
Tomi kembali melangkah memasuki ruang rawat Rania. Dan Rania tampaknya kembali tertidur. Tomi duduk dan memandangnya ,
"Maafkan aku..." ucap Tomi lirih dan penuh penyesalan.
Mata Rania masih tertutup rapat, belum mau terbuka. Tampak wajahnya pucat. Tomi kembali menggenggam tangannya dan menciumnya pelan. Sambil berulang kali mengucapkan kata maaf. Hingga akhirnya Tomi tertidur.
Rani terbangun menjelang pagi hari. Dia merasa tangannya kebas karena tertimpa benda yang berat. Diliriknya ke samping, ternyata Tomi tertidur dengan memegang tangannya. Kepala Tomi menimpa tangan Rania.
Rania sedikit merasa bersalah, karena telah membohongi Tomi. Tapi dia melakukan itu untuk melihat seberapa besar cinta Tomi kepadanya. Apakah Tomi tulus mencintainya atau tidak.
Maafkan aku, sayang....! Aku harus menguji cinta mu padaku, bukan aku tak percaya padamu tapi aku sudah terlanjur sakit mendengar semua ucapan mu. Aku ingin melihat kesungguhan mu. Maafkan aku, bathin Rania pelan.
Tomi membuka matanya. Perlahan dia mengangkat wajahnya dan memandang Rania. Rania langsung memejamkan matanya dan pura pura tertidur. Setelah menguasai dirinya sepenuhnya Tomi kembali memandang Rania,
"Sayang...bangunlah.. Maafkan aku" ucapnya lirih.
Perlahan Rania membuka matanya dan mengerjap pelan. Dia melihat kesamping dan matanya bersirobok dengan mata Tomi. Mata mereka saling mengunci, saling tatap beberapa saat, hingga akhirnya Rania yang mengakhiri nya.
"Sayang...kau sudah bangun?" Alhamdulillah...." ucap Tomi.
"Sayang.....kau panggil aku sayang? jangan coba menipu aku. Aku tidak mengenalmu. Jangan coba coba mengambil kesempatan." ucap Rania
" Aku adalah suami mu." jawab Tomi.
"Suami, Apa buktinya jika kita sudah menikah?" tanya Rania.
*Hahaha bagaimana kau membuktikan nya, enak saja kau ngaku ngaku aku istrimu. Tunggu saja permainan baru di mulai. aku akan membuatmu pusing tujuh keliling...hahaha... bathin Rania.
"Jangan seenaknya kau membawaku, aku tidak mengenalmu. Bisa saja kau menculikku." ucap Rania lagi.
"Lihat lah ini", Tomi menunjukkan beberapa photonya bersama dengan Rania.
"Bukan kah ini dirimu?"
"Aku tidak bisa percaya, bisa saja photo itu hasil editan. Jangan coba coba menipu aku!" ucapnya lagi.
"Begini saja, terserah kau mau bicara apa. Besok pagi kita akan kembali ke Jakarta dan aku menunjukkan padamu kebenaran nya. Kita akan emenmui papa dan mama mu." jawab Tomi yang sudah lelah mendebat Rania.
"Aku tidak mau, bisa saja kau menculik aku. Aku tidak mengenalmu" ucap Rania menolak secara tegas.
Tomi mengepalkan tangannya penuh emosi. Susah payah dia menahan emosinya. Karena dia tidak bisa marah, saat ini Rania sedang amnesia dan tidak mengenalnya. Dia kemudian berjalan meninggalkan Rania. Berusaha mendinginkan hatinya dan amarahnya.
Setelah Tomi pergi Rania tersenyum senang. Aku akan terus mengerjai mu, rasakan hahaha, kau tidak bisa marah kan!" bathin Rania
Tomi menelpon Diki untuk menyiapkan mobil dan segala kebutuhan mereka. Dia akan membawa Rania ke Jakarta begitu mendapat ijin dari dokter. Tidak perlu menunggu hingga esok hari.
Tomi berencana membawa Rania ke apartemennya, dan akan menunggu Rania hingga kesadaran kembali dan bersedia menikah dengannya. Walau harus terus berpura pura menjadi suami Rania.
Tomi tidak mau jika sampai Papanya atau papa Rania menemukannya lebih dulu dan memisahkan mereka berdua. Tomi akan mengikat Rania, hingga dia tidak bisa lepas lagi darinya.
"Semua sudah beres bos" ucap Diki melalui sambungan telepon nya.
"Ok, terima kasih." jawab Tomi dan memutuskan sambungan telepon nya.