
"Dirga, bangun.. " Senja mengguncang badan Dirga yang masih terlena sambil memeluk pinggangnya. Ya keduanya tertidur di sofa hingga tak sadar kalau hari ternyata sudah pagi.
Namun bukannya bangun Dirgantara malah makin mempererat pelukannya.
"Dirga, bangun sayang. Ini sudah pagi. Nanti Nenek dan ibu keburu bangun. apa kata mereka kalau melihat kita tidur berdua begini. " Senja kembali menggoyang pundak Dirga namun tetap tak di indahkan oleh pria itu. Sebenarnya ia mendengar Senja membangunkan nya, tapi entah karena masih mengantuk atau karena terlalu nyaman dengan posisinya sekarang membuat Dirga enggan beranjak.
Tak punya cara lain Senja akhirnya memberanikan diri menggigit telinga Dirga. Berharap gigitannya akan membuat Durga terkejut lalu bangun.
"Aww.. " gigitan Senja tidak terlalu kuat namun memberikan sensasi yang berbeda bagi pria yang masih enggan membuka matanya itu.
"Wah, wah, kau sudah berani sekarang ya?" Usaha Senja berhasil, Dirga mulai membuka matanya meski tetap saja dia belum mau melepaskan pelukannya.
"Ayo cepat bangun. Kalau tidak aku akan menggigitmu lagi. "
"Gigit saja, tapi gigitnya pindah ke bagian bawah yaa. "
"Dirgaaa..!" Merasa ancamannya tidak di hiraukan dan malah di jadikan bahan godaan membuat Senja berteriak kesal.
"Hey kalian sudah bangun? " Suara Senja yang lumayan keras membuat seseorang mendekati mereka. Membuat keduanya yang masih menempel satu sama lain jadi terkejut bukan main.
Dirga yang tadi kekeh tidak mau melepaskan Senja pun spontan menarik tangannya dan langsung beranjak duduk.
"Ibu..?" Senja hampir tak percaya melihat ibunya sudah berdiri di belakang mereka.
"Ibu sudah sehat?" tanya nya heran karena seingatnya tadi malam ibunya masih terbaring lemah. Tapi pagi ini nampak sudah cukup membaik.
"Yah, sudah cukup lumayan ... Ayo cepat bangun. Ibu menunggu kalian di meja makan."
Wanita itu kemudian melangkah meninggalkan keduanya yang masih terheran-heran. Terlebih Dirga, disamping heran ia juga merasa malu karena Wulan melihatnya sedang tidur sambil memeluk Senja.
"Ibumu tahu kita tidur berdua? "
"Tentu saja ! itulah sebabnya sejak tadi aku menyuruhmu bangun. Aku takut ibu bangun terlebih dahulu, dan benar saja kan. Ibuku sudah bangun."
"Iya maaf. Aku kelepasan. Tidur bersamamu membuatnya sangat nyenyak. " Menanggapi omelan Senja, Dirga justru semakin menggodanya membuat gadis itu jadi makin kesal. Tapi apa yang di ucapkan Dirga memang benar adanya. Dia memang merasa tidurnya cukup nyaman malam tadi. Meski di tempat yang cukup sempit dan harus berbagi tempat dengan Senja. Tapi justru itulah yang membuat Dirga nyaman, karena ia jadi puas memeluk Senja semalaman. Dasar Dirga !
"Ck kau ini." Senja melotot kesal.
"Ayo cepat bangun. Jangan sampai ibu kemari lagi. "
"Iya, iya.. " Dengan malas Dirga akhirnya mengikuti langkah Senja menuju kamarnya. Mereka membersihkan diri secara bergantian kemudian sama-sama menuju mekan makan.
Di dapur atau lebih tepatnya di depan meja makan, kedua sejoli itu kembali di kejutkan oleh kehadiran seseorang.
"Ayah..!
" Paman..! "
Kompak keduanya bersuara begitu melihat penampakan Bayu samudra. Makhluk itu ternyata sudah berada di meja makan sambil tersenyum samar menatap keduanya.
"Kalian sudah bangun? " Pertanyaan Bayu sontak membuat keduanya saling pandang. Jangan-jangan Bayu juga melihat mereka tidur berdua. Perasaan was-was itu mendadak merajai pikiran Senja dan Dirga.
"A-Ayah kapan pulang?" tanya Senja tak bisa menutupi kegugupan-nya
"Tadi malam, sekitar tengah malam lebih."
"Hah? "
Jawaban yang makin membuat Dirga dan Senja gugup.
