan.


Langkah mereka sangat pasti, berbagai senjata telah mereka persiapkan, demi merebut kembali tanah kelahiran mereka.


Kini mereka telah keluar dari dalam goa, kelebatan-kelebatan bayangan yang terpancar oleh cahaya sinar bulan purnama, melesat satu persatu dari atas dahan kayu penutup goa hutan carik itu.


Setelah itu mereka pun telah k.eluar dari hutan carik, terus mereka berjalan menuju ranca galuh.


Begitu mereka sampai dikaki bukit ranca galuh, darma seta memberi kabar pada pendekar kelelawar dengan suara lengkingan burung elang yang siap untuk menjemput malakal maut jagal pati beserta para antek-anteknya.


Suara lengkingan burung elang telah diterimanya oleh pendekar kelelawar.


Dan pendekar kelelawar pun siap mengibaskan sayapnya untuk menghabisi sang penguasa yang durjana dan banyak memeras para penduduk ranca galuh.


Tidak lama kemudian para laskar elang telah tiba diatas bukit ranca galuh, dan pendekar kelelawar yang di ikuti oleh sekutunya para kelelawar, telah siap untuk meluncur.


Dan wira jaya pun telah meniup sejata ampel kuningnya, untuk memanggil para laskar elang yang sesungguhnya.


Lengkingan suara yang keluar dari senjata ampel kuningnya wira jaya, telah menggetarkan keraja'an elang yang dipimpin oleh elang abu-abu.


Gemuruh suara di angkasa begitu mengerikan suara-suara elang yang berbunyi begitu menggetarkan jantung orang yang tidak memiliki kesaktian tinggi.


Setelah itu darma seta pun mengatur stra tegi, unyuk penyerangan.


''Saya dan sahabat prndekar kelelawar akan masuk melalui pintu barat, ibu dan paman masuk fipintu timur sedangkan pama surata beserta para laskar elang mematangkan sayap kekuatan jagal pati dipintu utara, sedangkan dipintu selatan akan dikacaukan oleh pasukan elang dan pasukan kelelawar, bagaimana kalian sudah siap?.'' Tanya wira jaya.


''Kami sudah siap tuan pendekar.'' Jawabnya serempak.


''Baiklah, tapi ingat menurut paman telik sandi, ranjau banyak di pasang dipintu selatan dan utara, kalian jangan gegabah, jangan dulu menyerang sebelum menerima perintah.'' Ucap darma seta.


Sementara ditempatnya jagal pati, tepatnya dipintu utara lagi dihebohkan karena ada kekacauan, ada serangan, entah dari mana datangnya puluhan burung elang dan para kelelawar masuk menerobos pintu utara, banyak para prajuritnya jagal pati yang terluka oleh cakaran dan patukan dari burung elang dan para kelelawar.


Salah satu dari para sekutu jagal pati, berlari dan menghandap pada sang penguasa jagal pati.


''Ma'ap Tuan ada berita buruk.'' Ucapnya.


''Berita buruk apa, prajurit?.'' Tanya jagal pati bernada tegang.


''Dipintu utara semua prajurit banyak yang terluka, oleh pasukan elang dari kelelawar.'' Ujarnya.


''Apa? ada pasukan elang dan kelelawar masuk ke pertahanan kita, dari mana datangnya para burung brengsek itu.'' Bentak jagal pati.


''Kurang tau dari mana datangnya tuan, burung itu seperti siluman, datangnya tanpa sepengetahuan kita.'' Ucap prajurit.


''Sekarang panggil kibarong besi, di ruangan bawah tanah.'' Ujar jagal pati mulai panik.


Kini prajurit yang di utus oleh jagal pati, pergi keruang bawah tanah, untuk mengeluarkan ki barong besi beserta para muridnya yang sengaja di beri tempat diruang bawah tanah oleh jagal pati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bersambung.


Di episode selanjutnya.


Jangan lupa sertakan pula like, comentar, favorit, ranting, vote serta hadiahnya.


Salam sehat dan sukses selalu.