Pembalasan Wanita Mematikan

Pembalasan Wanita Mematikan
Sebuah Permainan


Alice meminta Neo untuk mengantarnya pulang, karena dia tidak mungkin terlalu lama tinggal di rumah Neo. Sedangkan dirinya masih memiliki rumah walau Jackson tidak pernah menganggapnya sebagai rumah.


Keduanya saling menatap saat Neo sudah sampai di depan rumah Alice, "Kalau gitu kamu masuklah ke dalam, aku akan tunggu kamu di kantor. Jangan lupa hari ini kamu masih ada janji denganku setelah urusan kantor selesai."


"Ya aku tahu. Masalah itu kamu tidak perlu khawatir aku akan selalu ingat janjiku, kalau gitu aku masuk ke dalam ya. Kamu hati-hati di jalan." ucap Alice kepada Neo.


Pria itu tersenyum dengan mencium kening Alice sebelum kekasihnya turun dari mobil, wanita itu melambaikan tangan saat mobil Neo sudah sedikit menghilang. Alice bergegas masuk ke dalam untuk siap-siap ke kantor, setelah selesai barulah dia melihat Jackson yang baru tiba di rumah.


Melihat wajahnya saja dia malas apalagi mengajak pria itu bicara, "Kamu mau langsung ke kantor?" tanya lelaki itu yang kini sibuk menghampirinya.


Alice diam tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jackson, dia malah sibuk dengan sarapan yang kini disiapkan oleh bibi. Jackson menarik kursi di depan Alice dengan memandangi wajah Alice.


Entah kenapa pria itu seperti merasakan cemburu melihat penampilan Alice, dulu istrinya tidak pernah dandan walau wanita ini tahu kalau dirinya seorang wanita pekerja. Tetapi sekarang penampilannya terlihat berbeda, apa mungkin dia tidak menyukai penampilan Alice yang sekarang atau memang dia cemburu kalau ada mata lelaki memandangi kecantikan Alice.


"Aku tahu kamu seorang wanita karier, tapi apa kamu bisa berpenampilan biasa saja. Jujur aku tidak suka kamu yang seperti ini, aku suka kamu yang dulu Lice." kata Jackson yang terus memandangi penampilan Alice yang mulai berubah.


Alice menyelesaikan terlebih dahulu sarapannya barulah dia bisa fokus dengan Jackson, "Why? Apa aku harus minta Izin terlebih dahulu untuk masalah penampilan. Bukannya kamu tidak pernah berkomentar tentang kehidupanku, kenapa sekarang kamu mulai mengatur hidupku."


"Bukan itu maksudku Lice. Aku tidak suka aja melihat kamu yang sekarang, aku lebih suka kamu yang dulu." urai Jackson yang kini mulai tidak suka dengan nada bicara Alice.


"Aku yang dulu? Aku yang dulu sudah mati, sekarang ya sekarang bukan yang dulu. Apa menurut kamu aku bisa dibodohi oleh pria seperti kamu, sampai kamu memilih wanita lain dari pada istri kamu yang kamu anggap sebagai pembantu." lontar Alice yang kini mulai membela dirinya sendiri dan berhasil melawan Jackson.


"Sudahlah Jackson kamu jangan banyak bicara lagi, aku muak dengan semua ocehan kamu itu. Lebih baik kamu urus diri kamu saja jangan mengurusi urusan orang lain." setelah urusannya dengan Jackson selesai barulah Alice pergi.


Pria itu mulai kesal dengan sikap Alice, ini pertama kalinya dia melihat sikap Alice yang sebenarnya. Dulu wanita itu tidak berani melawannya, tapi sekarang mulai membela diri. Entahlah dia merasa takut kalau Alice akan melawannya dan membuat kehidupannya hancur.


Neo tersenyum saat melihat kedatangan Alice, wanita itu yang baru saja tiba di kantor dan meletakan barang di atas meja. Dia sudah diberikan pesan oleh Neo, ia menatap kearah Neo yang tersenyum kearahnya dengan jari telunjuk Neo memberi kode kalau dia harus datang keruangan Neo.


