
"Tapi, Mas Bayu gak menemukan hal-hal yang aneh kan di rumah ini? gak pernah melihat sesuatu kan?"
"Hmmm...Enggak sih. Sejauh ini sih belum pernah. Kamu sendiri gimana?"
"Belum pernah juga sih, Mas." Ratna merasa nyaman tidur di kamar. Cuma pernah ada bau wangi yang enak banget tercium sampai ke kamar." Tapi cuma sekali sih, bau itu muncul."
"Mungkin itu tanda perkenalan dari penghuni tak kasat mata di rumah ini, sekalian dia mau menunjukkan kalau dia juga suka pake parfum kayak kamu, heheheh" Jawabku.
Ratna mendelik lalu mencubitku. Uuh, sakit juga cubitannya. Aku iseng melemparnya dengan kain lap yang biasa aku gunakan untuk membersihkan noda cat.
Ratna balas melemparku dengan sandal yang dipakainya. Aku berlari keluar menuju halaman. Ratna terus mengejarku. Kami seperti anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran.
Tiba-tiba langit mendung. Tanpa berlama-lama, hujan pun turun. Gawat, aku teringat pada lukisanku yang masih tergeletak di halaman samping. Secepat kilat aku berlari menuju halaman samping, tapi lukisan itu tidak ada di sana.
Siapa yang telah iseng memindahkan lukisan itu ya? aku ingat sekali, lukisan itu belum rampung. Dan aku tidak memindahkannya. Lukisan itu masih kutaruh di hamparan rumput di halaman samping.
Hujan semakin deras. Aku semakin basah kuyub. Bergegas aku masuk ke dalam rumah. Barangkali Ratna atau Mama telah memindahkan Lukisan itu.
...****************...
"Dari tadi Mama kan sibuk di dapur, Bay? coba kamu tanya Ratna, siapa tahu dia lihat lukisan kamu." Saran Mama.
Ratna sedang duduk di depan TV sambil bermain dengan ponselnya. Dengan iseng, kurebut ponselnya, membuat matanya mendelik dan siap memukulku.
"Dih, enak aja sembarangan nuduh. Mana Ratna tahu kalau Mas Bayu melukis di teras samping? tadi yang Ratna lihat cuma lukisan-lukisan yang sudah jadi yang ada di ruang tengah. Dari sepulang sekolah tadi, Ratna belum ke halaman samping." Ratna mendengus dengan kesal dan merebut ponselnya kembali.
Kelihatannya Ratna tidak berbohong. Aku kenal betul karakter adikku itu. Dia tipe yang apa adanya.Tidak mudah menyembunyikan sesuatu. Ekspresi wajahnya seolah menyiratkan apa yang ada di hatinya.
Dimana lukisan itu ya? apa tertiup angin ya? aah, masa sih? setahuku tadi siang, angin tidak bertiup kencang. cuaca malah terik sekali.
Aku jadi bete gara-gara lukisan itu hilang. Aku melangkah menuju kamar, berharap dengan merebahkan diri dapat menetralkan perasaan jengkelku.
Di luar hujan makin deras. Percikannya menerpa hampir seluruh jendela kamar. Dan si saat itu, mataku mulai berat Aroma golden rose bercampur bau wangi aneka rupa mulai muncul lagi, dan aku terlelap.
Si Cantik itu muncul lagi. Dia berdiri di dekatku. Aku yang sedang asyik melukis, tiba-tiba dikejutkan oleh kehadirannya. Sepertinya dia ingin mendekatiku untuk berkenalan. Wajahnya tersenyum malu-malu. Ya Tuhan, dia cantik sekali.
Aku bersiap untuk menyapanya dan aaah, seketika aku terbangun... Selalu seperti itu. Saat aku ingin mendekatinya, aku selalu terbangun.
Aroma golden rose itu masih ada. Aneh, aku merasa seperti ada seseorang di kamarku. Seperti ada yang mengawasiku. Pandanganku tertuju pada secarik kertas di atas meja.
Ada tulisan pada kertas itu. Aku bangkit dan mengambil kertas itu. Seketika aku merinding. Kenapa, jadi begini ya? belum pernah aku merasa semerinding ini.
Sorry, ik heb je schilderij verplaats. Ha, ini tulisan berbahasa Belanda. Siapa yang menulis ini. Segera kuraih handphone dan mulai menerjemahkan tulisan itu.
Bersambung.