
Wajah Ricko terlihat masam selama di perjalanan dari Lembang menuju di Jakarta.
“Anda baik-baik saja, Pak,” tanya Jasmine yang sejak tadi memperhatikan Ricko dari samping.
“Heemmm!” jawab Ricko singkat, padat dan jelas. Kulkas lima pintu itu masih kesal dengan perkataan Jasmine saat masih berada di Lembang. Gadis itu mengatakan kalau sedang memikirkan pria tampan.
“Kira-kira siapa pria tampan itu?” batin Ricko masih bertanya-tanya.
Mendengar jawaban Ricko yang singkat, Jasmine langsung memalingkan wajahnya, menatap jalanan Kota Jakarta dari kaca jendela mobilnya. Anak-anak pulas tertidur di jok belakang, mungkin saja mereka kelelahan karena perjalanan Lembang ke Jakarta memakan waktu hampir 5 jam karena kemacetan di jalan raya.
*
*
Mobil yang di kendarai Ricko sudah terparkir di halaman rumah mewahnya. Ricko segera memerintahkan dua pelayan untuk memindahkan kedua anaknya yang masih tertidur pulas di mobil menuju kamar mereka.
“Jas! Ikut ke ruanganku!” titah Ricko pada Jasmine yang sedang mengambil beberapa koper dari dalam bagasi mobil.
“Tapi, Pak---”
“SEKARANG!” seru Ricko tidak mau di bantah, kemudian berjalan memasuki rumah menuju ruangannya.
“Ba-baik, Pak,” jawab Jasmine terbata, dia tidak mengerti dengan sikap Ricko yang berubah-ubah seperti bunglon.
Masih mending bunglon kalau berubah warna tubuhnya saja dan masih bisa di lihat, kalau bosnya yang arogan itu ‘kan suasana hatinya yang berubah dan tidak mudah untuk di tebak. Membuat Jasmine harus memanjangkan ususnya alias menyediakan stok sabar yang berlimpah.
Jasmine sudah berada di depan ruangan Ricko, dengan langkah kaki penuh keraguan, ia memasuki ruangan tersebut setelah mengetuk pintu beberapa kali.
“Ada apa, Pak?” tanya Jasmine dengan perasaan takut.
“Duduk!” titah Ricko seraya menatap sofa yang letaknya berseberangan dengannya, dan hanya terhalang meja.
Jasmine mengangguk dan segera mendudukkan diri di sofa yang di tunjuk oleh Ricko. Gadis tersebut merasa canggung, apa lagi saat ini dia di tatap oleh Ricko dengan intens.
“Kenapa tubuhmu tegang seperti itu? Takut?” cibir Ricko dan diangguki oleh Jasmine.
“Cih! Saat di Lembang saja kau berani kepadaku, tapi lihatlah saat ini kau seperti seekor kura-kura yang sangat lambat dan lemah!” Ricko mencibir Jasmine lagi.
Jasmine menghela nafas panjang, lalu kepalanya yang tadinya tertunduk kini perlahan mendongak dan menatap Ricko dengan kesal.
“Bapak memanggilku ke sini hanya ingin mencibirku saja dan mengingatkan kesalahanku?!” tanya Jasmine sedikit kesal.
“Eh, kenapa kau menjadi kesal kepadaku?!” protes Ricko sambil memalingkan wajahnya, rasanya dia tidak tahan melihat wanita yang ada di hadapannya ini cemberut dan terlihat sebal kepadanya. Jasmine sungguh menggemaskan di mata Ricko, tapi sayang sekali gengsi Ricko masih setinggi langit.
“Karena Bapak sangat berbelit!” jawab Jasmine sebal.
“Oke! Kita langsung ke pokok permasalahannya! Aku sebenarnya ingin menanyakan hal ini saat masih berada di Lembang, karena aku tidak ingin merusak liburan anak-anak, maka dari itu aku menahan segala pertanyaan ini!” jawaban Ricko membuat dada Jasmine berdebar tidak karuan, bukan karena ia berharap kalau Ricko mengatakan cinta kepadanya, akan tetapi dia takut kalau di pecat dan tidak bisa mengasuh si kembar lagi.
“Bapak ingin bertanya apa? Bapak tidak akan memecatku ‘kan?" Cerocos Jasmine dengan segala ketakutannya.
***
Mohon maaf, belum bisa update banyak. Di karenakan anak Emak lagi demam tinggi, mohon doanya teman-teman🙏🥺