MY SWEET BABYSITTER

MY SWEET BABYSITTER
Ucapan polos Raisa


Ricko tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Dia sering marah, emosi, bahkan cemburu jika Jasmine di dekati oleh Fadli. Apakah ini bertanda jika dirinya sudah jatuh cinta kepada Jasmine?


Entahlah, sampai saat ini Ricko belum menyadari tentang perasaannya sendiri.


“Daddy, terima kasih sudah membawaku ke Kak Jas,” ucap Raisa ketika mereka sudah kembali dari ruang rawat Jasmine.


“Sama-sama, Sayang,” jawab Ricko seraya menggendong putrinya lalu merebahkan Raisa ke atas tempat tidur pasien dengan penuh hati-hati.


“Dad, pria tadi siapa? Apakah kekasih Kak Jasmine?” tanya Raisa dengan nada lirih.


Ricko menarik selimut untuk menyelimuti setengah badan putrinya, kemudian ia mengusap pipi tirus Raisa, seraya menatap putrinya dengan penuh kelembutan.


“Memangnya kenapa?” tanya Ricko pelan.


“Aku sangat berharap jika Kak Jas akan menjadi Mommy-ku. Maaf, Daddy jika aku berkata seperti ini, tapi menurutku hanya Kak Jas yang pantas menjadi Mommy kami,” jawab Raisa mengeluarkan isi hatinya yang selama ini dia pendam.


Ricko terdiam saat mendengar ucapan Raisa. Perasaan Ricko menjadi merasa bersalah kepada kedua anaknya. Andai kedua anaknya itu tahu jika Jasmine adalah ibu kandung mereka, mungkin Raisa dan Rayan akan membencinya.


“Selain itu Kak Jas juga sudah sangat baik kepadaku, karena sudah mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk menyelamatkan nyawaku,” lanjut Raisa dengan suara yang bergetar menahan tangis. Gadis kecil itu merasa terharu dengan segala tindakan Jasmine yang tanpa pamrih menolongnya dan juga tulus menyayanginya. Tapi ada satu hal yang tidak Raisa tahu yaitu Jasmine adalah ibu kandungnya yang selama ini dia rindukan.


“Maafkan Daddy,” ucap Ricko sembari memeluk dan mencium kening putrinya dengan perasaan bersalah luar biasa.


“Untuk apa Daddy minta maaf? Selama ini Daddy sudah menjadi ayah yang baik untuk kami,” jawab Raisa dengan segala kepolosannya, dan kedua tangan mungilnya itu menangkup wajah ayahnya yang sangat tampan itu serta tatapan matanya menatap ayahnya dengan penuh kelembutan dan kepolosan.


“Daddy belum menjadi ayah yang baik untuk kalian. Daddy masih banyak kekurangan,” jawab Ricko dengan segala kesedihannya.


“Menurut kami, Daddy adalah ayah yang paling sempurna dan hebat di dunia.” Raisa tersenyum sambil memandang ayahnya dengan kedua mata yang berbinar bahagia.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Ricko, tanpa terasa ia meneteskan air mata.


“Ada banyak debu yang masuk ke dalam mata Daddy, he he he.” Ricko segera mengusap air matanya sambil tertawa pelan.


Raisa tersenyum lalu turut ikut mengusap air mata Ricko dengan kedua ibu jari mungilnya.


*


*


“Apakah kamu akan tetap bekerja di sana, Jas?” tanya Fadli kepada Jasmine yang terlihat melamun.


“Heum ... aku akan menyelesaikan kontrak kerjaku terlebih dahulu, Dok,” jawab Jasmine.


“Ada baiknya jika kamu langsung berhenti saja, Jas. Ibu tidak tega melihatmu menderita,” sahut Ratih yang baru memasuki ruangan rawat putrinya itu.


“Bu, aku mohon, biarkan aku tetap bekerja di sana untuk menyelesaikan kontrak kerjaku,” mohon Jasmine kepada ibunya.


“Jasmine, ibu sangat mengkhawatirkan kondisimu,” ucap Ratih pada putrinya yang memohon kepadanya.


“Aku tahu, tapi percayakan kepadaku jika semua akan baik-baik saja, dan aku akan tetap menjaga diri dan kesehatanku.” Jasmine tetap kekeuh pada pendiriannya.


Pada akhirnya dokter Fadli angkat bicara, “kondisimu sangat rentan, Jas. Kamu harus istirahat total, terlebih lagi kamu baru selesai menjalani operasi besar, dan itu sangat berbahaya jika kamu memaksakan diri. Aku akan membantu membicarakan semua ini kepada majikanmu itu.”


***


Jangan lupa dukungannya ya❤