
Semilir angin pantai sore ini benar-benar memberi ketenangan untuk Dirgantara. Membuatnya untuk sesaat bisa melupakan segala problematika.
Pria yang hari-harinya selalu di sibukkan dengan pekerjaan dan pekerjaan kini nampak bersandar santai di salah satu gazebo di tepi pantai. Bukan karena sedang tidak ada pekerjaan, melainkan karena ingin sejenak mengistirahatkan diri dari segala yang melelahkan. Tentu saja tak hanya perihal pekerjaan, melainkan lebih karena beban asmaranya yang terasa kian menyiksa.
Sama seperti ibunya yang tak tahu lagi harus bagaiamana caranya memisahkan Ia dan Senja, Dirga sendiri pun tak tahu lagi harus bagaiamana caranya meyakinkan ibu supaya ia merestui hubungannya dengan Senja.
Setiap mengingat kebencian ibunya terhadap Senja, pria bak titisan dewa itu langsung menghela nafasnya.
Selama ini, selama petualangan nya berpindah dari satu hati ke hati yang lain, kedua orang tua Dirga tak pernah sedikitpun menyampaikan keberatannya akan hubungan Dirga dengan wanita manapun. Namun disaat Dirga sudah memantapkan hatinya pada satu gadis dan tak ingin lagi berpaling, Ibunda tercintanya justru setengah mati menentang bahkan sebisa mungkin berusaha memisahkan.
Dirga berusaha memaklumi sang ibu dan terus berusaha mendapat restu darinya, namun alih-alih merestui, ibunya justru semakin menunjukan antipati nya terhadap Senja.
Huft.. Hela nafas Dirga kembali terdengar. Ia ingin melepaskan semua hal yang akhir-akhir ini kian menyesakkan. Semilir angin dan hamparan lautan lepas pun turut membantunya memberi sedikit kelonggaran di dadanya yang seolah sedang terhimpit bongkahan batu besar.
Awalnya pria berdada bidang itu ingin menemui jantung hatinya di tempat ini. Namun karena yang di cari ternyata belum sampai, pria itu akhirnya memutuskan untuk bersantai sejenak sembari menunggu Senja.
Lebih dari dua puluh menit Dirga memanjakan mata, hati dan juga tubuhnya sebelum akhirnya gadis pemilik iris merah menghampiri.
"Sudah dari tadi? " Suara renyah itu menyapa sambil meletakkan papan seluncur nya.
"Lumayan, " Dirga yang sedang duduk bersandar buru-buru merubah posisi duduknya.
"Apa aku mengganggumu, kau terlihat sedang santai sekali tadi? "
"Tidak, mana mungkin mengganggu. Aku bahkan sangat ingin bertemu denganmu. "
"Benarkah, apa kau punya sesuatu untukku? "
Dirga tersenyum. Ia tahu Senja hanya bergurau, namun gurauan gadis itu justru membuat Dirga tertarik untuk menggodanya.
"Punya, " jawabnya lalu tanpa menunggu Senja bertanya "apa" Dirga langsung merogoh saku celananya seolah sedang mengambil sesuatu kemudian mengeluarkan kembali tangannya laku menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk simbol yang menurut orang-orang dari negri ginseng adalah saranghaeyo.
Senja yang sempat mengira Durga akan memberi sesuatu untuknya langsung tertawa begitu tahu kalau yang di beri Dirga hanyalah sebuah simbol. Tawa yang cukup merdu di telinga Dirga yang selalu bisa menenangkan tak peduli swburuk apapun suasana hatinya.
Senja Wulan Samudra, gadis yang cukup polos itu gak cukup mampu menangkap sinyal suka yang sebenarnya di rasa oleh Dirga karena Dirga memang selalu berusaha menyembunyikan di hadapan Senja. Bagi Dirga, cukuplah Senja tahu bahwasanya dia bahagia. Dan tentang segala yang menyesakkan, biarlah Durga sendiri yang menanggungnya.
"Apa ini cukup? " tanya Durga masih dengan jemari yang membentuk simbol saranghaeyo.
"Yah, itu lebih dari segalanya, " jawaban jujur gadis itu yang di barengi dengan senyuman manis membuat Dirga tak bisa menahan diri untuk tak memeluknya. Pria itu mengusap pundak dan Kepala Senja secara bergantian. Sesekali ia bahkan menepuk-nepuk pundak itu.
