
Dari semalam Raya benar-benar tak bisa tidur dengan nyenyak. Pikiran nya terus terfokus pada masalah yang dialami oleh Daffa. Dari cerita-cerita yang Daffa beri selama ini, ia bisa menyimpulkan bahwa orang tuanya memiliki sifat yang keras dalam mendidik, dan juga harus mendapat apa yang mereka inginkan. Dan Daffa sendiri tak mampu menjadi seperti apa yang mereka inginkan.
Sebelum ia beranjak dari ranjang yang sejak semalam ia tiduri bersama Daffa, Raya mencium kening lelaki yang kini masih tertidur lelap. Setelah itu ia segera menyambar cardigan merah untuk melapisi gaun tidurnya yang tipis.
Didalam kamar mandi, ia mengamati memar di kedua pipinya dari dalam kaca. Sungguh miris, kedua matanya menghitam dan pipinya penuh memar. Bahkan dirinya sudah mirip dengan korban KDRT di televisi.
Ia hanya tersenyum samar dan tak peduli dengan keadaannya saat ini.
Setelah selesai ritual dikamar mandi, ia segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk nya dan juga Daffa.
Dan tak membutuhkan waktu lama sup daging sederhana telah siap disantap di meja makan. Lantas ia segera membangunkan Daffa, karena hari ini dirinya ada kelas pagi.
Ternyata, saat dirinya masuk kedalam kamar, Daffa sudah terbangun dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kamu cepet mandi sana, kan ada kelas pagi," ucapnya dengan senyum manis yang selalu terpancar di bibirnya.
Bukannya menuruti ucapannya, Daffa malah mendekat pada Raya dan memeluk nya.
"Maaf," ucapnya pelan.
Raya tersenyum senang, ia harap Daffa akan melupakan semua masalah dengan orangtuanya dan akan menganggapnya angin lalu seperti biasanya.
Namun ternyata tidak, setelah memeluknya Daffa langsung beranjak begitu saja meninggalkan nya terdiam di tempat. Tak ada senyum hangat bahkan kecupan hangat di kening. Pagi ini, Daffa terasa sangat dingin tak seperti biasanya.
Raya mencoba mengerti keadaan Daffa dan tidak mengganggunya terlebih dahulu. Setelah menyiapkan keperluan Daffa ia juga menemani Daffa sarapan pagi.
Saat di meja makan suasana dingin masih belum juga mencair, Daffa memakan sup kesukaan nya dengan tatapan kosong.
"Aku suapin ya?" Tawar Raya yang sudah gemas dengan tingkah Daffa yang terus memainkan makanan.
Daffa tersadar dan langsung menggeleng pelan, "nggak perlu!"
Tak ada yang bisa Raya perbuat sekarang. Terlihat dari sifat nya yang berubah, Raya menduga pertengkaran nya kali ini lebih dari biasanya.
"Aku berangkat, kamu disini aja nggak usah kemana-mana!" Daffa langsung menyambar ransel hitam di kursi sampingnya dan berlalu begitu sama meninggalkan Raya lagi tanpa senyum hangat.
Setelah kepergian Daffa, tiba-tiba air mata Raya meleleh begitu saja. Selama ini tak pernah sekalipun Daffa mendiamkan nya bahkan berani berbuat kasar.
Oke, itu memang mau nya tapi harapan nya Daffa bisa melupakan semua masalahnya dan kembali seperti semula.
Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, ia mendial nomer Karin dan membiri nya kabar bahwa hari ini dirinya tak bisa masuk.
Ia mengusap air matanya dan berjalan gontai menuju kamarnya.
***
"Ray!" Perlahan Raya membuka matanya saat merasa ada tepukan di pipinya.
"Karin? ngapain kesini?" Raya langsung terduduk sambil mengusap wajahnya pelan.
"Lo baik-baik aja kan Ray?" ucap Karin dengan tampang menyelidik.
Raya berusaha memberikan senyum terbaiknya, dan menggelengkan kepalanya pelan. "Gue baik-baik aja kok, lo sendiri ngapain kesini?"
"Disuruh Daffa."
Raya hanya mengangguk saja dan suasana menjadi hening.
"Lo berantem sama dia?" tanya Karin.
"Enggak kok, gue sama Daffa baik-baik aja."
"Bohong! terus ini pipi lo kenapa, gue nggak suka kalau Daffa main kasar sama lo!" ucap Karin dengan nada sewotnya.
Raya sendiri hanya diam memikirkan jawaban, entah tiba-tiba ia merasa bingung. Kalau ia jujur Karin akan murka pada Daffa dan ia tak mau itu terjadi, karena kondisi Daffa yang kini tengah tidak baik.
"Tuh lo nggak bisa jawab! Ray lo boleh cinta sama Daffa tapi ngga harus kayak gini dong, kalau dikasarin pergi!"
"Daffa cuma butuh gue Rin."
"Gue benci kalau lo udah bucin kayak gini!" Karin memilih merebahkan tubuhnya pada ranjang dan tak memperdulikan Raya yang masih stay dengan senyum palsu nya. Padahal Karin tau, Raya tengah menahan sakit.
Karin hanya menjawab nya dengan anggukan dan memilih memainkan ponsel.
"Daffa baik-baik aja kan?"
"Dia juga bolos tadi, tau tuh kemana!"
