NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Jordan Winhern


Nampaknya Mbak Siti memang pintar sekali berakting. Pasca Mbak Rara pindah dari kamarnya dan lebih memilih untuk tidur di kamar Ratna, Mbak Siti makin gencar mengambil hati Mama. Dia terlihat rajin dan ceria saat bekerja. Wajahnya tidak lagi terlihat aneh dan misterius. Aku memperhatikannya tadi saat di dapur. Mbak Siti yang biasanya pendiam sekarang lebih banyak bicara dengan Mama. Pasti Mbak Rara jadi makin tersudut dengan sikap Mbak Siti yang tenang dan menunjukkan seolah tidak terjadi keanehan apa-apa pada dirinya. Seolah ingin mementahkan apa yang diceritakan Mbak Rara pada Mama tentang ritual aneh yang biasa dia lakukan di kamar setiap tengah malam.


Kuamati Mbak Rara yang jadi makin serba salah melihat perubahan sikap Mbak Siti pada Mama. Aah, aku jadi kasihan pada Mbak Rara. Mama juga sepertinya sudah berhasil "ditaklukkan" Mbak Siti. Mbak Siti mampu memikat hati Mama agar lebih percaya padanya.


Kesibukan mengajar di sekolah dan juga di La Vita membuat waktuku semakin padat. Di sekolah, aku banyak dilibatkan dalam berbagai event kegiatan sekolah, begitu pula juga dengan di La Vita. Jadwal mengajarku full dari jumat sore hingga sabtu. Aku mulai merasa nyaman dan enjoy mengajar di La Vita. Suasananya menyenangkan, rekan-rekan kerja yang asyik dan solid juga tentu saja salary yang menggiurkan.


Hujan belum juga reda. Malah semakin deras. Reda sebentar dan lalu deras lagi. Aku baru saja menuntaskan sesi terakhir mengajarku. Akhirnya selesai juga. Bergegas aku berjalan menuju pantry. Secangkir kopi hitam pasti akan membuatku lebih segar. Saat membuka laci untuk mengambil kopi dan gula, sesorang menepuk pundakku. Aku terkejut, karena tidak kudengar suara langkah kaki seseorang memasuki pantry.


"Belum pulang Bang?" rupanya Si Meener Jordan Winhern. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuatku nampak kerdil di hadapannya.


"Sorry Bang, membuat Abang terkejut. Saya punya Cruisant... Lumayan untuk teman minum kopi," Jordan menyodorkan bungkusan plastik ke arahku berisikan dua potong roti Cruisant.


"Belumlah. Hujan masih deras. Bisa sakit aku kalau nekat pulang."


"Iya juga Bang. Di musim pancaroba seperti ini kita memang harus pandai-pandai menjaga kesehatan. Lengah sedikit saja menjaga kondisi badan, bisa langsung drop," ucap Jordan. Lalu dia mengajakku duduk di beranda pantry yang menghadap ke sisi jalan.


"Kita ngobrol di sini, Bang. Menikmati kopi sambil mendengarkan gemericik hujan merupakan salah satu healing terbaik. Setidaknya menurut versi saya," ujarnya sambil tertawa.


Anak ini asyik juga untuk diajak mengobrol. Selama ini dia memang cukup ramah. Setiap bertemu atau berpapasan denganku di La Vita, dia selalu tersenyum dan menyapaku duluan. Rasa penasaran dan ingin bertanya kembali menggelitik, ingin rasanya segera menanyakan padanya tentang asal usul nama belakangnya? sepertinya saat ini momen yang tepat. Tapi bagaimana cara menanyakannya ya? dan harus mulai dari mana?


Dia bertanya padaku tentang aktivitasku sehari-hari. Aku menceritakan padanya kalau aku adalah seorang pengajar seni musik di salah satu SMA Negeri di Depok. Dia bertanya lagi tentang keseruan mengajar di SMA dan ketika aku menjawab, dia merespon dengan pengalaman-pengalaman serunya saat di SMA dulu. Dia bercerita kalau sudah pindah ke Depok sejak kelas 9. Mengikuti Sang Papa yang bertugas di sini.


"Tapi bahasa Indonesiamu cukup fasih juga ya?"


"Yup. Karena Bahasa Indonesia bukan hal yang asing bagi keluarga kami. Mama saya berasal dari Bandung. Sejak kecil Mama sudah mengajari saya Bahasa Indonesia. Papa juga cukup fasih berbahasa Indonesia, kebetulan leluhur Papa dulu cukup lama tinggal di sini."


"Oh ya, pasti menarik sekali ya mengenang dan mempelajari kembali tentang sejarah leluhur kita," sepertinya aku mulai tertarik untuk mengorek tentang sejarah leluhurnya.


Lalu dia menceritakan tentang keluarganya. Ayahnya adalah seorang Jurnalis di kantor berita internasional yang sudah beberapa tahun terakhir bertugas di negara ini. Ibunya adalah seorang dokter spesialis kulit yang saat ini aktif bekerja di klinik milik keluarga. Sebelumnya ketika masih di Belanda, ibunya bekerja di salah satu rumah sakit. Dia juga menceritakan kalau dia punya seorang kembaran perempuan bernama Josephine yang saat ini sedang kuliah di Utrecht University mengambil jurusan hukum.


"Saya lebih tertarik untuk menekuni musik, Bang. Belum ada minat untuk kuliah," ujarnya santai.


"Kelihatan koq. Permainan musikmu sangat bagus. Benar-benar menjiwai. Terlebih ketika sedang memainkan musik klasik. Luar biasa."


"Saya sudah belajar musik sejak usia 4 tahun. Dan mulai mendalami musik klasik ketika usia 12 tahun. Ada sensasi tersendiri ketika pertama kali bersentuhan dengan musik klasik, dan sejak saat itu saya semakin tertarik untuk mendalaminya."


"Wow, luar biasa. Kenapa tidak ambil kuliah jurusan musik saja kalau begitu?"tanyaku.


"Ingin sih, Bang. Meski orangtua agak sedikit keberatan. Mereka berharap saya bisa melanjutkan pendidikan di bidang lain."


Bersambung.