Noktah Merah

Noktah Merah
Part 58


Siang ini setelah opname beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Razik bisa pulang ke rumah karena dinyatakan sehat. Tentu saja membuat Bila dan Bisma merasa bersyukur dan senang. Akhirnya bisa berkumpul kembali dengan keluarga tercinta.


Bila mengemasi barang-barang yang dibawa. Sementara Razik sendiri digendong ayahnya. Mereka berjalan beriringan keluar dari rumah sakit.


"Razik, mau pulang ke rumah Ayah atau rumah Bunda," tanya Bisma setelah mobil melaju membelah jalanan.


"Ayah sama Bunda," jawab bocah kecil itu lucu. Sontak membuat dua orang dewasa itu melempar pandang.


"Besok pulang ke rumah Ayah dan bundanya ya, hari ini pulang ke rumah Bunda dulu gimana?" ujarnya memberi solusi paling masuk akal.


Bocah itu terdiam, kemudian mengangguk, saat sudah sampai di halaman rumah Bu Rima dan penghuni lainnya menyambut mereka dengan sumringah.


"Cucu Oma yang ganteng akhirnya pulang juga." Perempuan berumur itu langsung menyambut kepulangan mereka dengan menghujani banyak ciuman sayang di pipi cucunya.


Razik tertawa-tawa geli, masih dalam gendongan ayahnya langsung menuju lantai atas. Kamar bundanya Razik. Membaringkan lembut bocah itu lalu menciumnya. Namanya juga anak-anak merasa sudah sehat tentu tak mau diam apalagi menurut di kasur. Anak itu bubar jalan mencari kesibukan dengan mainannya. Mungkin saja anak itu kangen juga setelah beberapa vakum.


"Sayang, nggak boleh mainan jauh-jauh, di kamar aja, Razik masih perlu banyak istirahat!" tegur Bila mengingatkan.


"Aku pulang dulu ya, mau mandi dan yang lainnya. Hubungi aku bila butuh sesuatu," ujar pria itu bangkit dari duduk. Nabila mengangguk.


"Kok mukanya kaya nggak ikhlas gitu aku pulang, sayang banget ya," selorohnya mencoba melempar jokes super garing.


"Apaan sih, sok pulang sana, aku juga pingin mandi dan yang lainnya. Capek!" jawabnya datar.


"Gemes banget kalau jutek gitu, untung belum halal kalau udah pasti aku lahap," selorohnya lagi mrmbuat perempuan itu mendelik.


"Transfer energi dulu dong?" pintanya menaik turunkan alisnya.


"Maksudnya?" Bila mengeryit.


Bisma menempelkan jarinya pada mulutnya, lalu tersenyum nakal dengan kedipan genit.


"Astaghfirullah ... nggak boleh nakal! Cepat pulang sana!" Mulutnya mengusir, namun dalam hati menahan. Dasar, akal dan perasaan mulai tidak singkron.


Satu timpukan bantal Bila lempar menjurus ke tubuh pria itu, namun ....


Bugh


Bantal itu dengan tidak sopannya mendarat ke muka Bunda.


"Eh, Bun, sorry, sorry ... itu tadi mau buat nimpuk ayahnya Razik, ngeselin banget jadi orang," curhatnya mendekati bundanya. Bu Rima sendiri geleng-geleng kepala melihat tingkah mantan pasutri ini.


"Saya mau pulang Bun, tetapi Nabila menahannya, katanya masih kangen," celetuk Bisma yang membuat perempuan itu mendelik garang.


"Bisma, makan siang di sini saja Nak, pulangnya entaran."


"Terima kasih Bun, saya mau mandi dulu, nanti balik lagi aja," ujarnya pamit.


Pria itu pamit pulang, dengan Nabila mengekor di belakangnya. Berniat mengantar sampai depan teras.


"Ayah ....!" Razik berseru sambil belari kecil mendekat. Kedua tangannya sibuk mengenggam robot robotan di tangannya.


"Ikut," kata anak itu bergelut manja Bisma membungkukkan tubuhnya. Menjadikan lutut sebagai alas pijakan. Mensejajarkan tubuhnya dengan putranya.


"Razik mau ikut?" tanya pria itu lembut. Sorot matanya memindai Bila, seakan meminta izin darinya membawa Razik.


"Nanti balikin," ujar perempuan itu mengangguk.


"Siap bos," seru pria itu girang. Razik diangkat kembali dalam gendongan.


"Da da ...." Razik malah melambai ceria. Bila pun tersenyum membalasnya.


Ternyata hingga sore hari pria itu belum kembali membawa Razik.


"Bisma kok lama ya Bun, balikin Razik," curhat perempuan itu mulai cemas. Razik baru saja pulang dari rumah sakit, Bila sudah pasti khawatir.


"Mungkin ketiduran mereka berdua," jawab Bu Rima datar. Bila pun kembali tenang, mencoba berpikir positif. Perempuan itu balik ke kamar, keluar ke arah balkon, berharap bertemu dengan seseorang yang ingin ditemuinya.


Tak ada tanda-tanda kemunculan pria itu, Razik juga tidak kedengaran suaranya. Mungkin benar mereka ketiduran. Atau stay di lantai satu, jadi suaranya otomatis tidak kedengaran. Rasa penasaran membawanya ingin menelpon. Namun, takut malah mengganggu. Alhasil perempuan itu memilih mendatangi rumahnya saja.


"Kok ramai sih," gumam Bila saat melewati pagar menemukan dua mobil lain terparkir di halaman rumah mantan suaminya.


Perempuan itu melepas sendal menuju undakan teras. Langkahnya memelan saat mendengarkan tawa pecah orang lain. Terdengar dengan jelas sedang melewati obrolan di dalam ruangan. Saling bersautan membuat ketukan pintu itu teredam.


Kepalanya melongok ke dalam, keluarga mantan suaminya sedang berkumpul bersama. Ada kedua orang tua Bisma, Bisma dan kedua sahabatnya di sana. Ada satu lagi perempuan yang tak lagi asing di matanya. Perempuan itu tengah memangku Razik yang nampak anteng dengan memainkan lego di tangannya.


Mendadak ia tidak rela, dan ingin menempati posisi itu. Dadanya bergemuruh sesak, melihat mereka bercengkrama ramah dengan keluarga lainnya.


"Kok gini sih, pria emang gitu ya, lain di bibir lain di hati. Baru beberapa jam bermulut manis, sekarang bisa juga bercengkrama manis dengan orang lain," gumamnya kecewa.


Seketika rasa insecure menyapa, dirinya bagai orang asing yang tak diinginkan di sana. Bila urung mengucapkan salam yang kedua. Perempuan itu mundur, dan berbalik badan dengan cepat. Meninggalkan rumah itu tanpa membawa Razik.


"Bila? Kok tidak masuk?" tanya Pandu yang baru pulang dari kerja.


Perempuan itu tidak menjawab, berjalan cepat dengan muka masam.