
Acara resepsi pernikahan Eshan dan Anita sekarang sedang berlangsung dan dilaksanakan di kediaman Anita.
Selama acara berlangsung, Arya juga Kiana terus saja bersama. Mereka menikmati kebersamaan itu dan untungnya Kinaya tidak sedang bersama mereka, justru malah bersama si pemeran utama di acara saat ini – Eshan dan Anita.
“Beruntung ya Kak, Anita bisa dapet Kak Eshan. Emang dari tampangnya Kak Eshan itu dingin, tapi dalemnya lembut terus romantis. Buktinya demi ngelamar Anita, dia bela-belain belajar nyanyi sama piano. Udah gitu biaya resepsi ini sama tek-tek bengeknya juga ditanggung lagi sama dia sendiri. Cowok yang paling diidamkan para cewek tuh Kak Eshan.” Tutur Kiana dan tersenyum memuji Eshan.
Ngomong panjang, tapi intinya muji suami orang di hadapan suami sendiri. Parah istri gue! Berasa kesindir gue. Arya menggerutu dalam hatinya.
“Terus manfaatnya apa buat kamu bangga-banggain si Eshan itu?”
Kiana tak menjawabnya, justru memutar bola matanya sebal dan mencibir, “dasar gak peka!” Gerutunya.
“Kenapa? Kamu juga mau kayak si Anita? Kalau mau, bilang ke aku. Gak usah kode atau sindir-sindir begini, karena gak semua cowok itu peka atau paham dengan semua kode yang dilakukan ceweknya. Tapi untung kali ini aku jadi cowok peka sama istri aku.” Bangga Arya sambil tersenyum lebar.
Iya kali ini, karena biasanya situ suka gak peka. Bukan makhluk hidup ya Mas? Tanya Kiana.
Kiana menatap Arya kesal, “kamu kenapa jadi ngomelin aku? Bagus deh kalau kamu peka. Lagian gak guna juga ngode kamu tuh.” Ketusnya dan berbalik mengalihkan pandangannya.
Arya mendekati Kiana, lalu berbisik, “selesain dulu skripsi kamu yang baru nyampe bab 3 itu, kalau mau resepsinya cepet terlaksana.”
Kiana semakin dibuat kesal dengan perkataan Arya dan menghentakkan kakinya di atas lantai, “tuh kan... Kamu nyebelin emang. Dasar suami galak!” Umpat Kiana.
“Hey! Kakinya itu bisa diem tidak? Ada anak aku di sana, nanti anaknya kenapa-napa lagi.” Arya menunjuk kaki Kiana yang tadi tidak diam dan lanjut menyentuh bibir perempuan itu dengan jari telunjuknya.
“Terus ini bibir, bisa gak sih dijaga? Sebenernya ini bibir rasanya manis tapi kalau pas ngomong rasanya berubah jadi pedes banget.” Arya tiba-tiba mencium pipi Kiana sambil tersenyum, membuat Kiana menjadi diam bengong.
“Lain kali berhenti ngumpat kayak tadi ya, apalagi di depan suami. Dosa nantinya.” Bisik Arya setelah dia mencium pipinya.
Mereka ada dalam acara itu hingga larut malam, sampai acaranya selesai. Setelahnya, mereka pun langsung pulang ke rumah, waktunya bagi mereka untuk istirahat.
Ketika akan tertidur, ini aneh, tiba-tiba Kiana ingin makan nasi goreng dua porsi dan berbeda rasa, tapi dia juga maunya yang memasak nasi goreng itu adalah Arya, bukan orang lain. Ah pasti ini keinginan bayinya deh, bukan keinginan dianya sendiri.
Sudahlah, karena itu kemauan anaknya, Kiana pun memaksa Arya ya dengan begitu terpaksa laki-laki itu mau memasakannya di saat dia sudah lelah ingin beristirahat.
Lalu sekarang, waktunya Kiana untuk memakan nasi goreng yang dimaunya.
Arya juga Kiana duduk berdampingan. Mereka menatap nasi goreng yang sudah ada di depan matanya.