"Hah! yang bener lo? yaudah gue mau cari dia." Saat Raya hendak turun dari ranjangnya, Karin langsung menahan tangannya.
"Ngapain sih Ray, udah biarin Daffa nggak bakal hilang!"
"Bukan gitu Rin, keadaan dia lagi kacau gue nggak mau dia aneh-aneh." Kali ini Raya benar-benar khawatir, ia tak mau Daffa berbuat aneh-aneh atau mabuk-mabukan kembali.
Karin hanya bisa menghembuskan nafas berat melihat sahabatnya yang kini sibuk mengganti bajunya dan membenahi penampilan. Raya dan Daffa bisa dikatakan Perfect Couple, 5 tahun pacaran dan tak pernah sekali ada kata putus. Meskipun ia tau gaya pacaran mereka tidak baik, tetapi ia yakin keduanya akan sampai pelaminan nantinya.
"Ayo Rin ikut!" Karin tersadar dari lamunannya saat Raya menarik tangannya untuk keluar kamar.
"Udahlah Ray lo nggak usah alay gini deh, paling juga di kafe."
Raya tak peduli dengan Omelan Karin, ia tetap mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Yang terpenting saat ini adalah keadaan Daffa.
Opsi pertama yang harus Raya tuju adalah kafe. Ia tak peduli dengan kecepatan mobil yang ia kemudikan yang terpenting baginya sekarang adalah bagaimana keadaan Daffa.
Sedangkan Karin hanya bisa menggelengkan kepala jengah melihat tingkah sahabatnya yang terlalu berlebihan. Ia tau dia khawatir tetapi dia juga harus bisa berfikir kalau ini bisa membahayakan dirinya sendiri.
Sesampainya di kafe ternyata Daffa tidak ada dan belum datang ke kafe sama sekali. Raya semakin bingung dan panik sendiri.
"Udah stop Ray! Daffa bukan bocah SD yang bakal hilang gitu aja dia bakal pulang dengan keadaan baik-baik aja." Sentak Karin yang sudah tak tahan dengan sikap Raya.
Saat Raya ingin membalas ucapan Karin, ia sudah ditarik terlebih dahulu kedalam mobil oleh Karin.
"Sekarang lo nurut apa kata gue, kita balik ke apartemen dan istirahat gue nggak mau lo sakit cuma gara-gara cowok brengsek itu!" ucap Karin sembari memasukan paksa Raya kedalam mobil dan menutupnya.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Karin berbuat seperti itu. Meskipun terlihat kasar tetapi ia hanya ingin sahabatnya tidak terlalu berlebihan mengurusi Daffa yang hanya berstatus sebagai pacar nya.
****
Sampai malam tiba Raya belum juga mendapatkan kabar dari Daffa, hati nya resah sekaligus kecewa. Bagaimana tidak, disini dirinya rela menjadi pelampiasan amarahnya namun seperti diacuhkan dan tak dianggap lagi keberadaan nya.
Yang ia butuhkan hanyalah kabar, satu kalimat mungkin sudah bisa menenangkan hatinya yang terus resah karena nya.
Kebanyakan orang mengatakan dirinya terlalu berlebihan, tapi itulah kenyataannya. Ia peduli dan sangat peduli dengan Daffa yang notabennya masih berstatus pacarnya, namun apa boleh buat keduanya memang sudah seperti ini semenjak haus perhatian dari orangtua masing-masing.
"Raya gue sebagai sahabat lo juga ikut sedih lihat lo kayak gini. Ini hanya masalah kecil dari hubungan lo, suatu saat lo bakal dapat ujian lebih dari ini dan siap nggak siap lo akan tetap melewatinya." Karin ikut duduk disamping Raya yang kini tengah berada di balkon kamarnya.
"Bagi lo mungkin ini sepele Rin, karena lo nggak pernah tau rasanya jadi gue!" ucap Raya lirih namun menyiratkan rasa sakit yang tertahan.
"Oke, gue emang nggak tau rasanya tapi gue nggak mau lo terus-terusan seperti ini."
"Gue nggak tau bagaimana nanti kalau sampai Daffa pergi dari hidup gue." Raya menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai sesenggukan sendiri.
Melihat itu Karin merasa tak tega, ia bangkit dan mengambil sesuatu. Setelah mendapat apa yang ia cari ia meletakkan barang itu diatas meja bundar yang menjadi pemisah kursi mereka.
"Ray sekarang lo coba hubungi Daffa sekali lagi, kalau dia nggak angkat kita senang-senang sendiri!"
Raya mengusap wajahnya yang masih berurairan air mata dan memandang Karin tanpa arti.
"Maksud lo apa bawa botol-botol ini?" Tanya Raya.
"Kita mabuk-mabukan sampai pagi biar lo lupa sama Daffa!" Jawabnya dengan nada kesal.
Raya tampak diam setelah itu mengangguk semangat. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak dan mulai menghubungi Daffa. Nomor nya aktif namun tak ada jawaban dari sebrang.
"Nah dia nggak angkat, mending kita pesta berdua kita habisin tuh alkohol milik Daffa." Karin sudah mulai meminum satu gelas kecil untuk pembukaan.
Raya tak menghiraukan ponselnya lagi dan memilih untuk mengikuti Karin. Mungkin dengan cara ini ia bisa sedikit melupakan Daffa.
***
Vote dan komen yang membangun sangat dibutuhkan 😍