
Bima menatap Tresi tak percaya. Sementara pertarungan antara Darwin dan Alfonso semakin panas. Darwin terpental, saat Alfonso berhasil memukulnya telak.
"Ayah!" pekik Tresi.
Ia berlari ke arah sang ayah dan memeluknya. Darwin tersenyum menenangkan putri semata wayangnya. Namun, kekhawatiran Tresi tak jua menghilang.
"Ayah tidak apa-apa. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan ayah. Selama anak ayah yang selalu mendukung," ucap darwin seraya tersenyum.
"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Tresi menang mencintai Bima. Tapi, jika takdir tidak bisa menyatukan, Tresi dan Bima tetap akan berpisah dengan cara apa pun," jawab Tresi bijak.
Darwin tersenyum bahagia. "Ayah baru sadar. Putri ayah yang cantik sudah semakin dewasa. Ayah sangat bangga padamu," puji Darwin.
"Ternyata, mantan raja werewolf tak lagi sekuat dulu!" ejek Raja Alfonso.
Darwin terkekeh menatap orang yang kini menggantikan dirinya. "Benarkah? Haruskah ku keluarkan seluruh kemampuan untuk mengalahkanmu? Kau ... bisa menduduki singgasana karena aku yang mundur!"
Semua orang yang mendengar perdebatan itu terkejut. Bukan hanya itu. Tresi pun cukup terkejut mendengarnya. Bisik-bisik pun mulai terdengar di sana.
Dia ... bangsa kami? Masih keturunan Werewolf? batin Bima.
"Ayah ... bohong, 'kan?" tanya Tresi.
Gadis itu terkejut mengetahui kenyataan itu. Selama ini, Darwin memang menyembunyikan identitasnya dari manusia lain.
"Ya, aku memang bisa menduduki jabatan ini, karena dirimu yang lebih memilih manusia yang lemah itu! Bodoh!" umpat Raja Alfonso.
"Kini, anakmu pun jatuh cinta pada putriku yang manusia. Apa aku salah?"
Di telinga Alfonso, pertanyaan Darwin terdengar seperti ejekan. Hal itu semakin menyulut api kemarahan di hati Alfonso. Tanpa aba-aba, Alfonso melayangkan tinjunya pada Darwin.
Secepat kilat, Bima menghadang, hingga tinju itu pun mengenai Bima. Seketika, tubuh Bima limbung dan terjatuh. Tresi berlari dan menangkap tubuh Bima.
"Bima!" panggil Tresi.
Bima membuka matanya dan tersenyum. "Akhirnya, aku bisa melindungi orang yang kucintai," ucapnya lirih.
"Dasar bodoh!" umpat Tresi di tengah tangisnya.
Kemarahan mulai menyulut Darwin. Ia pun memejamkan mata sesaat. Ketika mata itu terbuka, Alfonso bergetar melihatnya.
"Sesuai janjiku, akan kuhancurkan kerajaan ini!" seru Darwin yang terlihat sangat marah.
Tubuh Darwin mulai berubah ke bentuk aslinya. Kemarahan begitu kentara dari raungannya. Melihat itu, Alfonso pun merubah dirinya. Pertarungan antara kedua orang hebat sejagat bangsa serigala pun terjadi. Darwin menghancurkan istana itu. Alfonso yang mencoba menghalanginya pun tak sanggup melawan.
Tresi yang melihat kemarahan sang ayah, tak mampu menghalanginya. Bima mencoba bangkit, tetapi luka di tubuhnya tak bisa ia kendalikan. Membuat Bima kembali limbung dan terjatuh.
"Hentikan!"
Sebuah suara membuat gerakan Darwin terhenti. Semua orang mencari keberadaan suara itu. Seorang gadis cantik muncul secara tiba-tiba. Darwin dan Alfonso yang melihatnya, segera merubah diri mereka ke bentuk semula.
"Tenangkan diri kalian. Aku tahu, sudah waktunya pergantian pemimpin. Bima memang cocok untuk hal itu. Akan tetapi, kalian tidak bisa memaksanya untuk memimpin, bila dia tidak menginginkan jabatan itu." Ia berjalan mendekati Bima.
Sebuah senyum terukir di wajah wanita itu. Tangannya terulur untuk menjamah luka di tubuh Bima. Dalam sekejap, Bima merasa tubuhnya kembali pulih. Bima pun menatap wanita itu heran.
Siapa dia? Kenapa aku merasa familiar dengannya? tanya Bima dalam hati.
"Dan kau Darwin! Tidak seharusnya kau bertindak sejauh ini!"
"Maafkan aku, Dewi," ucap Darwin penuh penyesalan.
"Bima, sejujurnya kau sudah menjadi manusia. Akan tetapi, kekuatanmu tidak hilang sepenuhnya. Dia akan tersegel secara otomatis di dalam tubuhmu. Sama seperti Darwin."
"Karena itu, mutiara dalam tubuhmu tak lagi berfungsi. Itulah sebabnya luka di tubuhmu cukup parah. Sekarang tentukan pilihanmu. Menjadi manusia, atau tetap menjadi bangsa serigala?"
Bima terdiam beberapa saat. "Aku akan tetap menjadi manusia," putus Bima dengan yakin.
Alfonso menatap marah pada Bima. Ia tak bisa menerima hal itu. Dari kejauhan, Bara tersenyum miring mendengar keputusan adiknya.
Wanita itu menganggukkan kepalanya. "Baik. Darwin, kau bertugas membimbing dia," titahnya.
"Baik, Dewi," ucapnya seraya membungkukkan tubuh.
"Untuk kepemimpinan bangsa serigala, aku serahkan pada Bagas," ujar wanita yang Darwin panggil Dewi.
Bagas membulatkan matanya mendengar keputusan itu. Tak percaya dengan apa yang ia dengar. Belum sempat ia bertanya, Dewi sudah beralih pada ayahnya. Sementara Bara, menatap tajam pada Bagas. Ia tidak bisa menerima keputusan itu.
"Dan kau Alfonso, kau akan kehilangan kekuatanmu, karena berani menyakiti manusia." Ia pun mengulurkan tangannya dan menyerap kekuatan Alfonso.
"Ampun, Dewi!" raungnya. Ia merasa kekuatannya terserap dan menghilang.
Sayangnya, Dewi itu tak mendengarkan raungannya. Bara yang melihat kejadian itu, diam-diam berniat meninggalkan istana. Namun, Dewi lebih dulu menghadangnya.
"Kau, yang ingin menghabisi adikmu dan manusia demi ambisimu. Kau akan diasingkan sampai waktu yang tidak dapat ditentukan! Sementara kekuatanmu, akan tersegel sepenuhnya. Jija kau ingin mengembalikan kekuatanmu, hanya dengan satu cara. Merubah sikapmu menjadi lebih baik." titah Dewi.
Bara ingin lari, tetapi tak bisa. Seakan tubuhnya terikat di tempat. Dewi itu pun mulai mengulurkan tangannya dan menyegel kekuatan Bara. Tidak ada yang berani menentang keputusan yang sudah diambil sang Dewi.