“Kamu serius mau makan? Itu nasi gorengnya pedes banget lho. Cabe rawitnya aja 20.” Sahut Arya dan menunjuknya.
Kiana menggelengkan kepalanya cepat dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah kiri
juga kanan, “hah? Enggak kok. Aku kan lagi hamil, dan perempuan hamil itu jangan keseringan makan pedes, sedangkan aku kemarin kan makan yang pedes. Jadi, aku maunya kamu yang abisin itu nasgor, ya ya ya...” Kiana memberikan wajah memelasnya pada Arya, “please... Aku sayang kamu suamiku... saranghae.” Jari tangan Kiana membentuk tanda hati ala Korea pada Arya.
“Ki, itu nasgor pedesnya gak tahu diri, kamu bener maksa aku buat makan itu? Kamu gak kasihan gitu sama aku? Gimana kalau udah makan itu aku jadi sakit?”
“Ih...!!! Ini juga bukan mau aku Kak, tapi maunya ini nih. Anak kamu.” Kiana mencondongkan perutnya pada Arya.
“Gak usah bawa anak Kiana! Kalau kamu tahu kamu itu jangan makan pedes, kenapa nyuruh buat bikin yang pedesnya?” Kesal Arya.
Kiana memelaskan wajahnya agar kemauannya itu dituruti, “kok kamu jadi marahin aku sih Kak? Kan aku udah bilang, ini tuh bukan kemauan aku, tapi bayi kamu.” Kiana mengusap perutnya yang sudah mulai membesar.
“Ya sudah iya, aku makan ini.” Ketus Arya mengambil nasi goreng itu.
Kiana memandang Arya takjub dan memegang perutnya.
Tuh sayang lihat, demi kamu, Ayah rela makan pedes, padahal sebenarnya dia itu kurang suka.
Arya begitu ragu untuk memakannya, tapi karena Kiana memaksa jadi terpaksa dia harus makan. Satu suap nasi goreng pedas masuk ke dalam mulutnya. Baru memakan satu suap saja bibir Arya rasanya sudah mulai terbakar, ini gimana kalau semuanya? Ya ampun Kiana, tega sekali dia padanya.
Inginnya Arya memarahi Kiana karena itu, tapi apa daya, istrinya itu sedang hamil, mudah
sekali terbawa perasaan. Pasti kalau Arya sekarang memarahinya, perempuan itu akan menangis langsung.
Begitu cepat, perut Arya langsung bereaksi setelah makanan itu habis dan masuk ke dalam perutnya. Arya memegangi perutnya yang mulas, “duh, perut aku...” Arya merintih kesakitan dan buru-buru pergi ke kamar mandi.
“Eh?! Kak kenapa?” Kiana menyahut pada Arya yang langsung pergi meninggalkannya yang merasa bersalah karena kemauannya itu.
Tatapan Kiana begitu sedih melihat Arya kesakitan dan menyusulnya.
Nak, lain kali kalau mau apa-apa jangan yang kayak begini ya, kasihan Ayah. Kalau kamu mau jahil sama Ayah, mending nanti aja sewaktu kamu sudah lahir ok.
*****
Akhirnya, kelulusan Kiana tiba juga. Kalau bukan karena bantuan Arya yang ternyata menjadi dosen pembimbingnya, Kiana juga tidak akan lulus dengan cepat. Ada enak dan tidaknya Kiana dapat dosen pembimbing seperti suaminya itu.
Tapi kalau dipikir, Kiana lebih mendapatkan tidak enaknya selama dia dibimbing Arya. Kiana terus saja mendapat cercaan pedas dari laki-laki itu, padahal sekarang dia sedang hamil anaknya. Oh apa mungkin laki-laki itu lupa pada anaknya?
Setelah dinyatakan lulus kuliah, Kiana mulai menikmati waktu kesehariannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Memang melelahkan menjadi seorang ibu rumah tangga, tapi dia senang kok karena bisa menghabiskan waktunya yang banyak dengan anak dan suaminya.