Awalnya Senja memang tak begitu menyadari apa yang sebenarnya sedang Durga rasa, namun dekepan yang sangat erat dan gerakan tangan Durga yang seolah sedang memberi suport untuk Senja membuat gadis itu akhirnya bisa menerka.
"Ada apa? " tanyanya masih dalam pelukan Dirga.
"Hah? " Dirga yang tidak menyangka kalau Senja mulai merasakan gundah hatinya jadi bingung dengan pertanyaan gadis itu.
"Ada apa? " tanya Senja sekali lagi sambil melepaskan pelukan Dirga.
"Ada apa apanya? "
Senja tersenyum
"Meski aku ini bukan gadis yang pintar, tapi tetap saja aku ini kekasihmu. Tentu aku tahu kalau sekarang suasana hatimu sedang tidak baik-baik saja. "
Sejujurnya sejak awal datang tadi, Senja sudah cukup merasa. Dirga melamun dengan pandangan kosong bahkan sampei tidak sadar kalau Senja sudah datang. Dan pelukan Dirga tadi membuatnya semakin yakin dengan asumsinya.
Namun Dirga tetaplah Dirga, meski sang gadis sudah bisa merasakan gejolak di hatinya, Durga tetap enggan membagi dukanya.
"Siapa bilang, apa wajahku terlihat begitu menyedihkan? "
"Tidak, " Senja menggeleng cepat
"Kau tetap terlihat tampan seperti biasa, hanya saja kau terlihat seperti sedang ada masalah. "
"Kau sudah seperti pakar pembaca ekspresi saja," Mengacak lembut puncak kepala gadis itu.
"Aku tidak apa-apa, hanya yah, sedikit lelah. Mungkin karena terlalu sibuk bekerja. "
Alasan yang cukup masuk akal mengingat dia memang eksekutif muda dengan kesibukan tingkat tinggi.Namun sayangnya Senja tetap tidak mempercayainya.
"Katakan, apa ini soal ibumu. " Mengabaikan alasan Dirga, gadis itu justru kembali bertanya bahkan kali ini dengan tatapan lurus menghujam bola mata Dirga seolah meminta jawaban jujur pria itu.
"Yaah, sampai detik ini ibuku memang masih jadi persoalan rumit untuk hubungan kita. Tapi percayalah, itu sudah tidak lagi menggangguku. Aku sudah memutuskan untuk tidak peduli soal itu. "
Kali ini jawaban Dirga membuat Senja terdiam antara sedih dan juga senang. Tentu saja senang karena itu berarti dia teramat sangat menyayanginya sampai tidak peduli pada penolakan sang ibu, namun juga sedih karena lagi-lagi dia menjadi penyebab renggang nya hubungan antara ibu dan anak.
"Maaf sudah membuat hubunganmu dan ibumu jadi kurang baik. "
"Ck, sudahlah Senja. Jangan membahas soal itu. Biarkan saja ibu dengan pemikirannya. Itu tidak akan berpengaruh untuk kita. " Kembali tangan Dirga terulur mengusap kepala Senja. Entahlah kenapa pria itu suka sekali melakukan hal itu. Sama persis seperti Wulan dulu yang suka sekali mengusap kepala Bayu.
"Oh iya. " Senja mengalihkan pandangannya pada benda persegi kesayangannya itu.
"Rencana tadi memang begitu, tapi tidak jadi. "
"Kenapa? "
"Aku ingin menemanimu saja disini. " Senja menyandarkan kepalanya di pundak Dirga, gadis itu tetap merasa kalau Dirga sedang tidak baik-baik saja.
"Aku tidak apa, Senja ... pergilah kalau memang ingin berselancar. Aku akan menonton dari sini. Lagipula aku juga sudah cukup lama tidak melihat aksimu. "
"Benar tidak apa-apa? "
"Hey kalian, jangan bermesra an di depan umum !"
Sebelum Dirga sempat menjawab, teguran keras datang dari arah samping mereka membuat keduanya serempak menoleh.
Arya Handika, pria berkulit seksi itu tampak berjalan mendekati Senja dan Dirga.
"Setidaknya kasihani lah aku yang tidak punya pasangan ini. " Pria itu tanpa sungkan langsung bergabung dengan keduanya.
