
Rania keluar dari rumah kostnya. Memandangnya sebentar sebelum menutup pintu dan menguncinya.
Bayangan satu bulan yang lalu saat dia pertama kali tinggal disini muncul. Hari hari sulit yang dia jalani, karena sudah terbiasa hidup nyaman dan di layani. Sementara disini semua harus dia lakukan sendiri. Pertama kali dalam hidupnya masak mi instan sendiri, mencuci baju, menyetrika dan membersihkan rumahnya, serta banyak lagi pengalaman hidup yang dia lakukan dan tak bisa dia dapatkan di bangku sekolah atau di rumah mewahnya.
Kini pengalaman hidupnya ini menjadi sebuah pelajaran berharga untuknya, untuk lebih menghargai kerja keras dan jerih payah orang lain. Lebih peduli dan yang pasti membuatnya menjadi lebih dewasa dalam bersikap. Hidup tanpa uang dan tanpa keluarga benar benar sangat menyedihkan, bahkan dia sampai mencopet hanya untuk bertahan hidup. Miris, tapi inilah hidup, yang harus di jalani sebagai konsekuensi dari apa yang dia pilih.
Rania berjalan perlahan mengunci pintu, memakai ranselnya di punggung dan berjalan menuju rumah induk semangnya yang hanya berbatas halaman saja.
Rania mengembalikan kunci rumahnya dan pamit kepada ibu kost nya.
Sang ibu kost kaget, karena Rania tidak mengatakan apapun sebelumnya. Dan ketika di tanya, Rania mengatakan jika dia ingin kembali ke rumah orangtuanya.
Rania berjalan kedepan rumah dan memanggil taksi, awalnya dia ingin langsung pulang kerumahnya, namun di tengah jalan dia berbalik arah ke kantor Tomi.
Sebaiknya aku berpamitan dengan Tomi dulu, aku takut dia khawatir. bathin Rania.
Taksi yang dia tumpangi Samapi di depan kantor. Rania berjalan masuk dan menitipkan tasnya pada receptionis. Berjalan santai menuju lift dan menekan tombol teratas, Diman ruangan Tomi berada.
Sedikit bersenandung mengurangi rasa bosan karena menunggu lift terbuka. Begitu lift terbuka Rania langsung berjalan menuju ruangan kekasihnya Tomi.
Diliriknya meja kosong di depan ruangan yang biasa dia tempati, dan juga meja sebelah biasanya Juan duduk dan mengerjakan tugasnya.
Kemana Juan? Apa mereka sedang ada rapat dengan klien. Kalau begitu sebaiknya aku menunggu Tomi di dalam ruangannya saja.
Rania ingin membuka pintu yang sedikit terbuka namun ucapan seseorang dari dalam sana menghentikan tangannya yang sudah hampir memegang handle pintu ruangan Tomi.
"Apa kau serius dengan Rania?" tanya seseorang yang Rania yakini adalah Juan.
"Apa maksudmu?" tanya Tomi berpura pura.
"Kau sangat paham maksud ku?" ucapnya.
Rania membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Jadi selama ini, dia Tidak sungguh sungguh mencintai ku, dia hanya berpura pura. Dia mendekati ku hanya ingin balas dendam karena aku telah menolaknya dan menamparnya. bodohnya aku termakan sikap manis dan bujuk rayunya..Jahat...Tomi Jahaaat...
Rania berlari turun ke bawah tanpa mendengarkan apa yang Tomi bicarakan selanjutnya.
mengambil tasnya dan terus berlari keluar memanggil taksi dan naik kedalam. Didalam taksi Rania menangis. hatinya sangat sakit mendengar semua ucapan Tomi. Rania sungguh tidak menyangka jika sikap manis yang di tunjukkan Tomi selama ini hanyalah kepalsuan dan kebohongan. hanya untuk membalas kan dendam nya saja.
Sementara itu percakapan Tomi dan Juan masih berlanjut.
"Apa kau yakin, apa kau tak mencintainya sedikit pun?" tanya Juan.
"Aku sendiri belum begitu yakin, sepertinya aku terjebak dengan permainan ku sendiri. Semakin aku mendekatinya ada rasa berbeda di doam.dirikunyang aku sendiri Tidka tahu apa itu. Aku merasa Rania berbeda dari gadis lain yang selama.ini selalu mengejar ku. Aku merasakan berdebar saat dekat dengannya, merasakan kehilangan dan rindu jika jauh darinya dan aku juga merasa nyaman saat bersama dengan nya. Apakah itu yang namanya cinta?" tanya Tomi kepada Juan.
Apa yang harus aku jawab. Aku saja belum pernah pacaran. Apalagi ini, dia memnita pendapatku. Bagaimana jika aku salah memberikan pendapat, hemmm bagaimana ini.! Juan tampak berpikir.
"Aku rasa kau benar benar telah jatuh cinta padanya." Ucap Juan pada akhirnya.
"Aku dapat melihat matamu berbinar saat memandangnya, Aku yakin kau juga mencintainya. Lalu apalagi, bukankah waktu mu sudah habis. Kau harus membawa kekasih mu atau kau terpaksa menikah dengan gadis pilihan orangtua mu." ucap Juan mengingatkan perjanjian Tomi dengan papa nya.
"Kau tenang saja, untuk masalah itu aku sudah memikirkannya. Dan pasti Papa akan merestui hubungan ku dengan Rania." jawab Tomi mantap.
"Kau bisa se yakin itu!, itu bagus, aku mendoakan semoga dirimu dan Rania bahagia." ucap Juan tulus.
"Lalu kapan kau akan membawa Rania menemui orangtua mu?" tanya Juan.
"Mungkin malam ini." ucap Tomi mantap.
"Baiklah aku kembali ke meja ku sekarang" ucap Juan mengakhiri pembicaraan merka berdua.