Lewat tengah malam tadi bukannya saat mereka sedang---
"Kemarilah, Nak. Kau tidak ingin memeluk Ayah. Biasanya kalau Ayah pulang kau akan langsung memeluk Ayah. Kenapa sekarang tidak. Apa karena sudah ada orang yang memelukmu?"
"Bukan begitu, Ayah. Aku-aku hanya terkejut karena tiba-tiba Ayah sudah pulang. " Menutupi rasa malunya Senja buru-buru mendekati sang Ayah lalu memeluknya.
Bayu hanya tersenyum melihat kegugupan putrinya dan juga Dirga. Ia balas memeluk Senja dan mengusap-usap punggung gadis itu.
"Ya sudah, duduklah. Ayah akan menemani kalian makan."
Senja menuruti perintah Ayahnya lalu duduk di samping Dirga yang nampak cukup tegang pagi ini. Berbeda sekali dengan wajahnya saat menggoda Senja tadi.
"Eum maaf, Ayah. Kalau ayah pulang tengah malam tadi apa itu berarti Ayah melihat---"
"Yah, Ayah melihat apa yang kalian lakukan. Keterlaluan !" Omel Bayu mengingat apa yang kedua bocah itu lakukan tadi malam.
"Maaf, Ayah. Kami tidak tahu kalau ayah sudah pulang. "
"Iya, Paman. Kami benar-benar minta maaf. Tapi percayalah kami tidak melewati batas. " Dirga ikut menyampaikan permohonan maafnya sambil sedikit menunduk.
"Tentu. Kalau kau berani melewati batas. Aku pastikan kau tidak akan bisa menghirup udara pagi ini. "
"Ayaah.." Rengek Senja mendengar gertakan ayahnya yang terdengar cukup mengintimidasi. Sementara Dirga hanya mampu tersenyum kikuk menanggapi nya.
Gertakan Bayu juga cukup mampu membuat Wulan dan Fatma yang sudah mulai mengunyah makanan nya tersenyum.
Mereka sama sekali tidak marah atas adegan kedua sejoli itu tadi malam. Terlebih Bayu dan Wulan. Mereka cukup bisa memaklumi karena keduanya bahkan melakukan yang lebih parah dulu.
"Ya sudah, ayo makan. Jangan menggoda mereka terus. Lihat lah pipi Senja sudah semerah apa sekarang." Wulan tersenyum memperhatikan putrinya yang tersipu malu.
Senyum yang nampak cukup cerah pagi ini. Tentu saja, belahan jiwanya sudah pulang. Hal itu tentu membuat semangat hidup Wulan jadi kembali berkobar. Meski tetap saja itu tidak sepenuhnya bisa mengobati sakitnya akibat energinya yang makin melemah.
Usai sarapan pagi, Bayu mendudukkan Senja dan Dirga di ruang tengah. Di temani istri tercintanya pria itu mulai menginterogasi keduanya.
"Ayah dengar kalian akan segera menikah, apa itu benar?"
"Benar, Ayah. "
Keduanya mengangguk bersamaan.
"Kapan rencananya? "
Senja menatap Dirga meminta pria itu yang menjawab.
"Persiapan sudah seratus persen rampung, Paman. Hanya tinggal menunggu Paman saja."
Bayu mengangguk-angguk.
"Baiklah, karena sekarang Ayah sudah disini. Jadi sebaiknya segerakan pernikahan kalian. Ayah takut tidak punya banyak waktu."
"Maksud Ayah, Ayah akan pergi lagi?"
Wulan dan Bayu saling pandang lalu kemudian tersenyum.
"Nanti akan kami jelaskan. Sekarang kalian fokus saja untuk pernikahan kalian," Wulan yang menjawab dan langsung di benarkan oleh Bayu dengan anggukan kepala.
"Ayah sudah tidak sabar menuntunmu di altar, Nak ... Berbahagialah untuk pernikahan mu dan jangan memikirkan apa pun."
Baik Senja maupun Dirga merasa kalau ucapan Bayu mengandung banyak makna. Tapi seperti permintaan Ayahnya tadi. Senja tidak boleh memikirkan hal yang nantinya akan merusak kebahagiaan nya. Untuk saat ini dia hanya harus mempersiapkan diri untuk pernikahannya.
"Baik, Ayah. Kami akan secepatnya mengatur waktunya. " Senja bicara sambil menatap Dirga meminta pembenaran dari pria itu.
"Iya, Paman. Paman tenang saja. Biar aku yang mengurus semuanya. "
Kedua pasangan beda alam Bayu dan Wulan mengangguk bebarengan. Mereka sudah sangat respect dan percaya pada Dirgantara. Dan sangat yakin kalau Dirga adalah orang yang tepat untuk putri spesial mereka.