Baik Senja ataupun Dirga hanya tersenyum menanggapi rasakan Arya.
"Bagus kau disini Arya, kau bisa menemani Dirga. "
"Memangnya kau mau kemana? " Tentu saja Arya bingung, dia bahkan baru datang, tapi Senja malah mau pergi.
"Berselancar, " jawab singkat gadis itu.
"Ooh," Arya mengangguk-angguk.
"Apa aku mengganggu kalian? " tanya Arya kemudian karena merasa tidak enak hati pada Senja dan Dirga.
"Tidak sama sekali, aku memang ingin berselancar tadi. Tapi tidak enak harus meninggalkan Dirga sendirian. "
"Benar, kan sudah ada Arya disini ... Jadi pergilah berselancar, kami akan menonton dari sini. " Ujar Dirga tanpa bermaksud mengusir Senja. Dia hanya tidak ingin gadis itu terlalu mengkhawatirkan nya. Dan lagi, Dirga juga tidak mau membuat hobi Senja jadi terganggu.
"Baiklah, aku ganti baju dulu. " Senja beranjak sembari membawa papan selancar nya. Sedikit lega karena tidak harus meninggalkan Dirga sendirian seperti orang hilang. Dan soal restu ibunda Dirga yang tadi sempat ia bahas, Senja juga sudah memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Biarlah semua berjalan sesuai alurnya.
"Sepertinya hubungan kalian sudah semakin dekat. Senja juga ku lihat semakin komunikatif sekarang. " Arya membuka obrolan saat Senja sudah benar-benar menjauh.
"Yah seharusnya, "
"Hey kenapa seharusnya, apa ada yang mengganjal hubungan kalian? " kata "seharusnya" dari Dirga tentu menimbulkan tanya bagi Arya.
"Banyak."
"Banyak? " Arya mengulang kalimat itu dengan nada heran.
"Siapa, mantanmu? "
"Yah salah satunya. "
Arya menggelengkan kepalanya tak habis pikir oleh sikap Queen.
"Gadis itu, belum menyerah juga ternyata. " Komentar Arya yang memang tahu betul bagaimana Queen masih membabi buta mengejar Dirga.
"Selain itu siapa lagi? jangan bilang kalau itu orang tuamu." tebak Arya lagi dan lagi-lagi tebakannya benar.
"Yah begitulah. Ibuku mati-matian menentang hubunganku dengan Senja. " Tanpa ragu Dirga menceritakan masalah yang sejak tadi di pendam nya di depan Senja. Dia memang sudah cukup dekat dengan Arya, dan menganggap Arya teman bicara yang cukup baik.
"Alasannya? "
Pertanyaan Arya selanjutnya membuat Dirga sontak menoleh. Otaknya berpikir cepat mencari alasan yang tepat. Tidak mungkin kan ia menceritakan yang sebenarnya soal Senja dan Bayu samudra.
"Soal penampakan dan temepramen Senja, ibuku takut kalau sewaktu-waktu dia akan menyakiti kami. "
Arya menggaruk-garuk kepalanya. Memangnya Senja se mengerikan itu sampai harus melukai Dirga dan Keluarganya.
"Iya aku tahu tampilan Senja memang sedikit aneh, dan dia juga memang cukup temepramen, tapi apa mungkin dia menyakiti kalian? Damn setahuku meskipun Senja mudah sekali marah tapi dia tidak akan begitu kalau tidak ada yang mencari masalah dengannya. " Pemikiran Arya sama persis seperti Dirga. Karena sedikit banyak dia juga tahu soal Senja, meskipun tahu siapa sebenarnya Bayu samudra.
"Aku sudah berusaha meyakinkan ibuku, tapi dia tetap tidak mau mengerti. "
Jawaban Dirga yang di iringi helaan nafas berat membuat tangan Arya sontak langsung bergerak menepuk-nepuk pundak sahabat ataupun sepupunya itu. Cukup iba melihat pria yang biasanya gagah berdiri bak batu karang kini tampak begitu menyedihkan.
Arya tahu meskipun Dirga dulu adalah badboy yang suka sekali berganti wanita, namun pria itu sangatlah menyayangi dan menghormati ibunya. Dan kalau sekarang dia harus berselisih paham dan bahkan menentang kemauan sang ibu, tentu itu bukanlah hal yang mudah bagi Dirga.