Tak hanya itu, di kehamilannya yang kedua ini, Kiana begitu menikmatinya, tidak seperti dulu saat dia hamil Kiana. Perempuan itu terlalu menikmati masa-masa kehamilannya, sampai tidak terasa waktu baginya untuk melahirkan tiba juga.
Sudah selama seharian di rumah sakit, Kiana bersyukur akhirnya persalinannya berjalan dengan lancar. Dia baru saja melahirkan bayinya, bayi yang dia kandung selama 9 bulan ini di perutnya.
Bayi itu lahir dengan sehat dan dia berjenis kelamin laki-laki, sangat tampan dan lagi-lagi anaknya itu kembali mirip dengan Arya daripada Kiana yang selama 9 bulan ini selalu membawanya ke mana-mana.
“Bunda, adik bayi kok mirip sama Ayah sih?!” Celetuk Kinaya sambil memperhatikan bayi baru lahir itu.
Kan Ayah yang nebar benihnya Naya, jadi pantes miripnya sama Ayah juga, Arya ingin sekali berbicara seperti itu, tapi dia takut. Takut terkena marah sang istri kalau dia berbicara kalimat tidak jelas itu pada Kinaya yang masih kecil dan belum mengerti soal ‘menebar benih’.
“Emang kenapa? Gak boleh mukanya mirip Ayah? Kan kalau mirip Ayah, berarti adik bayi itu emang bener anak Ayah.” Sahut Arya tidak mau kalah.
“Boleh sih, tapi Naya maunya adik bayi itu miripnya sama Naya, terus adiknya cewek bukan cowok. Kalau cowok kan gak bisa diajak maen bareng nantinya.”
“Naya kata siapa itu?” Tanya Kiana yang sedang menggendong bayinya.
“Kata temen Naya. Dia bilang gitu.” Balasnya langsung.
“Naya, meskipun dia cowok. Tapi nanti dia yang bakal jagaian kamu dan Bunda, sama halnya kayak Ayah. Dia bisa jadi pengganti Ayah buat kalian. Terus kalau nanti ada cowok yang jahatin kamu, dia yang pertama kali bakal ngehajar para cowok itu.” Kata Arya.
“Ayah kata siapa itu? Ayah jangan bohongin Naya ya.” Kinaya menaruh curiga pada Arya.
“Kata Ayah. Ayah yakin, dia pasti bakal gitu.” Arya meyakini perkataanya.
“Kak, kamu udah kasih nama buat anak kita?” Kiana menyeru mengalihkan pembicaraan mereka.
Arya mengangguk, “udah dong. Masa iya belum. Kasihan kan anak aku kalau belum dikasih nama.”
“Terus namanya apa?” Rasa ingin tahu Kinaya memuncak.
“Rayyan Narendra Hafidz.” Jawab Arya.
“Kok namanya itu sih?! Mukanya udah mirip sama Ayah, masa namanya juga mirip sama nama Ayah sih? Arya ke Rayyan itu mirip Ayah!” Dumel Kinaya.
“Lho kenapa? Yang ngasih nama kan Ayah, jadi gimana Ayah dong. Lagian yang bikin adik bayi juga bukan kamu, tapi Ayah sama Bunda.”
Arya tidak sadar dengan perkataannya yang terlalu berbicara terus terang pada Kinaya tanpa menyaringnya dahulu. Hingga akhirnya dia mendapatkan cubitan langsung di perutnya dari Kiana.
Arya meringis sakit dan menoleh pada Kiana, “aww sakit Ki.” Keluh Arya memegangi perutnya.
“Kamu! Kalau ngomong disaring dulu coba, sadar kan kalau di sini ada anak kecil?” Omel Kiana pelan sambil memelototi Arya.
“Iya iya maaf, tidak sengaja Adinda sayang.” Sesal Arya.
Ya, begitulah kehidupan keluarga kecil itu sekarang. Bukan hanya tawa bahagia yang ada pada mereka, tapi juga keributan. Tapi bukan keributan yang terjadi antara ibu dan anak, melainkan ayah dan anak. Aneh kan? Iya memang aneh. Tapi begitulah kehidupan sehari-hari keluarga kecil itu.