Mau tidak mau Alice menemui Neo, ia membuka pintu itu dan menutup pintu itu kembali. Saat pintu itu tertutup Neo sudah berada di belakangnya sambil memeluknya dari belakang.


"Aku kangen banget sama kamu sayang." ucap lelaki itu dengan meletakan dagunya di pundak Alice, pria itu terus memeluk Alice dengan menciumi pundak Alice yang begitu wangi.


"Kamu ini ya baru saja sehari ditinggal udah kangen aja."


***


"Aku tidak bisa jauh dari kamu, sehari berasa satu tahun untukku. Apa kamu mengerti dengan ucapanku?" Alice tersenyum melihat bagaimana manja seorang Neo, atasannya sekaligus kekasihnya ini sangatlah mengemaskan.


Apalagi melihat ketampanan Neo membuatnya tidak bisa membayangkan kalau dirinya adalah Alice bukan Aurora, "Kamu ini lebay banget ya. Aku baru tahu seorang CEO bisa bucin kaya gini."


Neo menarik pinggang Alice dengan cepat membuat jarak mereka tiba-tiba terlihat dekat, "Aku bisa seperti ini karena kamu Lice, mungkin kalau sama wanita lain aku tidak mungkin kaya gini."


"Ya aku percaya sama CEO gombal ini." Neo mulai mendekati wajahnya dengan wajah Alice, begitupun dengan Alice saat Neo hampir mau mencium bibir Alice tiba-tiba saja dia mendengar suara ketukan dari luar.


Membuat Alice dan juga Neo melepaskan kegiatannya, dengan perasaan kesal Neo menghampiri suara itu dan di sana ia melihat asisten pribadinya datang.


"Maaf pak saya ganggu, saya mau memberikan berkas ini ke bapak untuk kerja sama dengan perusahaan jepang." ucap lelaki itu dengan menyodorkan berkas yang berada ditangannya.


Neo mengambil berkas itu lalu kembali menatap asistennya, "Ada lagi yang kamu sampaikan."


"Tidak ada pak." balas lelaki itu, tanpa basa basi lagi Neo menutup pintu itu membuat pria itu mengelus dada.


"Siapa?" tanya Alice yang melihat Neo sudah masuk ke dalam, dia melihat lelaki itu meletakan berkas itu dan menghampiri Alice.


"Biasalah siapa lagi kalau bukan si pengganggu." jawab Neo kesal, lalu pria itu tidur di pangkuan Alice dengan menatap wajah Alice.


Melihat posisinya yang sekarang Neo menarik kepala Alice, dia berhasil mencium bibir Alice dengan lembut selembut sutra. Kelembutan itu berhasil menjadi panas, ciuman panas yang kini mereka lakukan semakin ganas saat Neo seperti kesetanan mencium bibir Alice.


Untung Alice bisa mengimbangi permainan yang diberikan Neo, kalau tidak mungkin dia sudah kehabisan nafas gara-gara ulah Neo. Ciuman itu terlepas membuat keduanya sama-sama mengambil nafas, barulah Neo menatap wajah Alice dengan lembut.


Saat Neo ingin menyerang Alice kembali Alice dengan cepat menggeleng, "Sudah cukup sayang ini sudah waktunya jam kerja. Apa kamu lupa kalau kamu ini seorang CEO, kalau nanti ada karyawan kamu melihat kegiatan kita barusan yang ada kamu akan dicap jelek oleh karyawan kamu sendiri."


"Kalau gitu aku akan langsung memecatnya saja buat apa mempertahankan dia di sini." jawab Neo dengan enteng, walau begitu Neo sama sekali tidak memikirkan reputasinya.


"Baiklah." Alice tersenyum mendengar jawaban Neo, dia senang pria ini mau mengikuti semua ucapannya.


Walau begitu dia harus berhati-hati dengan hubungannya, dia tidak mau kalau sampai ada orang yang tahu tentang hubungannya dengan Neo. Nanti rencananya untuk menghancurkan Jackson dan juga Amara menjadi berantakan.