
Tresi melihat bayangan dirinya bersama seorang pria. Kejadian itu, berada di rumah yang ia tempati bersama Emi. Pria mengatakan pada sahabatnya, jika Tresi mungkin cocok dengan obat-obatan yang ada di hutan.
Ia pun menatap kepergian mereka. Kemudian, tubuhnya berpindah ke sebuah pondok. Tresi mengerutkan dahinya dalam.
"Bukannya, aku pernah melihat tempat ini bersama Emi beberapa hari lalu?" gumamnya.
Tak lama, ia kembali melihat dirinya sendiri, Emi dan pria itu. Tubuh Tresi diletakkan secara perlahan di atas sebuah dipan. Terlihat, pria itu meminumkan obat pada dirinya. Setelah itu, kembali pria itu mengangkat tubuh Tresi.
Kali ini, Tresi ikut berpindah ke sebuah taman yang sangat cantik. Ia menatap seluruh taman itu dengan seksama.
"Apa ada tempat seperti ini? Kenapa aku bisa mendatangi dan melihat diriku sendiri? Apa ini masa lalu?"
Lagi, Tresi melihat dirinya bersama dengan pria itu. Mereka terlihat menikmati setiap moment yang dilalui. Tresi mencoba mendengar ucapan mereka. Sayang, ia tak bisa mendengarnya.
Gadis itu pun menghela napas berat. Kali ini, ia mencoba memejamkan mata. Memfokuskan diri pada kejadian yang telah berlalu. Perlahan, ia bisa mendengar semua suara dan kejadian yang sudah dilihatnya sejak tadi.
"Bima," ucapnya lirih.
Tresi masih setia menutup matanya. Kenangan kebersamaan mereka kembali terputar dalam ingatannya. Mulai sejak pertama kali mereka bertemu, sampai berpisah.
Tresi sempat terkejut saat melihat Bima merubah dirinya. Namun, kembali ia mengingatkan dirinya, bahwa kejadian yang saat ini sedang dilihat, adalah masa lalu.
Sampai beberapa waktu kemudian, Tresi membuka matanya perlahan. Kali ini, ia berada di kamarnya. Tresi pun mendudukkan diri.
"Namanya Bima. Dia adalah bangsa Werewolf. Kami bersama, karena aku tak sengaja memindahkan mutiara kehidupannya ke dalam tubuhku."
"Sekarang, mutiara itu sudah kembali. Aku tahu, penyebab ingatanku hilang adalah mutiara Bima."
Tresi terus bergumam pada dirinya sendiri. Asyik dengan lamunannya, Tresi tak menyadari, bila Emi sudah masuk.
"Lagi lamunin apa, sih? Serius banget?" tanya Emi.
"Sekarang gue inget semua, Em!" seru Tresi.
Emi menatap mata Tresi. Tidak ada kebohongan di sana. Terlihat berbinar dan yakin. "Serius?"
Tresi menganggukkan kepala.
"Siapa nama cowok yang ada dalam ingatan Lo?" tanya Emi.
"Bima," jawab ya.
"Karena mutiara kehidupan Bima, berpindah padaku."
Emi terperangah mendengar jawaban Tresi. Baginya, ini adalah sebuah keajaiban.
"Siapa Bima yang sebenarnya?"
"Manusia serigala!"
Emi mengangakan mulutnya tak percaya. Bolehkah ia menyimpulkan, bahwa ingatan Tresi telah pulih?
***
Bima sekarang bekerja sebagai pelayan cafe yang tak jauh dari kampus Tresi. Banyak gadis yang datang, hanya untuk sekedar melihat Bima. Hal ini, tentu berdampak positif, pada penghasilan cafe. Pemilik pun, begitu senang dengan kehadiran Bima.
Bagaimana tidak, wajah Bima yang rupawan, pasti akan menarik perhatian para gadis. Belum lagi, sikapnya yang ramah dan sopan. Kabar tentang pelayan cafe tertampan pun, tersebar luas. Bima seakan menjadi icon cafe tersebut.
Berita ini, sampai pada telinga Tresi dan Emi. Kali ini, bukan Tresi yang antusias, melainkan Emi. Gadis itu, mengajak Tresi untuk ke cafe itu.
"Ayo, dong, Tres. Gue 'kan belum punya cowok," ucapnya seraya memanyunkan bibir.
"Hmm. Ya, udah. Ayo!"
Mereka pun pergi menuju cafe tersebut. Emi bahkan sampai menggunakan make up serta pakaian feminim untuk menarik perhatian pelayanan tersebut.
"Kenapa harus pelayan, sih? Bukannya banyak yang suka sama lo?" tanya Tresi
"Tapi mereka gak sesuai sama kriteria gue," jawab Emi.
Tresi hanya bisa menggelengkan kepalanya, saat melihat jawaban Emi. Semakin dekat dengan cafe, Tresi merasa jantungnya semakin berdebar kencang. Kenapa jantung gue, begini?
Langkahnya terhenti, saat melihat seorang pria yang membelakanginya. Waktu seakan berjalan lambat saat itu. Sampai pria itu berbalik, Tresi tak berhenti menatapnya. Mata mereka bertemu.
Rindu yang tersimpan jauh di sudut hati, seakan mulai menunjukkan dirinya. Air mata Tresi, bahkan menetes tanpa sebab.
"Bima!"
"Tresi!" Mereka bergumam bersamaan.